Kisah Beberapa Pendatang Tionghoa Perintis Usaha Perdagangan di Wonosari

oleh -
Perkembangan pertokoan di Jl Sumarwi Wonosari. KH/Kandar
iklan golkar idup fitri

Toko yang menempati salah satu ruko di Jl. Sumarwi kini merupakan penyedia onderdil atau suku cadang mobil serta berbagai kelengkapannya bagi konsumen hampir seluruh wilayah Gunungkidul.

Generasi kaum Tionghoa yang datang masa berikutnya bermunculan menjalankan usaha. Seperti pengakuan Andi, pemilik Toko Terang di Jl KH Agus Salim. Ia datang ke Gunungkidul pada Tahun 1978 yang sebelumnya menetap di Yogyakarta bersama keluarganya, lalu pindah ke Gunungkidul dengan tujuan berwirausaha.

Sebelum memiliki toko yang menyediakan alat kelistrikkan dan elektronik, pertama kali dirinya merupakan pembuat dan penjual bakmi mentah (basah) yang di pasarkan di sekitar Toko Templek (sekarang Pasar Argosari). Setelah lima tahun membuat bakmi mentah (basah) ia memutuskan berhenti, karena kalah dengan pembuat bakmi yang memakai pengawet formalin. (Red; suatu sikap yang baik)

Kemudian Andi berpindah haluan dari usaha membuat bakmi basah. Usaha jasa angkutan dicobanya dengan menggunakan mobil bak terbuka, Andi melayani trayek Wonosari-Yogya dan Wonosari-Semin. 4-5 tahun itupun tutup dan kemudian membuka toko alat listrik yang bertahan hingga sekarang.

“Waktu pertama usaha, saya sewa rumah warga yang masih berdinding bambu. Setelah pukul 15.00 WIB jalanan sudah tidak ada orang lewat. Masih sangat sepi waktu itu,” kenangnya.

Pertokoan pusat perdagangan di Wonosari saat ini memang sudah berkembang pesat, berbeda jauh dengan sepinya suasana aktivitas perdagangan pada 50 tahun yang lalu. Sepinya pertokoan di seputar Wonosari sekitar setengah abad lalu juga dilontarkan Iwan, pemilik UD Bintang. Menurutnya jumlah toko yang ada hanya 25% dari jumlah yang ada sekarang. “Awalnya saya buka usaha foto. Pernah saya tutup dan kembali ke Jakarta karena tidak laku. Baru sekitar Tahun 1991 saya kembali ke sini membuka usaha lagi,” Iwan menambahkan cerita. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar