Ki Ngadeni, Sang Empu Keris dari Gunungkidul

oleh -
Ki Ngadedi dan salah satu keris buatannya. Foto: Stsujoko.
iklan dispar
Ki Ngadedi dan salah satu keris buatannya. Foto: Stsujoko.
Ki Ngadedi dan salah satu keris buatannya. Foto: Stsujoko.

KARANGMOJO, (KH),– Padukuhan Kajar Desa Karang Tengah Kecamatan Wonosari dan Padukuhan Grogol Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo adalah sebuah wilayah di Gunungkidul yang dikenal masyarakat sebagai sentra jual beli besi bekas dan industri pande besi. Wilayah perbatasan dua desa di sebelah utara kota Wonosari ini memproduksi alat-alat pertanian yang sudah tersebar ke berbagai pelosok Nusantara.

Lebih dari 75% penduduk setempat menopangkan hidupnya dari hasil industri pande besi. Bercocok tanam adalah pekerjaan sambilannya. Bahkan wilayah ini juga memiliki sentra industri kerajinan batu putih.

Siapa sangka wilayah yang tergolong pinggiran ini ditinggali oleh seorang tokoh pembuat keris. Empu Ngadeni atau Parto Sentono namanya. Nama yang masuk dalam buku berjudul “Pedekar-Pendekar Besi Nusantara”, sebuah buku kajian antropologi tentang industri pande besi pedesaan di Indonesia. Buku yang dirangkum dari disertasi doktoral Ann Dunham Soetoro, ibunda Presiden Barack Obama.

Empu Ngadeni dari Gunungkidul tercatat dalam sejarah dunia, seiring dengan diakuinya keris sebagai salah satu benda cagar budaya warisan dunia oleh UNESCO. Lelaki sederhana yang mengaku lahir pada tahun 1933 ini tinggal di Padukuhan Grogol II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Keseharian hidupnya dijalani sebagai petani.

Siapa sangka dialah seorang empu pembuat keris di era modern ini. Kemampuan membuat keris yang sudah langka ini beliau dapat dari ayahnya yang bernama Karyo Diwongso. Karyo Diwongso sendiri adalah Empu Tosan Aji khususnya keris dari Padukuhan Kajar yang wafat pada tahun 1990-an.

Pada tahun 1980-an secara khusus, Sri Sultan HB IX mendatangi Karyo Diwongso agar bisa turut dalam Pameran Tosan Aji Internasional di Ambarukmo yang diikuti sebanyak 40 negara. Dibantu Ngadeni muda, Karyo Diwongso menyanggupinya, hingga Ngadeni mendapat nasehat langsung dari HB IX agar meneruskan pekerjaan sebagai pembuat tosan aji khususnya dan pande besi umumnya.

“Saya hanya membuat keris jika dipesan. Saya tidak membuat keris untuk dekorasi. Biarkan keris dekorasi dibuat oleh orang lain saja” demikian pengakuan Ngadeni.

Satu keris dibuatnya dalam waktu satu bulan, tergantung tingkat kesulitannya. Walau pesanan membuat keris tidak seramai dulu, namun setiap tahun beliau masih mendapat pesanan dari Jakarta, Tangerang, Tulungagung, Klaten dan daerah lainnya.

Beberapa keris karya Ngadeni saat ini berada di luar negeri seperti Amerika dan Kanada. Keris yang diberi nama Sri Gunung Mas dan Sri Jagad Mas saat ini berada di Amerika. (Stefanus Sujoko).

Komentar

Komentar