Keterbatasan Fisik Mulyanto Tak Menghalanginya Menjadi Guru

oleh -
Muryanto penyandang difabel tetap gigih berkarya. Foto: Edo
iklan dispar
Muryanto penyandang difabel tetap gigih berkarya. Foto: Edo
Muryanto penyandang difabel tetap gigih berkarya. Foto: Edo

PLAYEN, (KH) – Terlahir dengan keterbatasan kondisi fisik tidak perlu menjadi alasan untuk menjadi pemalas atau menjadi tidak bermanfaat dalam menjalani hidup. Seperti Mulyanto (35), pria kelahiran 7 Maret 1980 di Desa Mojosari Kecamatan Playen, terlahir tunanetra, namun hal itu tidak menghalanginya untuk berprestasi.

Prestasi Mulyanto dalam bidang musik telah mengantarkannya menjadi guru musik pada beberapa Sekolah Luar Biasa di Gunungkidul. Ia saat ini mengajar seni musik di 3 sekolah yaitu SLB Sekar Handayani Panggang, SLB Krida Mulya 2 Karangasem Paliyan, dan SLB Suharjo Putra Ngoro-oro Patuk.

Disela-sela kesibukannya mengajar sebagai guru SLB, ia aktif berkarya menjadi pengisi acara pementasan seni akustik gitar dan juga orkes tunggal pada berbagai acara hajatan.

Di tempat kediamannya di Desa Mojosari, Mulyanto juga membuka jasa les gitar dan keyboard. Biaya untuk mengikuti les privat ini pun cukup murah dengan membayar Rp.5.000,00,- per jam untuk les keyboard, dan untuk les gitar hanya dengan membayar Rp.3.000,00,- per jam.

Kondisi fisik Mulyanto memang kurang sempurna, tetapi semangat dan bakatnya tidak diragukan lagi. Terbukti Mulyanto pernah meraih juara-juara pada saat masih duduk di bangku sekolah hingga sekarang. Prestasi Mulyanto antara lain juara 2 adzan antar SMP tingkat provinsi, juara 1 menyanyi religi antar SMA Umum tingkat Provinsi, dan juara 1 lomba menyanyi keroncong dangdut tingkat kabupaten pada acara Telkomsel pada tahun 2009. (Edo Nurgantoro).

Komentar

Komentar