Kelompok Sari Mulyo Tingkatkan Nilai Jual Biji Kakao Hingga 50 Persen Lebih

oleh -
Camat Patuk, R Haryo Ambar Suwardi menunjukkan produk olahan berbahan kakao dan potensi dari Kecamatan Patuk yang lain. KH
iklan dispar
Camat Patuk, R Haryo Ambar Suwardi menunjukkan produk olahan berbahan kakao dan potensi dari Kecamatan Patuk yang lain. KH
Camat Patuk, R Haryo Ambar Suwardi menunjukkan produk olahan berbahan kakao dan potensi dari Kecamatan Patuk yang lain. KH

PATUK, (KH)— Kelompok Sari Mulyo berhasil mengolah biji kakao menjadi produk coklat batangan. Upaya peningkatan nilai jual potensi lokal masyarakat Padukuhan Gambiran, Desa Bunder, Kecamatan Patuk ini dilakukan oleh petani pembudidaya sejak 2015 lalu.

“Angota kelompok merupakan personal petani pembudidaya kakao sebanyak 68 warga se Padukuhan Gambiran. Dari biji kakao diolah menjadi coklat untuk meningkatkan nilai jual,” kata Paryanto ketua Kelompok Sari Mulyo disela menerima kunjungan rombongan dari Inspektur Jenderal Kemendesa, Sabtu, (10/1/2016)

Ia mengatakan, pemberian nama merek coklat batangan “Gun Kid” sengaja dilakukan dengan tujuan agar branding yang dikenal erat dengan nama Gunungkidul, beberapa varian yang telah dibuat diantaranya coklat pathilo, coklat mete, dan coklat kacang.

Sebelumnya, jelas dia masyarakat menjual biji secara sendiri-sendiri dengan harga Rp. 28  hingga 29 ribu per kilogram. Setelah ada pengolahan ini, kelompok Sari Mulyo membeli biji kakao dari petani budidaya seharga Rp. 35 ribu per kilogram.

“Setelah diolah mengalami peningkatan nilai jual hingga 50 persen lebih, jauh lebih untung meski membutuhkan tenaga operasional serta penambahan bahan tambahan seperti gula, lemak kakao, dan lainnya,” tandas Paryanto.

Dikatakan, saat ini pemasaran produk telah merambah luar DIY bahkan luar Jawa. Dengan dibawa oleh para perantau sebagai oleh-oleh ke perantauan produk coklat sampai di Kalimantan, Makasar dan juga Sumatera. Selain itu juga berkat berbagai pameran yang diikuti coklat Gun Kid mulai dikenal luas.

Sementara itu, disela melihat langsung produk colat kelompok usaha dampingan Bidang Penelitianh dan Pengabdian Masyarakat Universitas Gajah Mada (UGM) ini, Inspektur Jenderal Kemendesa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDT), Drs. Sugito M.Si mengatakan, kegiatan pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat ini dapat dioptimalkan dengan adanya dana desa.

“Kepala Desa dimohon menggunakan Dana Desa yang jumlahnya berkisar sekitar Rp. 600 jutaan melalui perencanaan yang benar-benar melibatkan masyarakat. Tujuannya agar optimal dan sesuai sasaran untuk peningkatan dan pertumbuhan masyarakat desa,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Pembangunan Kawasan Pedesaan, PDT Kementrian Desa, Johozua M Yoltuwu, meminta agar ada upaya peningkatan produksi secara mekanis, sehingga produktivitas lebih bagus dan lebih banyak.

“Dengan begitu pemberdayaan petani anggota ditingkat bawah dapat lebih optimal dan meluas,” pintanya. (Kandar)

Komentar

Komentar