Kampung Pitu (2): Masih Menjaga Tradisi Sampai Kini

oleh -
iklan dispar
7
Sendang Tlogo Mardhido. Foto Hadi Risma

Penulis: Hadi Risma, Penyuluh Budaya Kemendikbud RI

Selain memiliki mitos tujuh KK, Kampung Pitu memiliki tradisi adat yang masih bertahan hingga kini. Tradisi tersebut di antaranya adalah rasulan, tingalan dan bersih makam. Tradisi rasulan bisa dikatakan sama dengan daerah lain di DIY, namun bedanya rasulan di Kampung Pitu dilaksanakan dua kali setahun.

Tradisi selanjutnya adalah tingalan atau ulang tahun. Ulang tahun di Kampung Pitu mirip dengan syukuran, di mana warga yang ulang tahun memotong beberapa ayam, dan mengundang warga lainnya untuk makan bersama. Yang unik di Kampung Pitu, tidak hanya penduduk lokal yang merayakan ulang tahun, binatang peliharaan, seperti sapi dan kerbau pun merayakan ulang tahun.

Tradisi selanjutnya, yakni bersih makam. Acara ini digelar setahun sekali, beberapa hari menjelang puasa Ramadhan. Makam yang dibersihkan adalah makam sesepuh dari Kampung Pitu yakni makam Mbah Ira Dikrama, yang merupakan orang pertama yang membuka lahan dan memulai kehidupan di Kampung Pitu.

Kampung Pitu memiliki pantangan kebudayaan. Setidaknya ada tiga pantangan yang harus dihindari, yakni yang pertama, saat melakukan kesenian wayang kulit, dalang dilarang atau tidak boleh membelakangi Gunung Nglanggeran, Yang kedua, cerita wayang tidak boleh menceritakan tentang hal Ongko Wijaya yang disakiti. Yang ketiga, zona bagian utara Gunung Nglanggeran tidak boleh mengadakan kesenian wayang kulit.

Di Kampung Pitu terdapat sebuah sendang atau mata air yang bernama Tlogo Mardhido / guyangan. Konon mata air di sendang tidak pernah kering, meskipun musim kemarau tiba. Oleh masyarakat sendang ini dijadikan sumber kehidupan dan keperluan sehari-hari, seperti mandi dan konsumsi. Konon sendang ini adalah tempat untuk memandikan jaran sembrani atau kudanya bidadari. Setiap jaran sembrani yang turun dan menginjakkan kaki di batu besar samping tlogo, kaki tersebut membekas di batu; hanya dengan doa tertentu, batu bekas injakan jaran sembrani bisa terlepas sendiri dari batu yang besar.

Pada hari-hari tertentu sendang ini ramai dikunjungi warga. Beberapa warga yang datang umumnya mereka melakukan ritual maupun tirakatan di tempat ini. Sendang ini dipercaya oleh sebagian warga sebagai tempat yang makbul bila kita memiliki keinginan.

—–

Baca artikel sebelumnya: Kampung Pitu (1): Komunitas Adat di Desa Nglanggeran


Komentar

Komentar