Jumadi, Difabel Dari Gedangsari Ini Percaya Diri Ikuti Selesksi Perangkat Desa

oleh -
Jumadi sebelum berangkat mengikuti seleksi perangkat desa di Desa Watugajah, Gegandsari. KH
iklan dispar
Jumadi sebelum berangkat mengikuti seleksi perangkat desa di Desa Watugajah, Gegandsari. KH
Jumadi sebelum berangkat mengikuti seleksi perangkat desa di Desa Watugajah, Gegandsari. KH

GEDANGSARI, (KH)— Luar biasa, ungkapan yang sekiranya pas ditujukan kepada Jumadi, warga padukuhan Jelok RT 03/RW 03, Desa Watugajah Kecamatan Gedangsari Gunungkidul ini, meski sebagai seorang penyandang Disabilitas, ia percaya diri mengikuti seleksi perangkat desa di wilayahnya.

Sebelum mengikuti tes penjaringan seleksi sebagai Kaur Umum pada, Jum’at, (22/7/2016) hari ini, sebelumnya ia telah sibuk mengurus kelengkapan surat lamaran, seperti SKCK, Surat bebas narkoba dan surat keterangan sehat jasmani dan rohani.

Kondisi kedua kakinya yang lumpuh, sehingga aktifitasnya sehari-hari menggunakan kursi roda itu tak menjadi batu sandungan serta menyurutkan niatnya untuk berjuang mengabdi kepada masyarakat. Ia ingin membuktikan bahwa difabel pun mampu untuk berkarya nyata.

“Meski dengan kondisi seperti ini, saya ingin mengabdi kepada masyarakat,” ucapnya optimis.

Mengenai kondisi kedua kakinya yang lumpuh itu, dia berkisah, Saat ia berumur 22 tahun, kejadian pilu terjadi. Sepulang dari mengaji, saat kendaraan roda dua yang dinaikinya melewati sebuah turunan curam, rem mendadak tidak berfungsi (blong), sehingga ia terjatuh ke jurang.

Kecelakaan  menyebabkan saraf tulang belakangnya patah dan berakibat kedua kakinya mengalami kelumpuhan. Saat inilah dimensi ketuhanan diuji, ia menganggap Tuhan seolah tak adil, hari-hari yang dilalui begitu berat, ia tak bisa berjalan lagi seperti sebelumnya.

“Batin saya tergunjang hebat, pernah terlintas difikiran untuk mengakhiri hidup ini, saya mau bunuh diri. Seolah tak ada harapan lagi buat saya,” ungkap Jumadi menunjukkan penyesalan. Bagaimana tidak, Selama 6 tahun ia hanya terbaring di tempat tidur, meski berbagai upaya telah dilakukan untuk kesembuhannya.

Tetapi ia bersyukur mampu melewatinya, atas kesadaran dan bangkitnya percaya diri serta keyakinan bahwa takdir Tuhan yang diberikan harus bisa diterima setiap makhluknya. Hari-hari baru dijalani, semangat tidak menyerah dengan keadaan ini muncul setelah ia bertemu degan teman-teman sesama difabel. Ia kemudian aktif di berbagai aktifitas dan perjuangan difabel bersama Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul (FKDG).

Bahkan Ia kini menjadi motivator bagi difabel di Gunungkidul, melakukan advokasi kepada pemerintah dan penyadaran kepada masyarakat agar difabel mendapat pengakuan yang setara dalam berbagai ruang, wadah, kelompok dan lembaga di masyarakat.

Jumadi tidak muluk-muluk dalam keikutsertaannya dalam proses pemilihan perangkat desa di Watugajah, ia hanya ingin menunjukan bahwa pengabdian kepada bangsa ini bukan hanya terbuka bagi mereka yang dinilai secara fisik sempurna, tetapi mereka yang dianggap tidak sempurna pun mampu memberikan andil, karena perjuangan hakekatnya adalah bersungguh-sungguh berkontribusi terhadap perubahan yang lebih baik.

Melihat kesungguhan Jumadi, Ketua Umum FKDG Gunungkidul, Risma Wira Barata mengaku bangga dengan salah satu anggotanya tersebut. Menurutnya, Jumadi menunjukkan bahwa difabel di Gunungkidul itu mempunyai semangat juang yang tinggi, hal ini dapat menjadi motivasi bagi difabel yang lain.

“Tidak menyerah dalam menjalani hidup ini sehingga keterbatasan bukan halangan demi sebuah cita-cita. Mereka pun dapat bermanfaat untuk orang lain,” ucapnya. (Kandar)

Komentar

Komentar