Jenis desain yang dipesan bervariasi tergantung tema yang diinginkan konsumen. Pesanan datang dari perusahaan clothing, papan skateboard, sticker, emblem, helm dan lain-lain.
Agung enggan menyebut harga desain serta omset bulanan. Dirinya takut dianggap sombong. “Yang jelas jutaan gitu saja, bisa buat biaya hidup dan bayar cicilan bank,” kata Agung kembali terbahak.
Lelaki yang menyukai warna hitam ini melanjutkan, setiap desain pesanan biasa dirampungkan dalam waktu 2 hingga 3 hari terhitung sejak DP atau uang muka dari konsumen masuk.
Agung bekerja memanfaatkan teknologi komputer, gadget dan drawing tablet. Usai desainnya rampung, lantas ia kirim dalam bentuk soft file dalam berbagai format.
Meski berinteraksi dan menjalin komunikasi dengan orang dari berbagai negara, ia tak mengaku kesulitan. Selain sedikit memahami percakapan bahasa Inggris secara sederhana, tak jarang ia memanfaatkan kemudahan google translate.
“Orang luar sangat menghargai sebuah karya, pernah saya dapat penghargaan atau cindera mata dari konsumen,” ucap Agung bangga.

Profesi Graphic Designer dan Ilustrator Sebagai Antitesis Stereotip Sebuah Kesuksesan
Mantap menjalani profesi sebagai Graphic Designer dan Ilustrator tak senyaman profesi orang pada umumnya. Di tengah Agung menekuni profesi itu banyak cemooh berdatangan. Bahkan datang dari keluarga dekat. Terlebih saat Agung tak menamatkan studi di UNY.
“Mau kerja apa? Atau, sudah kuliah kok nggak kelihatan kerja,” begitu Agung menirukan pertanyaan-pertanyaan orang yang enggan ia ladeni. Agung tak mau ribet menjelaskan apa yang dilakukan selama ini.
Beruntung, orang tua kekasihnya tak mempermasalahkan kondisi Agung. Momentum saat ia melamar, calon mertua tak ingin banyak tahu atas pekerjaannya.
Memang, rutinitas yang dijalani Agung berbeda. Kesehariannya tak memiliki aktivitas pulang-pergi berkarir di sebuah perusahaan atau badan usaha. Ia juga tak memiliki bisnis yang secara fisik diketahui. Pandangan-pandangan bagi orang umum bahwa pencapaian atau kesuksesan itu adalah jadi pegawai, bekerja kantoran, status sosialnya tinggi, atau bisnisnya kelihatan, tak tergambar pada diri Agung.
“Kalau ditanya, saya biasa jawab begadang menghadap tembok, gitu saja. Tahu-tahu dibayar Dollar,” Agung kembali berkelakar.
Ia cuek dengan pandangan orang. Ia mengaku nyaman atas pilihannya. Meski mendapat stigma ‘berbeda’, ia yakini nilai-nilai yang ia anut dalam berkarir dan menjalani hidup tidak keliru. (Kandar)





