Iswanto, Kandidat Calon Bupati Aktif Kembangkan Pupuk Organik

oleh -
Iswanto dengan pupuk cair yang dikelolanya. Foto : Juju
iklan dispar
Iswanto dengan pupuk cair yang dikelolanya. Foto : Juju
Iswanto dengan pupuk cair yang dikelolanya. Foto : Juju

PLAYEN, (KH) — Berawal dari mendengar keluhan petani akan sulitnya mendapatkan pupuk, Iswanto warga Piyaman, Wonosari mengembangkan penggunaan pupuk cair organik. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian yang selama ini dinilai belum maksimal.

Iswanto menjelaskan, dirinya pertama kali mendapat ilmu membuat pupuk cair tersebut dari salah satu temanya pensiunan petani dari Jepang. Iswanto mengaku, setelah pupuk cair tersebut diterapkan di petak percontohan (Demplot) dalam sistem pertanian semi organik, padi yang ditanam di Demplot mampu menghasilkan 12 ton gabah setiap hektarnya.

“Pupuk cair yang saya kembangkan ini cukup irit, 1 liternya bisa untuk menyemprot 1,5 hektar sawah. Pupuk ini berfungsi mengaktifkan nutrisi dan memperbaiki nutrisi dalam tanah,” ungkapnya saat ditemui di pusat pembuatan pupuk cair Biofloc di Sumberejo, Ngawun Playen, Rabu (25/3/2015).

Dia menjelaskan, pupuk cair ini dibuat dengan bahan yang mudah dijumpai di sekitar masyarakat. Seperti kencing hewan sapi, kencing kambing, atau kencing kelinci yang difermentasi selama 24 jam dan dicampur dengan tetes tebu, buah-buahan busuk serta biang yang dijadikan sumber mikroba. Setelah dicampur dan ditutup, pupuk tersebut langsung dapat digunakan.

“Satu liter pupuk ini harga produksinya hanya Rp.1000 rupiah. Jadi, cukup terjangkau untuk nilai ekonomis petani,” ungkap pensiunan polisi yang mengaku siap mencalonkan diri dalam ajang pemilihan Bupati Gunungkidul periode 2015-2020 tersebut.

Putra Gunungkidul yang lahir 3 November 1963 ini mengatakan, sistem pertanian di Gunungkidul yang sederhana perlu sebuah terobosan. Dengan demikian, peningkatan hasil pertanian bisa meningkat tajam dan generasi muda akan menyukai pertanian, khususnya di Gunungkidul.

“Alasan saya bergerak mengembangkan pupuk cair, untuk memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Dengan temuan ini harapan saya Gunungkidul kembali subur, masyarakat bisa memanfaatkan limbah yang ada untuk meningkatkan hasil pertanian,” ungkap bapak 4 putra ini.

Selain bagus untuk meningkatkan hasil pertanian, pupuk cair pak Is ini juga mampu meningkatkan hasil panen untuk sayuran terutama cabai. Dengan menggunakan pupuk cair ini, kata Iswanto, petani bisa meningkatkan hasil panen hingga hampir 50 persen.

“Kalau biasanya bisa panen 15 kali, dengan sistem organik yang diterapkan, petani bisa panen 22 kali,” ungkap pria berkumis tebal ini.

Iswanto yakin, jika pendekatan sistem pertanian ini mampu dipahami semua petani, sangat dimungkinkan Gunungkidul menjadi wilayah yang produktivitas pertanian cukup tinggi, sehingga menjadi daerah swasembada pangan yang mandiri. “Jika dipercaya masyarakat, saya sangat ingin memajukan Gunungkidul menjadi sejahtera. Gunungkidul yang sejahtera bersama adalah satu impian saya,” ucapnya.

Sementara, Sumardi salah satu pemakai pupuk cair Pak Is ini mengaku, setelah memakai pupuk tersebut hasil panenya meningkat sekitar 50 persen. “Di atas lahan yang sama dengan panjang 800 meter satu lahan memakai pupuk kimia dan lahan satunya memakai pupuk organik ini. Hasil padi yang didapat dari lahan yang memakai pupuk organik, lebih banyak 6 karung. Pupuk kimia mampu menghasilan padi 10 karung, dan lahan yang memakai pupuk organik menghasilkan 16 karung padi,” ulasnya. (Juju)

Komentar

Komentar