Inilah Beberapa Faktor Penyebab Kematian Bayi dan Ibu Hamil

oleh -
Pembinaan kader kesehatan ibu dan anak. KH/Juju.
iklan dispar
Pembinaan kader kesehatan ibu dan anak. KH/Juju.
Pembinaan kader kesehatan ibu dan anak. KH/Juju.

WONOSARI,(KH)— Kepala Seksi Bina Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Kartini mengatakan, banyaknya kasus kematian ibu hamil di Gunungkidul sebagian besar didasari adanya penyakit penyerta. Sedangkan untuk kematian bayi disebabkan oleh prematur dan asfiksia atau sesak nafas.

“Kematian ibu hamil banyak terjadi bukan masalah kehamilan saja, tetapi banyak didominasi oleh penyakit penyerta,” jelasnya pada kegiatan kader kesehatan, di aula Pemkab Gunungkidul, Senin (27/4/2015).

Dia menjelaskan, penyakit penyerta yang dimaksud di antaranya gagal ginjal, jantung, dan darah tinggi. Akibatnya saat proses persalinan atau masa nivas banyak dari mereka yang meninggal karena penyakit yang diderita kambuh.

“Jadi ibu yang sudah divonis menderita penyakit tersebut sebenarnya tidak dianjurkan untuk hamil. Jika tetap nekad, resikonya sangat berbahaya, dan bisa berujung pada kematian,” ulasnya.

Sementara untuk kematian bayi, lanjut Kartini, masih didominasi kelahiran prematur dan sesak nafas (asfiksia). Kasus prematur banyak ditemui pada ibu hamil muda yang memiliki umur kurang dari 20 tahun.

Selain itu, lanjut Kartini, hamil dengan umur muda, dan hamil dalam posisi umur yang terlalu tua juga salah satu faktor penyebab kematian bayi dan bumil. Hamil dengan jarak terlalu singkat dan terlalu sering hamil juga memiliki potensi yang tinggi pada kematian.

“Hamil terlalu muda tidak baik, hamil pada umur tua juga beresiko, jadi hamil idealnya berumur 20-30 tahun itu lebih aman ungkapnya.

Kartini mengungkapkan, hamil dengan umur muda di Gunungkidl banyak ditemui di pesisir Selatan. Menurut data yang ada dari Kecamatan Tepus hingga Saptosari pernikahan dini masih marak terjadi. Pihaknya berharap, dengan pembentukan kader, diharapkan dapat membantu menurunkan kematian bumil dan bayi.

“Menekan angka kematian bumil dan bayi juga bisa dilakukan dengan memaksimalkan buku KIA, karena seluruh pokok permasalah ibu hamil dan melahirkan datanya semuanya ada dalam buku tersebut,” imbuhnya.

Sementara salah satu bidan pembina wilayah, Desa Sawahan, Ponjong, Shina Ardian Saputri mengaku, 5 kader yang berada di wilayahnya hingga kini masih aktif melaporkan perkembangan setiap ibu hamil dan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah.

“Kita juga selalu mengingatkan bumil untuk merencanakan persalinan, dengan bantuan kader, kita terus mendata ibu hamil baru yang ada di desa,” ucapnya. (Juju).

Komentar

Komentar