Guru Masih Menunggu Buku Paket Kurikulum 2013

oleh -
Ilustrasi, sumber: internet.
iklan dispar
Ilustrasi, sumber: internet.
Ilustrasi, sumber: internet.

WONOSARI, (KH)— Berlakunya kurikulum 2013 pada beberapa SMA di Kabupaten Gunungkidul  pada tahun ini masih meninggalkan ‘pekerjaan rumah’. Pasalnya hingga kini beberapa sekolah belum menerima buku paket mata pelajaran seperti yang dijanjikan pihak Disdikpora Gunungkidul.

Lambatnya pendistribusian buku paket ini bisa dipastikan akan menghambat jalannya pembelajaran karena banyak materi yang mengalami perubahan. Meski begitu pihak sekolah tetap menjalankan kurikulum yang telah berjalan mulai awal pembelajaran di tahun ini.

“Kalau RPP dan silabus sudah punya, tapi untuk buku paket saya belum punya,” jelas Hendy, guru mata pelajaran bahasa Jawa di SMAN 1 Playen.

Keterlambatan distribusi buku paket dirasakan beberapa sekolah diantaranya SMAN 1 Playen dan SMAN 1 Tanjungsari. Sebagian besar buku paket yang hingga kini masih ditunggu pendistribusiannya adalah buku paket pegangan siswa untuk semua mata pelajaran.

Menurut Umi Kuswarjati SPd, Instruktur Kabupaten Kurikulum 2013 yang bertugas sebagai nara sumber bagi guru sasaran di sekolah pelaksana kurikulum 2013 di Gunungkidul menjelaskan, materi sebagian mata pelajaran banyak yang mengalami perubahan dibanding kurikulum 2013 di era masa pemerintahan SBY karena kurikulum yang dijalankan sekarang mengalami beberapa revisi.

“Kalau mata pelajaran Bahasa Inggris materi sama dan tinggal ganti judul saja, tapi yang berbeda jauh pada mata pelajaran matematika dan ekonomi,” terang Umi, Rabu, (3/8/2016)

Salah satu solusi yang dijalankan untuk mengatasi hal ini adalah dengan menggunakan buku paket lama yang dipergunakan pada tahun 2014. Meski ada perbedaan materi, namun masih banyak materi yang memiliki kesamaan dengan materi kurikulum 2013 hasil revisi.

Sementara itu ada beberapa mata pelajaran yang belum bisa dipastikan mendapatkan jatah buku paket dari dinas terkait. Hal ini seperti yang terjadi pada mata pelajaran bahasa Jawa yang memang tidak diajarkan secara nasional. Mata pelajaran ini masuk dalam mata pelajaran muatan lokal wajib berdasarkan peraturan gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. (S. Yanto)

Komentar

Komentar