Berikut 11 Tuntutan Tertulis Mahasiswa STAIYO Ke Kampus

oleh -
Demo mahasiswa STAIYO di halaman kampus. KH
iklan hut ri multazam
Demo mahasiswa STAIYO di halaman kampus. KH
Demo mahasiswa STAIYO Wonosari di halaman kampus. KH

WONOSARI, (KH)— Sesaat setelah melakukan aksi unjuk rasa kepada pihak pengelola lembaga mahasiswa STAIYO yang tergabung kedalam Forum Komunikasi Mahasiswa (FORKOMA) mengadakan pertemuan dengan internal kampus.

Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) yang kebetulan hadir memfasilitasi dialog antara mahasiswa dengan manajemen lembaga. Permintaan yang sampaikan oleh lembaga mengenai tuntutan mahasiswa agar disampaikan secara tertulis langsung disanggupi oleh FORKOMA.

Koordinator aksi, Azis Abdulloh mengutarakan, permohonan tertulis berbentuk Surat Tuntutan telah dipersiapkan bersama 20 pengurus dan anggota FORKOMA lainnya. Isi dari tuntutan tersebut merupakan hasil aspirasi mahasiswa yang menginginkan perbaikan di lembaga STAIYO.

Mengutip surat yang sampai di tangan Ketua Lembaga, Mardiyo, sedikitnya terdapat 11 tuntutan. Berikut rincian tuntutan tersebut:

  1. Penggantian pemangku jabatan Pembantu Ketua Bidang Kurikulum kepada pihak atau staff yang berkompeten dibidangnya.
  2. Penggantian pemangku jabatan Pembantu Ketua Bidang Administrasi kepada pihak atau staff yang berkompeten dibidangnya.
  3. Mendesak jabatan Pembantu Bidang Kemahasiswaan untuk melaksanakan tugasnya.
  4. Menurunkan dan menggantikan dosen dan staff administrasi yang tidak berkompeten dibidangnya.
  5. Perbaikan penyusunan dan p[elaksanaan tugas akhir.
  6. Memaksimalkan fungsi masing-masing kepala program studi.
  7. Penempatan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan sesuai bidang kompetensi dan keahliannya.
  8. Mengembangkan kualitass dosen.
  9. Memperbaiki mekanisme pengangkatan dosen dan pemangku jabatan di STAIYO.
  10. Perbaikan pelayanan administrasi bagi mahasiswa.
  11. Perbaikan sarana dan prasarana kampus yang menunjang proses pembelajaran bagi mahasiswa.

Selain tuntutan tertulis, mahasiswa juga memajang poster berisi kritik yang tidak tertuang dalam Surat Tuntutan, salah satunya menyoroti semakin sedikitnya mahasiswa baru di STAIYO sebagai imbas pengelolaan lembaga yang kurang maksimal.

Menanggapi hal ini Ketua Lembaga, Mardiyo mengaku sudah melakukan banyak upaya, terkait jumlah mahasiswa ia menilai sekolah tinggi swasta di lain tempat mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Lika-liku intern sekolah tinggi untuk mempertahankan eksistensi kampus dianggap sudah maksimal.

“Kita adakan try out, sudah dilakukan pula mengunjungi sekolah SMA/ SMK sederajat untuk sosialisasi,” jelasnya.

Penyebab menurunya jumlah mahasiswa menurutnya merupakan faktor animo masyarakat yang terbentuk secara alami. Penuturan dia, kampus yang pernah memakai nama STITY ini memiliki jumlah mahasiswa hingga ribuan pada tahun pelajaran 2011/2012.

“Setiap wisuda waktu itu mencapai 200-an lebih, semenjak mulai ada sertifikasi, serta kebijakan pemerintah mengenai jam mengajar guru, serta kondisi jumlah guru semakin penuh bahkan berlebih di berbagai lembaga pendidikan membuat minat calon mahasiswa semakin menurun,” papar Mardiyo.

Sekolah Tinggi Fakultas Tarbiyah dengan prodram studi (Prodi) tunggal Pendidikan Agama Islam (PAI) ini kemudian merespon kondisi tersebut dengan membuka jurusan baru. Nampaknya ditahun ke-dua pembukaan jurusan baru belum juga menunjukkan peningkatan jumlah mahasiswa yang signifikan.

“Ada 6 prodi, diantaranya PAI, PBA, AS, PGRA, PGMI, dan Ekonomi Syariah. Hingga gelombang ke-dua ini baru ada 60-an mahasiswa,” tambah dia.

Terkait adanya aksi mahasiswa dengan segera internal STAIYO akan mengambil beberapa langkah, selain mendiskusikan dengan pengurus lembaga pihaknya juga akan mengkomunikasikan dengan Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Swasta.

Sementara itu, Melalui FORKOMA mahasiswa memberikan tenggat waktu maksimal selama tujuh hari sejak disampaikannya Surat Tuntutan, apabila tidak ada jawaban dari pihak lembaga maka aksi penyampaian aspirasi yang kedua akan dilakukan. “apabila tidak ada kebijakan memuaskan, kami gelar lagi,” kata Azis mahasiswa asal Mulusan, Paliyan ini. (Kandar)

Komentar

Komentar