Drama Kolosal Modern Sumantri-Sukrasana Bakal Digelar di Lapangan UGM

oleh -
iklan dispar

YOGYAKARTA, kabarhandayani,– Pertunjukan kolaborasi Drama Kolosal Sumantri-Sukrasana Njemparing Rasa, Menarik Busur Sejarah Membidik Masa Depan akan digelar di Lapangan Grha Sabha Pramana UGM Yogyakarta pada Minggu (12/10) pukul 19.30. Drama ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY yang bekerja sama dengan PKKH UGM (Purnabudaya).
Utami Pratiwi, Humas Panitia Pertunjukan dalam Siaran Pers yang dikirim ke Redaktur KH (1/9/2014) menyatakan, tema yang diusung adalah “Keistimewaan Yogyakarta Sebagai Pijakan Pembangunan Karakter Bangsa”.
Persiapan pentas kolosal telah melalui proses panjang. Penulisan naskah sudah dimulai sejak pertengahan 2013 dengan melibatkan seniman dari berbagai kalangan, di antaranya Whanny Darmawan, Bondan Nusantara, Punthung CM Pudjadi, Indra Tranggono, Susilo Nugroho, Suharno, Faruk HT, dan lain-lainnya. Dengan kolaborasi seniman berbagai disiplin kesenian tersebut telah melahirkan sebuah naskah drama yang menarik yang siap dipentaskan.
Naskah Sumantri-Sukrasana menyajikan sesuatu yang berbeda dari naskah-naskah drama yang pernah ada sebelumnya, yakni terkait lintasan ruang dan waktu. Semua tokoh merefleksikan kehidupan manusia saat ini.
“Waktu disimbolkan dari tokoh Kala. Ruang diwakili oleh Sukrasana, adik Sumantri. Sukrasana mau mengabdi kepada Prabu Arjuna Sasrabahu untuk melawan siapapun agar bisa menyunting Citrawati. Ketika Kala dan Sukrasana sedang berdialog, mereka saling berebut perhatian manusia. Padahal, mereka sama-sama mengikat manusia,” kata Hasta Indriana, salah satu aktor yang terlibat.
“Waktu adalah persoalan yang dihadapi oleh setiap manusia, yang dapat disikapi dengan diam menunggu, atau berbuat sesuatu untuk perubahan.” tambah Anes Prabu Sadjarwo ketika ditemui di sela latihan.
Menurut Anes Prabu Sadjarwo selaku sutradara, drama kolosal ini akan di pentaskan secara outdor dengan menggabungkan beberapa unsur kesenian. Meliputi video multimedia, tari, gamelan, teater, seni tradisi, musik, dan lainnya. Konsep artistik panggung yang akan dipakai adalah background berwarna hijau disertai busur menghadap ke atas dengan kuncup bunga padma.
Dalam hal artistik, kegiatan ini melibatkan penata-penata yang mumpuni sesuai bidangnya, antara lain penata lakon Sugito HS, penata lampu Wahyu Hidayat, penata tari Surono, penata iringan Fajar Tri Sabdono, penata artistik Beni Wardoyo, penata multimedia Syaiful Uyun, dan penata rias Ester Krisnawati.
Proses latihan yang sudah dimulai sejak awal September dilaksanakan di PKKH UGM dengan melibatkan kurang lebih 110 seniman muda Yogyakarta. Di antaranya Ndaru Murtopo, Annisa Hertami, Ahmad Jalidu, Hasta Indriyana, Catur Stanis, Sapta Sutrisno, Mustain, Agustine Pandhuniawati, Febrinawan, Irfanuddien, Windhi, Rendra Bagus, Arif Gogon Kurniawan, Ahmad Hasfi, dan Sandro Sandoro.
“Latihan yang seharusnya hanya 10 kali, ditambah menjadi 25 kali secara intensif demi hasil yang maksimal. Kendalanya karena pertunjukkan ini tidak hanya melibatkan satu kelompok teater, tetapi dari berbagai komunitas sehingga sulit untuk menyamakan waktu ketika latihan karena kesibukan masing-masing,” ujar Anes.
Drama kolosal yang di dukung tidak kurang dari 250 pelaku seni Yogyakarta ini diharapkan dapat menjadi “Pijakan Pembangunan Karakter Bangsa” sehingga melahirkan orang-orang yang tidak hanya menunggu mendapat perintah. Tetapi sanggup melahirkan orang-orang yang bertindak untuk mencapai perubahan. (Berita kiriman: Utami Pratiwi, Rado. Ed: Jjw).

Komentar

Komentar