Disaat yang Lain Berharap Bantuan, Rafiah Memilih Mundur Sebagai Penerima PKH

oleh -
Rafiah berada di kediamannya. (KH/ Edi Padmo)

SAPTOSARI, (KH),– Kebijakan Pemerintah yang mengucurkan berbagai program bantuan sosial mengakibatkan berbagai dampak bagi masyarakat luas.

Banyak yang menganggap program bantuan sangat membantu. Tapi, tidak sedikit ditemui pro dan kontra. Ada pendapat yang menyatakan bahwa berbagai program bantuan dalam bentuk tunai dianggap membentuk masyarakat bermental pengemis serta cenderung pasrah menunggu datangnya bansos.

Persoalan lain yang sering timbul menyangkut protes soal ketepatan sasaran penerima bansos.

Lebih-lebih saat Pandemi Covid19 mulai masuk ke Indonesia. Dampaknya bagi perekonomian dirasakan hampir semua lapisan masyarakat. Pemerintah lantas mengucurkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Penyalurannya di lapangan juga menuai banyak pro dan kontra.

Persoalan semakin kompleks dan berkelindan. Mulai dari kriteria penerima bantuan, basis data yang tidak update serta kecenderungan masyarakat yang mendaku berhak menerima bantuan memicu gejolak. Pemerintah Kalurahan yang menjadi ujung tombak distribusi bantuan dibuat pusing tujuh keliling.

Namun demikian, masih ada warga yang menyikapi persoalan bansos dengan bijak. Bersamaan protes sebagian masyarakat karena tidak turut menerima bantuan, seorang ibu Rumah Tangga di Kapanewon Saptosari dengan kesadaaran sendiri memilih untuk mundur dari haknya sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH).

Adalah Rafi’ah (41), ibu dua anak yang apabila dilihat dari kondisinya masih dapat dikatakan jauh dari kata mampu. Namunnia berani melepas status sebagai anggota PKH.

KH menyempatkan bertandang ke kediamannya di Dusun Karang, Kalurahan Jetis, Kapanewon Saptosari, Minggu (21/3/2021) lalu.

Rumah sederhana yang ditempati keluarga Rafi’ah siang itu tampak agak ramai. Ada beberapa keponakan Rafi’ah yang kebetulan bermain di situ. Rumahnya memiliki ukuran luas 4,5 meter. Bangunan dominan berdinding batako belum melalui tahap finishing atau diperhalus.

Dengan ramah Rafi’ah mempersilahkan KH masuk. Ruang tamu digelar tikar, tanpa meja kursi. Hampir tanpa perabotan apapun. Terdapat sebuah rak kecil, yang di atasnya tampak beberapa piala prestasi dari anak-anak Rafiah.

Perempuan lulusan SD yang berasal dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ini merupakan istri dari Surono, lelaki aseli Gunungkidul. Pasangan suami istri ini dipertemukan saat sama-sama menjadi perantau mengadu nasib di Jakarta. Sejak tahun 2002, mereka memutuskan untuk pulang dan hidup di Gunungkidul. Sembari merawat orang tua Surono yang sudah sepuh.

Saat memutuskan hidup di Gunungkidul, pasangan Rafiah dan Surono sudah mempunyai seorang putra, bernama Abin. Hidup di Gunungkidul, mereka mencoba bertani dengan sepetak tanah pemberian orang tua Surono. Tentu saja hasilnya sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.

Akhirnya terpaksa Surono harus kembali merantau ke Jakarta dan setiap sebulan atau dua bulan sekali pulang ke Gunungkidul. Di Jakarta, Surono bekerja sebagai tukang pasang persewaan tenda.

“Waktu itu, tahun 2008 saya didaftar untuk ikut program PKH. Pada tahun itu, anak saya sudah dua, Abin dan Rasya,” ujar Rafiah menceritakan awal dia ikut menjadi KPM PKH.

Menurut cerita Rafiah, saat itu program PKH sangat dirasakan manfaatnya membantu sekolah kedua anaknya.

“Sangat terbantu, dengan hasil kerja suami yang tidak mesti, dan saya sendiri hanya sebagai ibu rumah tangga, program PKH sangat membantu biaya sekolah anak-anak,” lanjut Rafiah.

Saat ini Abin, anak pertama Rafiah sudah lulus SMK serta sudah bekerja di Yogyakarta. Sementara Rasya adiknya masih sekolah di SMP.

Menurut Bondan Firdausi, pendamping Program PKH Kapanewon Saptosari, sebetulnya untuk kriteria penerima PKH, Rafi’ah masih memenuhi. Karena ada komponen anak sekolah yang harus ditanggung oleh Rafi’ah. Di rumahnya, Rafi’ah juga tidak memiliki aset berharga, baik itu sapi, kambing ataupun sepeda motor.

“Bu Rafi’ah mengajukan diri sukarela untuk mundur. Ya kita sebagai pendamping hanya menfasilitasi,” ujar Bondan.

Hal senada juga disampaikan oleh Hartini, selaku Koordinator Kecamatan (Korcam) pendamping PKH Kapanewon Saptosari.

Hartini menyampaikan, terkait Graduasi mandiri untuk anggota KPM PKH memang menjadi target para pendamping untuk merubah pola pikir KPM .

“Bu Rafi’ah ini merupakan keberhasilan upaya pendamping dalam memotivasi. Sebenarnya secara ekonomi masih jauh dari kata sejahtera, tapi untuk mandiri secara ekonomi Bu rafiah ini sudah sangat siap,” terang Hartini.

Hartini menambahkan, kesiapan Rafi’ah untuk mandiri terkait secara tanggungan tinggal satu anak sekolah. Sedangkan Rafiah dan suami masih tergolong muda serta produktif. Apalagi anak pertamanya telah bekerja turut membantu perekonomian keluarga.

“Seharusnya pola pikir masyarakat seperti beliau. Tidak tergantung pada bantuan, tidak memiskinkan diri, yang penting yakin pasti rejeki tidak akan tertukar. Jadi di sinilah ruh nya PKH. Mendampingi, mengawal keluarga dampingan hingga benar-benar merasa mampu dan mandiri. Bukan dari segi ekonomi saja tapi dari segi mental,” lanjut Hartini panjang lebar.

Pendampingan yang di maksud Hartini yaitu melalui motivasi-motivasi pendamping. Kegiatannya dalam rangka Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2).

“Diharapkan dengan Program PKH, keluarga dampingan akan semakin cerdas dan tangguh,” tandas Hartini.

Untuk keputusan mundur dari kepesertaan PKH, Rafi’ah menyatakan sudah cukup lama mempunyai keinginan itu. Sebelum keputusan diambil terlebih dahulu sudah berembuk dengan suaminya.

“Saat ini saya bekerja sebagai pembantu Rumah Tangga di Wonosari. Alhamdulillah sudah ada hasil. Suami saya walau kerjaannya tidak mesti, tapi juga kadang ada hasil,” terang Rafi’ah.

Menurut Rafi’ah, alasan utama dia mundur dari PKH yakni karena dia dan suaminya sudah mampu membiayai anaknya sekolah. Rafi’ah merasa banyak masyarakat lain yang lebih berhak menerima bantuan PKH.

“Namanya uang, seberapapun kita punya pasti kurang, dan kebutuhan hidup tidak pernah ada cukupnya. Tinggal bagimana kita berusaha, dan mensyukuri apa yang diberikan Tuhan,” ujar Rafi’ah bijak.

Keputusan mundur yang diambil oleh Rafi’ah, menuai berbagai macam tanggapan. Apalagi Rafi’ah selama menjadi KPM PKH, dia menjadi ketua Kelompok penerima PKH Padukuhan Karang yang beranggotakan 21 KK. Banyak yang mengapresiasi positif, tapi tak sedikit yang mencibir sinis. Rafi’ah dianggap sok kaya atau “semugih” bahkan sombong tidak mau menerima bantuan.

“Bukannya saya sok kaya, tapi saya merasa sudah anggota lama, sudah tiba saatnya untuk saya dan suami, tidak menggantungkan rejeki dari bantuan. Masih banyak yang lebih membutuhkan,” lanjut Rafi’ah.

Rafi’ah melanjutkan, mundurnya dia sebagai KPM PKH murni dari inisiatifnya sendiri. Tidak ada tekanan atau disuruh untuk mundur oleh siapapun.

“Banyak penerima PKH yang sebetulnya sudah mampu, tapi banyak masyarakat lain yang tidak mampu dan lebih berhak menerima PKH,” imbuh dia.

Rafi’ah merasa yakin tentang jalan rejeki yang telah diatur oleh Tuhan. Bahkan setelah mundur dari PKH, dia merasa tidak ada perbedaan soal rejeki untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Bagaiamana cara kita menerimanya saja. Sampai detik ini, saya selalu meminta kepada Allah untuk dijauhkan dari sifat iri dengkindan selalu berusaha bersyukur atas apa yang Dia berikan,” Rafiah bersyukur.

Pembawaan perempuan berkerudung cucu salah satu kepala desa di Lombok Tengah ini memang punya karakter tegas dan tidak suka basa-basi. Apa adanya.

“Saya selalu mengajari anak-anak saya agar tidak mengeluh menghadapi keadaan apapun. Mengeluh hanya kepada yang Kuasa, dan yang paling penting, harus senang berbagi dengan sesama, itu yang diajarkan orang tua saya di Lombok,” pungkasnya. [Edi Padmo]

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar