Dinkes Menduga Belasan Siswa Memang Keracunan

oleh -
iklan dispar
WONOSARI,(KH).– Belasan siswa yang diduga mengalami keracunan makanan saat mengikuti Pagelaran Budaya di Sangar Garu Luku Desa Kemadang, Sabtu (25/10/2014) lalu keadaannya semakin membaik.

Kini, dari 13 siswa yang mengalami keracunan, tinggal empat orang yang masih terbaring di Klinik Fortuna Husada dan RS Bethesda Selang Wonosari. Mereka masih mendapatkan perawatan akibat kondisinya cukup parah.

Salah satu siswa Sanggar Sekar Jagad yang mengalami dugaan keracunan, Iswaroh Rahmawati mengatakan, awalnya ia bersama belasan teman lainya mengkonsumsi makanan yang diberikan panitia berupa nasi box yang terdiri dari tongkol goreng, oseng tempe, dan mie.

Malam harinya setelah mereka sampai di rumah, 13 siswa yang mengkonsumsi nasi box tersebut langsung merasa pusing dan mual. Bahkan, 4 orang yakni Ummu Iswaroh Rahmawati, Exson Alvian Susanto, Ayu Rizki Nur Afifah serta David harus mendapat perawatan intensif.

“Kita makan nasi box yang diberikan oleh panitia saat lomba Gelar Budaya antar sanggar dan forum anak se-Gunungkidul. Usai makan memang tidak apa-apa, tetapi malamya pusing dan mual,” kata Iswaroh Rahmawati saat ditemui di Klinik Fortuna Husada, Grogol 1 Bejiharjo Karangmojo, Rabu (29/10/2014).

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Sanggar Sekar Jagad Sujarwo mengatakan, rasa pusing dan mual hanya dirasakan pada siswanya yang saat itu makan nasi box, 2 siswa yang tidak makan mengaku tidak merasakan pusing dan mual.

“Kebetulan yang tidak menyantap tidak apa-apa, kondisi mereka sehat-sehat saja,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sumitro menegaskan, berdasarkan investigasi yang dilakukan, kuat dugaan sakit yang dialami puluhan siswa tersebut akibat keracunan.

Melihat dari ciri-ciri penyakit yang diderita para siswa seperti mual dan pusing, diduga 13 belas anak Sanggar Sekar Jagad tersebut memang mengalami keracunan. “Jika diliat dari gejala klinisnya,diduga kuat mereka keracunan,” ungkapnya.

Namun untuk melakukan investigasi lebih lanjut Dinas Kesehatan Gunungkidul mengaku kesulitan, sebab contoh makanan yang dikonsumi para siswa sudah tidak ada. “Karena tidak bisa mengambil contoh, kita tidak bisa menentukan apakah bakteri atau virus yang terkandung dalam makanan tersebut,” pungkasnya. (Juju/Bara).

Komentar

Komentar