Dilema yang Dihadapi Petani Srikaya di Tepus

oleh -
iklan dispar

TEPUS,(KH).— Petani srikaya mengeluhkan kendala pemasaran buah srikaya yang mereka hasilkan. Karena tak jarang mereka justru merugi saat menjual buah tersebut.

Masyarakat hanya mengandalkan adanya hari pasaran Pon sebagai sumber pendapatan utama dalam menjual hasil pertanian mereka. Oleh karena itu rentang waktu 5 hari membuat sejumlah masyarakat yang mempunyai pekerjaan sebagai pedagang sayur dan buah-buahan merasakan kendala tersendiri.

Sudarman, seorang petani srikaya asal padukuhan Jati Purwodadi Tepus mengaku, ia kadang justru merugi saat hasil kebunnya dijual hanya pada pasaran Pon. “Ya kadang srikaya yang kami petik sudah matang duluan sebelum dijual di pasar Pon sehingga tidak terjual karena terlalu matang,” ungkapnya.

Sudarman menjelaskan, ia harus menunggu 5 hari untuk bisa kembali menjual srikaya tersebut. Buah srikaya yang terlalu matang juga dirasa riskan untuk dibawa, karena sifat srikaya yang lunak jika terlalu matang maka mudah hancur. “Kadang memetik srikaya yang belum begitu tua, akibatnya saat hendak dijual buah tersebut belum matang,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan jika harus menjual ke pasar besar seperti pasar Argosari Wonosari ia merasa rugi karena jarak tempuh yang lumayan jauh. “Dulu pernah dicoba, tapi malah rugi tenaga karena hasilnya habis di ongkos,” ujar bapak dua orang anak tersebut.

Sudarman sendiri menjual srikaya hasil perkebunannya seharga Rp 3.000 – 5.000 per kg tergantung musim. “Saat musim kemarau seperti ini harganya Rp 5.000 per kilogramnya, namun ketika musim penghujan harganya Rp 3000,” imbuhnya.

Ia berharap agar pemerintah dapat memberikan solusi untuk petani srikaya yang hanya bisa menjual pada pasaran Pon. “Semoga suara kami terdengar oleh pemerintah agar petani srikaya tidak mengalami kerugian,” tandasnya. (Atmaja/Bara).

Komentar

Komentar