Dari Manajer Produksi, Yuni Beralih Pilih Menjadi Bakul Jamu

oleh -
Sri Wahyuni dengan jamu produksinya. Foto: Gemma.
iklan dispar
Sri Wahyuni dengan jamu produksinya. Foto: Gemma.
Sri Wahyuni dengan jamu produksinya. Foto: Gemma.

WONOSARI,(KH),– Memiliki pekerjaan sebagai kepala produksi di sebuah perusahaan mapan merupakan suatu jabatan yang terpandang, karena mampu memegang kendali produksi dan diberi tanggungjawab atas seluruh kegiatan produksi. Apalagi di suatu perusahaan ternama di Yogyakarta. Namun siapa sangka, jabatan tinggi tersebut ditinggalkan oleh seorang Yuni, yang kemudian memilih jalan hidupnya menjadi “Bakul Jamu”.

Berawal saat masih duduk di bangku kuliah, Sri Wahyuni, yang kerap disapa Yuni ingin mencari tambahan uang saku untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Kondisi orangtuanya seorang guru yang memiliki gaji di bawah Rp 1 juta, dan harus membiayai 3 anak-anaknya yang kuliah secara bersamaan, membuat Yuni berpikir mencari solusi. Dari situlah Yuni mulai mencari pekerjaan sambilan.

Meski masih kuliah, ia telah memulai kariernya dengan menjadi staf di bagian produksi perusahaan jamu ternama di Yogyakarta. Kemudian setelah lulus kuliah, masih di tempat yang sama Yuni diangkat dengan posisi yang baru, yaitu sebagai Kepala Produksi.

“Meski dulu juga sempat ditawari di perusahaan lain, karena sudah suka jamu, ya bertahan disitu. Posisi terakhir menjadi Kepala Produksi yang membawahi 40 orang karyawan.” ungkap ibu dua anak ini.

Setelah memiliki karir yang cukup mapan selama kurang lebih 13 tahun, Yuni memutuskan untuk menanggalkan pekerjaannya.  Ia memandang, ada kepentingan keluarga yang mengetuk hatinya untuk lebih fokus mengurus anak-anaknya.

“Karena ada kepentingan keluarga, maka saya harus memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Akhirnya saya keluar dari perusahaan tersebut pada tahun 2013,” ungkapnya

Sewaktu masih menjadi wanita karir, Yuni yang berlatar belakang Sarjana Sains Biologi UGM ini mengaku sudah mulai berinovasi membuat jamu instan sejak masih bekerja di perusahaan. Kemudian, ia mulai menekuni kegemarannya meracik jamu tersebut sejak ia memutuskan berhenti kerja di perusahaan.

“Pada awalnya, 100 hari benar-benar murni jadi ibu rumah tangga, sebelumnya sibuk dengan urusan perusahaan, berangkat pagi pulang sore. Kemudian setelah 100 hari tersebut, mulai buka toko lagi sambil buat minuman botol kunir asem, beras kencur, dan habis, setiap bikin habis. Kemudian ada yang minta, lha kenapa kok gak coba buat yang instan. Tapi sebelum itu meramu jamu godhog dulu, kemudian buat instan,” paparnya.

Rumah produksi jamu Yuni dengan merek “Yuniari” saat ini berada di Desa Wareng Wonosari. Produk yang telah diproduksi antara lain aneka jamu godhog (Asam Urat, Kolesterol, Darah Tinggi, Diabetes, Jamu Pegel Linu). Untuk jamu instan ada 13 item, yaitu: manggis, bandrex, jahe merah, sari jahe, sirsak, sari rapet, secang, beras kencur, kunir asem, fit slim. Kemudian produk unggulan instan tanpa gula adalah Curminoid (Sari Temulawak) dan Nonifit (Mengkudu).

Kini dengan jamu instannya, sejak awal 2014 lalu, Yuni telah mempekerjakan 3 karyawan (di luar marketing) dan telah bisa menggaji dirinya sendiri sebesar 2 juta per bulan.

Ditanya soal bagaimana rasanya dari wanita karir menjadi seorang pengusaha jamu, ia mengaku memang sangat berbeda rasanya. Ia bersyukur bisa bermanfaat untuk orang-orang disekitarnya.

“Sangat berbeda, semboyan saya dari awal bisa bermanfaat untuk orang lain. Orang yang meminum jamu itu pasti punya keluhan, dan orang yang punya keluhan itu pasti sedih rasanya. Nah, saya ingin memberikan satu pencerahan cahaya dan membahagiakan orang lain entah nasehat, entah jamu saya, seperti itu. Tapi satu, yang menyembuhkan selalu saya tekankan kepada seluruh pasien bahwa yang menyembuhkan itu Allah. Ini hanya sarana.” pungkasnya. (Gemma).

Komentar

Komentar