Dampak Lanina: Lahan Pertanian Berisiko Tergenang

oleh -
Lahan pertanian di Gunungkidul. KH/ Kandar
kadhung tresno

WONOSARI, (KH),– Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam periode Oktober sampai Januari 2021 diperkirakan curah hujan mengalami kenaikan hingga lebih dari 40 % dari hujan normal akibat anomali iklim Lanina.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Ir. Bambang Wisnu Broto mengaku menyiapkan sejumlah antisipasi dampak Lanina bagi terhadap sektor pertanian dan peternakan.

Dalam pembahasan rapat belum lama ini, DPP mengeluarkan surat edaran berupa imbauan bagi petani dan masyarakat umum. Melalui surat edaran/SE Kadis nomor 521/1457, tanggal 2 November 2020 DPP menghimbau seluruh petani di Gunungkidul untuk melakukan sejumlah antisipasi.

“Mewaspadai lokasi lahan yang biasanya tergenang akibat curah hujan tinggi, segera melakukan langkah antisipasi banjir dengan membuat saluran drainase di lahan-lahan yang belum ada saluran pembuangan air hujan,” imbau Bambang Wisnu Broto, Rabu (11/11/2020).

Bahkan jika diperlukan petani agar memanfaatkan alat mesin pertanian pompa air untuk penyedotan dan pembuangan air jika terjadi genangan di lahan. Petani juga tidak boleh lengah dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap hama penyakit tanaman seperti wereng coklat pada padi (WBC); hama hawar daun bakteri/kresek dan lainnya.

“Selalu berkoordinasi dengan petugas pertanian kapanewon/penyuluh pertanian lapangan/ petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) setempat,” pinta dia.

UPT Puskeswan sebagai salah satu bagian besar Dinas Pertanian dan Pangan ikut serta mensosialisasikan SE tersebut dengan memberi informasi yang akurat kepada masyarakat petani peternak. Iklim La Nina yang diprediksi akan terjadi, juga mengkhawatirkan banyak timbulnya penyakit pada hewan ternak seperti BEF (Bovine Ephemeral Fever), Diare, Myasis, Metabolic dissorder, gangguan reproduksi sapi dan lain sebagainya.

Sektor perunggasan juga dikhawatirkan akan terpengaruh dilihat dari jumlah produksi telur, sehingga diperlukannya booster multivitamin pada program kesehatan unggas khususnya layer (petelur) secara terprogram dan berkesinambungan. Di sektor unggas komersial dikhawatirkan akan muncul beberapa penyakit respiratorik seperti CRD (Chronic Respiratory Desease) yang akan sangat mengganggu kualitas dan kuantitas produksi daging ayam karena tingkat depresi yang tinggi. Beberapa penyakit pada hewan yang mungkin akan terjadi akan selalu menjadi perhatian UPT Puskeswan, sehingga akan mempermudah dalam analisa antisipasi menghadapi dampak perubahan iklim yang ekstrim. (Kandar)

Komentar

Komentar