Batik Gedangsari Naik Panggung Catwalk

oleh -
iklan dispar

YOGYAKARTA, kabarhandayani,– Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa busana batik yang dikenakan para model cantik di event Jogja Fashion Week itu made in Gedangsari Gunungkidul. Gelar fashion show berskala nasional di Jogja Expo Center pada Rabu sore tadi (18/6/2014).

\r\n

Selama ini sebagian besar masyarakat Gunungkidul masih sering dicap sebagai orang pelosok gunung. Mereka dianggap tidak memiliki ketrampilan berarti, berada pada roda perekonomian paling bawah, dan bergerak lambat karena keterbatasan SDM, sarana dan prasarana hidupnya.

Namun, event Jogja Fashion Week yang memukau para penikmat busana tersebut telah mampu mengubah persepsi tersebut. Dari wilayah pelosok Gunungkidul, terlahir tangan-tangan kreatif yang mampu memproduksi dan menciptakan baju batik yang istimewa, sehingga hasil karya tersebut tersebut layak diikutsertakan dalam pertujukkan pada peragaan busana skala nasional tersebut.

Di tengah megahnya suasana gelaran fashion show tersebut, nampak belasan peragawati nasional berlenggak-lenggok di atas catwalk dengan mengenakan baju yang bermotif batik dengan model yang unik dan fashionable. Baju yang dikenakan para gadis cantik tersebut ternyata adalah hasil karya dari para siswa SMKN 2 Gedangsari Gunungkidul.

Arietta Adrianti Ketua Yayasan Pendidikan Astra – Michael D Ruslim (YPA-MDR) yang menjadi mitra pembina SMK tersebut menjelaskan, keikutsertaan para siswa ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman kepada siswa untuk terlibat dalam manajemen produksi dan manajemen pertujukan pada peragaan busana tersebut.

“Tujuan awal kami mengikutsertakan anak-anak dalam JFW ini adalah untuk memberikan wawasan yang nyata kepada siswa tentang dunia tata busana. Mulai dari proses awal hingga menjadi sebuah produk yang siap dipakai dan dipasarkan, dengan harapan dapat memberikan semangat juang untuk masa depan mereka kelak,” jelasnya.

Ninik Maharani, desainer busana yang diperagakan tersebut dan yang juga sebagai pembina dan pembimbing guru dan siswa di sekolah tersebut menjelaskan, peragaan busana yang bertajuk “Langkah-Langkah” ini dimaksudkan bahwa setiap individu mempunyai step atau langkah untuk menuju satu titik atau tujuan tertentu.

“Dengan ini maka diharapkan mampu menanam rasa kecintaan terhadap budaya khususnya batik, karena kain batik merupakan seni tradisional Indonesia. Selain itu, diharapkan nantinya akan muncul deisainer-desainer handal dari mereka. Tujuan akhirnya adalah menanamkan kepada siswa agar cinta pada daerahnya sendiri dan mampu mengembangkannya,” jelasnya.

Menurut Ninik, banyak potensi lokal berupa life skill masyarakat yang dapat digali dan dikembangkan di wilayah pelosok seperti di Kecamatan Gedangsari Gunungkidul. “Life skill mereka adalah membatik. Kain batik yang dianggap biasa ini ketika diolah dengan sepenuh hati dan dengan keahlian maka akan menjadi karya yang sangat menakjubkan,” ujarnya. (Mutiya/Jjw).

Komentar

Komentar