Bancak

oleh -
Sendratari bertema Bancak-Doyok, Festival Sendratari DIY tahun 2016. | KH/Wg.
iklan golkar idup fitri

Dan teknik penggagalan yang digagas (diordinasikan) langit (dewa, bathara, gusti, pangeran) adalah mempersonifikasikan diri Bancak sebagai diri yang terbelah, mendua, bertopeng, hingga ia pada awalnya “pangling” kepada dirinya sendiri lantas mengenali siapa jati dirinya. Bancak yang mereplika. Yang bercermin. Yang membelah diri. Yang mengidentik. Ismaya yang Antiga. Muncul lah person yang dinamai Dhoyok. Diri (utuh) yang terbelah (kontras). Muncul kembaran identik. Yang satu belo mata, yang satu sipit. Yang satu tirus pipi, yang satu tembem. Yang satu mancung hidung, yang satu pesek. Yang satu putih, yang satu hitam.

Pencarian sejati-diri sang tokoh melalui jalan kontra(s), peperangan, ambiguitas, atau paradoksi. Dhoyok tiruan Bancak. Tapi beda. Namun identik. Dua oposisi (kutub) yang sama sekaligus beda. Beda yang saling melengkapi. Yang satu tiada tanpa adanya yang lain. Ada bersama Ada lain. Ada yang satu harus berperang dengan Ada yang (yang sebenarnya tiruannya).

Peperangan antara Bancak dan Dhoyok memperebutkan putri yang cantik pun tak terelakkan. Keduanya berperang dalam identitasnya sebagai satriya bagus. Satriya bagus (kelas ksatria) bukan personalitas mereka sebenarnya. Peperangan yang seimbang mengakibatkan “badhar” kedirian mereka sesungguhnya. Yaitu person yang dikategorikan abdi, kawan, rowang. Bukan sungguh bendara, gusti, ataupun ksatria. Seperti halnya sang ksatria yang membutuhkan kategori teman (kawan) atau abdi untuk dapat menggapai persatuan abadi dengan sang putri, sebaliknya, sang abdi membutuhkan kategori bendara (gusti, tuan) untuk dapat meraih persatuan dengan diri sejati.

Pola arkais inilah, yang tersembunyi sebagai motif purwa manusia purwa, yang hidup dan terwarisi dalam kesadaran manusia modern, yang ditempatkan sebagai tema festival sendratari antar kabupaten-kota se-DIY tahun ini, disebut dengan ‘sambatan‘.

Sambatan demi keberlangsungan kehidupan harmonis antara Tuan dan Abdinya, antara Gusti dan Kawulanya, yang seakan saling mensubordinasi, meng-oposisi, namun saling melengkapi, dalam mencari persona diri. Yang sejati.

Di sebalik topengnya sendiri.

(Wage).

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar