Balada Sopir Jogja-Sari (2): Harap Lebaran Setiap Hari

oleh -
iklan dispar

WONOSARI, kabarhandayani.— Sepinya penumpang jalur Wonosari-Jogjakarta merupakan persoalan pelik yang kini menjadi makanan sehari-hari para sopir dan juragan angkutan. Dalam beberapa tahun terakhir sudah tak terhitung lagi jumlah armada bus yang memilih mangkrak berhenti beroperasi karena gulung tikar. Namun demikian, tak sedikit yang masih bertahan dengan resiko penghasilan yang diperolehnya pas-pasan.

Sore itu Kamis (19/6/2014), seperti hari-hari biasanya, antrian bus jalur Wonosari-Jogja rapi berjajar menunggu antrian berangkat di Terminal Dhaksinarga Gunungkidul. Dereten kios toko di terminal itu satu demi satu mulai tutup. Tutupnya toko bukan karena waktu menjelang sore, tetapi karena sepinya penumpang.

Di sudut teras mushola terminal, seorang pria berkaca mata hitam sedang sibuk merapikan kemeja yang ia kenakan. Pria berkumis tersebut adalah Suparno. Sembari merapikan rambut, pria yang tinggal di Nitikan Semanu ini mulai bercerita pahit getirnya menjadi sopir bus jurusan Wonosari-Jogja saat ini.

“Jadi sopir udah gak bisa kemaki kaya dulu mas,” ucap Suparno, yang setiap harinya mengemudikan bus Bakmi Jawa. Suparno tetap bertahan dengan keadaannya, karena dia tidak mempunyai pilihan lain untuk mencari rejeki. Meski dengan pendapatan pas-pasan, ia tetap bertahan di belakang kemudi bus warna biru kombinasi kuning milik juragannya di Semanu.

Sedikit berbeda dengan Sunarto yang mengemudikan bus Rawit Mulyo, Suparno mengaku masih bisa membawa pulang uang Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu setiap harinya. Jumlah pendapatan Suparno sedikit lebih tinggi dari Sunarto, karena dia memakai bus ukuran 3/4, yang menurut pengakuannya lebih irit bahan bakar, apalagi jumlah crew-nya hanya 2 orang.

“Pendapatan seorang sopir di jaman dulu (jaman belum banyak kendaraan pribadi) bisa untuk membuat rumah mas. Saat ini dapat Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu hanya cukup untuk makan sehari. Tetapi mau gimana lagi, tetap bersuykur,” kata Suparno dengan nada lirih.

Hal senada juga diucapkan oleh Suwandi, seorang kondektur bus Rawit Mulyo. Lelaki itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranya. Menurutnya, kondisi penumpang angkutan umum di Gunungkidul jauh berbeda dengan di ibukota Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Berbeda dalam arti jumlah penumpang memang lebih sedikit, serta perlakuan dan perhatian dari masyarakat yang tak begitu menyukai angkutan umum untuk sarana bepergian.

Sebagai kondektur bus besar yang mempunyai tiga crew yaitu sopir, kernet, dan kondektur, maka setiap hari Suwandi harus membagi penghasilan yang diperolehnya dengan prosentase yang telah ditentukan, yakni 50 persen sopir, 25 persen kernet dan 25 persen kondektur. Ia mengatakan, jika bus banyak yang berangkat, maka untuk mencari Rp 30 ribu itu sangat sulit.

“Jika bus berangkat semua, dapat 3 tangkep (3 kali pergi-pulang) Wonosari-Jogja, paling kita pembagiannya dapat 30 ribu. Urusan garasi jika ada kerusakan nabungnya Rp 20 ribu. Beruntung mas, juragan PO kami tidak menarget harus stor berapa. Yang penting masuk garasi solar penuh,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kabarhandayani, saat ini tersisa ada 50 bus untuk trayek Wonosari –Jogja pp. Tetapi hanya 35 bus yang aktif beroperasi. Bus ukuran besar ada 15 unit, bus ukuran 3/4 ada 10 unit, dan bus kecil (engkel atau anak bus) ada 10 unit. Sedangkan, perusahaan otobus (PO) besar trayek tersebut yang masih tersisa ada 7, yakni Rawit Mulyo, Birowo, Bakmi Jawa, Sari Mulyo, Jaya Sehati, Siswantoro, dan Maju Lancar.

Sopir dan kernet yang sore itu duduk-duduk bersama di terminal berharap, bahwa setiap hari adalah hari lebaran agar pemakai jasa bus berdatangan dan penghasilan pun melimpah ruah.

“Tapi mana mungkin ya mas setiap hari lebaran. Ya,namanya juga berharap,” pungkas Suparno dan Suwandi sembari melihat jam, karena waktu berangkat bus setiap 8 menitan yang telah ditentukan sudah tiba. (Juju/Jjw).

Komentar

Komentar