Atasi Kelangkaan Kedelai, Tahun Ini DPP Gunungkidul Kejar Produksi

oleh -
Lahan penanaman jagung dan kedelai sistem tanam turiman jale. (dok. DPP Gunungkidul)

WONOSARI, (KH),– Kelangkaan dan naiknya harga Kedelai yang terjadi beberapa waktu lalu, sempat membuat beberapa industri makanan yang mengandalkan bahan baku Kedelai kelimpungan. Hal ini sangat dirasakan industri skala rumah tangga, diantaranya pengusaha Tempe atau Tahu.

Untuk mengantisipasi hal itu tidak terulang, tahun ini Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul berupaya agar produksi kedelai tahun 2021 bisa mencapai target.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, target diharapkan dapat terpenuhi dari hasil panen musim tanam pertama hingga ketiga tahun ini.

“Untuk musim tanam pertama kedelai diperkirakan memanen sekitar 170 ton,” terangnya.

Kami merinci hasil ini akan didapat dari rata-rata produksi kedelai swadaya petani yang mencapai 1,2 ton kedelai per hektare. Adapun luas lahan kedelai yang sudah dipanen saat ini mencapai 142 hektar,” lanjutnya.

Untuk mengejar target produksi ini, pihak DPP sendiri telah menambah luas lahan kedelai menjadi 3.381 hektare. 2.550 hektare di antaranya sudah ditanami bibit kedelai bantuan pemerintah di bulan Februari dan Maret ini. Sedangkan sisanya seluas 831 hektare akan ditanami pada Juni 2021 untuk musim ketiga.

“Kami menargetkan pada tahun 2021 ini produksi kedelai mencapai 5.600 ton, dari hasil ini bisa diharapkan bisa mengatasi kebutuhan kedelai untuk industri dalam negeri,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto menginstruksikan agar para petani kedelai memantau perkembangan tanaman kedelai secara berkala.”Petani perlu meminimalisir potensi munculnya gulma hingga hama penyakit yang menyerang tanaman kedelai,” katanya.

“Perawatan dan pemantauan secara rutin akan membuat hasil kedelai lebih memuaskan. Selain itu, keuntungan yang didapat pun bisa jadi lebih tinggi,” ujar Bambang.

Dari data DPP Gunungkidul, harga kedelai konsumsi saat ini cukup tinggi, yakni mencapai Rp 10 ribu per kilogram.

“Dengan harga segitu, diperlukan penanganan yang tepat oleh petani agar hasilnya nanti bisa sesuai,” tandasnya. [Edi Padmo]

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar