Akhir Musim Panen, Pembeli Alat Pertanian Mulai Sepi

oleh -
Kamisih dan dagangan alat-alat pertaniannya di lapak Pasar Argosari. Foto: Kandar.
iklan dispar
Kamisih dan dagangan alat-alat pertaniannya di lapak Pasar Argosari. Foto: Kandar.
Kamisih dan dagangan alat-alat pertaniannya di lapak Pasar Argosari. Foto: Kandar.

WONOSARI, (KH)— Menjelang berakhirnya musim panen cukup terasa bagi penjual alat pertanian di komplek Pasar Argosari Wonosari. Ini karena kebutuhan alat pertanian sudah berkurang, sehingga pembelian sabit, gathul, cangkul, dan lainnya juga berkurang.

Kepada KH, Kamisih didampingi suaminya Sutrisno penjual alat pertanian yang membuka lapak di sisi timur Pasar Argosari ini mengungkapkan, menjadi rutinitas tahunan bahwa setiap akhir musim panen pembelian alat pertanian sepi.

“Paling ramai pembeli itu saat menjelang musim tanam dan menjelang musim panen (babat padi),” kata Kamisih, Sabtu, (21/3/2015).

Uang yang diperoleh, lanjut Kamisih, kalau sedang laris bisa mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000, sedangkan untuk hari sepi sekitar seperti sekarang ini mendapatkan Rp 40.000 hingga 60.000 tiap hari.

Ibu dua anak ini mengaku, merintis usahanya sejak 12 tahun silam. Dagangan yang ia jual berasal dari pabrik dan pande besi di wilayah Kajar Karang Tengah. “Untuk sabit, gathul, garu, pethel, kapak, hanya kulakan dari pande di sekitar saja, Untuk gergaji, tang, obeng dari pabrik,” imbuh Kamisih

Harga dagangan yang dijual cukup bervariasi. Besar kecil ukuran mempengaruhi harga jual. Untuk sabit dipatok harga mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 45.000. Wirausaha yang dijalani keluarga Kamisih ini merupakan mata pencaharian satu-satunya, Ia bersyukur, usahanya dapat dijadikan sandaran perekonomian keluarga.

Merasa kurang mampu, Kamisih tidak mempunyai niat membiayai pendidikan anak sulungnya yang telah lulus SMA melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bersama sang suami, dirinya tinggal membiayai sekolah anaknya yang masih duduk di kelas 5 SD. “Yang besar sudah mulai jadi pande besi di rumah, belajar mencukupi kebutuhannya sendiri,” ujarnya.

Berapapun hasilnya, wanita asal Jawa Barat ini mengaku selalu bersyukur, berharap kebahagiaan selalu ada bersama lelaki yang dipertemukan denganny saat bekerja pada sebuah pabrik sepatu di Jakarta. (Kandar)

Komentar

Komentar