GUNUNGKIDUL, (KH) — Pengalaman perundungan yang dialami Aji, anak berkebutuhan khusus di Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul menjadi perhatian serius berbagai pihak. Reaksi emosional yang muncul setelah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya membuat kehidupannya semakin terbatas. Kini, penanganan terpadu mulai dilakukan agar Aji mendapatkan lingkungan yang lebih aman, pendampingan medis, serta kehidupan yang lebih layak.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul belum lama ini bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), kapanewon, dan tim medis bergerak memberikan bantuan kepada Aji dan keluarga. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan rumah layak huni dengan target penyelesaian 10 hari hingga dua minggu. Di sisi lain, penanganan kesehatan Aji juga akan dilakukan secara berkala.
Perundungan Memicu Reaksi Emosional
Kakek Aji, Tugino, menuturkan bahwa cucunya telah diasuh bersama sang nenek sejak berusia sekitar tiga tahun. Aji sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga kelas dua. Namun, dalam perjalanan tumbuh kembangnya, ia mengalami perundungan dari anak-anak sebaya ketika berada di lapangan.
Perlakuan tersebut memicu reaksi emosional. Aji terkadang membalas dengan melempar batu, sehingga keluarga merasa khawatir akan keselamatannya maupun keselamatan orang-orang di sekitarnya.
Dalam situasi tersebut, keluarga akhirnya memasang rantai untuk membatasi aktivitas Aji di dalam rumah pada siang hari. Rantai dilepas ketika malam tiba agar ia bisa tidur bersama kakek dan neneknya.
Kondisi ini menjadi persoalan yang memerlukan penanganan menyeluruh. Di satu sisi, keluarga berupaya menjaga keselamatan Aji dan lingkungan sekitarnya. Di sisi lain, pengalaman perundungan serta keterbatasan dukungan yang tersedia membuat anak tersebut membutuhkan perhatian lebih besar, baik dari keluarga maupun masyarakat.
Penanganan yang dilakukan saat ini diharapkan tidak hanya berfokus pada perilaku yang muncul, tetapi juga memperhatikan pengalaman yang dialami Aji, kondisi kesehatannya, serta kebutuhan akan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.
Selain menghadapi persoalan emosional, Aji juga memiliki riwayat epilepsi yang dapat kambuh sewaktu-waktu. Saat mengalami kejang, ia berisiko terjatuh dan mengalami luka fisik. Keluarga menyebut terdapat memar dan bekas kebiruan di bagian pelipisnya.
“Aji sebelumnya sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Magelang. Namun, pengobatan berkala terhenti karena keluarga mengalami keterbatasan biaya,” tutur Tugino.
Melihat kondisi tersebut, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menginstruksikan tim kesehatan lintas lembaga untuk menyusun langkah penanganan berkelanjutan. Tim yang dilibatkan mencakup tenaga medis dari RSUD, puskesmas, dan Dinas Kesehatan.
Dokter puskesmas yang sebelumnya menangani Aji juga turut dilibatkan dalam pemantauan perkembangannya. Melalui koordinasi tersebut, diharapkan akses pengobatan dapat kembali berjalan dan kondisi kesehatan Aji memperoleh perhatian secara rutin.
“Penanganan medis menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas hidup Aji. Pendampingan yang tepat diharapkan dapat membantu mengelola kondisi kesehatannya sekaligus mendukung kebutuhan psikologis dan sosialnya,” terang Endah.
Selain pendampingan medis, kebutuhan tempat tinggal yang aman juga menjadi perhatian. BAZNAS bersama Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Pemerintah Kapanewon Karangmojo, jajaran aparatur sipil negara (ASN), dan berbagai pihak terkait mengalokasikan bantuan zakat untuk pembangunan rumah layak huni bagi keluarga Tugino.
Bupati Endah menyampaikan bahwa pembangunan rumah tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 10 hari hingga dua minggu. Hunian baru itu dirancang dengan kamar khusus bagi Dik Aji yang tetap menyatu dengan ruang keluarga kakek dan neneknya.
Penataan tersebut dimaksudkan agar Tugino dan keluarga lebih mudah memantau aktivitas cucunya sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman. Kedekatan dengan orang-orang yang selama ini merawatnya juga diharapkan membantu Aji menjalani keseharian dalam lingkungan yang lebih kondusif.
“Pembangunan rumah ini menjadi salah satu bentuk dukungan konkret agar keluarga dapat memberikan pengasuhan yang lebih aman, tanpa mengabaikan kebutuhan Aji untuk memperoleh perhatian, pendampingan, dan kesempatan menjalani kehidupan yang layak,” umbuh Endah.

Masyarakat Diajak Hentikan Perundungan
Penanganan Aji melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, BAZNAS, kapanewon dan kalurahan, TNI-Polri, hingga tenaga kesehatan. Bupati Endah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak serta para muzaki yang telah mempercayakan penyaluran zakatnya untuk membantu keluarga tersebut.
Di tengah upaya penanganan itu, pesan penting juga disampaikan kepada masyarakat, khususnya warga Bejiharjo, agar memperlakukan anak berkebutuhan khusus dengan penuh kasih sayang dan kepedulian.
“Anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak seharusnya menjadi sasaran ejekan, pengucilan, ataupun perlakuan yang merendahkan. Mereka membutuhkan lingkungan yang menerima, melindungi, dan membantu proses tumbuh kembangnya,” tandas Endah.
Pengalaman Aji menunjukkan pentingnya kepekaan masyarakat terhadap dampak perundungan. Reaksi seorang anak tidak semestinya dilihat hanya dari perilaku yang tampak, tanpa memahami pengalaman dan kondisi yang melatarbelakanginya.
Karena itu, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial perlu mengambil peran bersama dalam mencegah perundungan serta memastikan anak-anak yang mengalaminya memperoleh dukungan yang tepat.
Melalui pembangunan rumah layak huni dan pendampingan medis berkelanjutan, pemerintah berharap kualitas hidup Aji semakin membaik. Lebih dari itu, penanganan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus harus diwujudkan melalui tindakan nyata, penerimaan, dan perlindungan dari segala bentuk perundungan.





