149 Inovasi Meriahkan Krenovamaskat Pelita Indah 2026, Bupati Minta Karya Tak Berhenti di Piala

krenovamaskat Gunungkidul
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyerahkan penghargaan peraih juara Krenovamaskat 2026 di Gunungkidul. (ist)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Sebanyak 149 karya inovatif dari berbagai kalangan masyarakat Kabupaten Gunungkidul tampil dalam Anugerah Krenovamaskat Pelita Indah 2026 yang digelar di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, Rabu (16/9/2026).

Para peserta berasal dari pelajar, guru, tenaga kesehatan, aparatur sipil negara (ASN), hingga masyarakat umum. Berbagai karya yang dihasilkan mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pertanian, kekeringan, kesehatan, pendidikan, pelayanan publik, hingga pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

Bacaan Lainnya

Mengusung tema “Penguatan Kreativitas dan Inovasi Guna Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah”, Krenovamaskat Pelita Indah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan gagasan sekaligus mencari solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan di Gunungkidul.

Plt. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Baperida) Kabupaten Gunungkidul, M. Johan Wijayanto, mengatakan Krenovamaskat merupakan salah satu langkah pemerintah daerah untuk menumbuhkan budaya riset, penelitian, dan pengembangan.

“Lomba Krenovamaskat Pelita Indah merupakan salah satu upaya Pemda Gunungkidul dalam mendorong budaya riset, penelitian dan pengembangan, baik di kalangan pelajar, masyarakat umum maupun pemerintahan,” kata Johan.

Menurut Johan, ajang tersebut sekaligus diarahkan untuk menggali potensi sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), serta meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memotivasi untuk berinovasi dalam menggali dan meningkatkan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam dan pelayanan publik di Kabupaten Gunungkidul,” ujarnya.

Selain itu, penyelenggaraan Krenovamaskat juga menjadi bagian dari penyiapan data Indeks Inovasi Daerah sekaligus memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang aktif mengembangkan inovasi.

Tingginya partisipasi peserta terlihat dari jumlah karya yang masuk dalam tujuh kategori perlombaan.

Kategori tersebut meliputi inovasi daerah ASN/OPD sebanyak 14 peserta, tenaga kesehatan dan medis enam peserta, tenaga pendidik/guru 24 peserta, masyarakat umum 18 peserta, penelitian dan karya ilmiah pelajar SMA/SMK bidang olahan makanan singkong sebanyak 48 peserta, bidang sains dan teknologi sebanyak 15 peserta, serta pelajar SMP sederajat sebanyak 24 peserta.

“Secara keseluruhan lomba Krenovamaskat tahun 2026 ini alhamdulillah animo masyarakat cukup besar, yaitu diikuti oleh total 149 peserta,” ujar Johan dalam laporan penyelenggaraan.

Dari jumlah tersebut, dewan juri kemudian menetapkan 39 nominator terbaik yang memperoleh penghargaan berupa trofi, piagam, dan uang pembinaan dengan total nilai Rp80,5 juta.

Proses penjurian dilakukan secara marathon selama tujuh hari tujuh malam oleh tim juri independen. Mereka berasal dari berbagai unsur, antara lain Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), akademisi, pelaku UMKM, dan tokoh masyarakat.

“Proses penjurian dilakukan secara marathon selama tujuh hari tujuh malam oleh tim juri independen yang terdiri atas perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), akademisi, pelaku UMKM, serta tokoh masyarakat,” papar Johan.

Menurutnya, penghargaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bentuk apresiasi, tetapi menjadi pemicu agar hasil inovasi dapat dimanfaatkan lebih luas.

“Tujuannya adalah untuk memberikan motivasi dan apresiasi kepada para inovator, memperluas pemanfaatan hasil inovasi bagi masyarakat, serta memperkuat ekosistem inovasi daerah,” kata Johan.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan bahwa sebuah inovasi tidak cukup hanya berbeda dari karya sebelumnya. Inovasi juga harus dirancang dengan baik dan memiliki kekhasan serta manfaat nyata.

Dalam sambutannya, Endah menekankan pentingnya keberanian untuk menghasilkan gagasan baru.

“Inovasi membutuhkan keberanian untuk berpikir beda, ketekunan mengolah potensi lokal, dan ketangkasan dalam bertindak,” ujar Endah.

Ia juga mengingatkan para peserta agar karya yang telah mendapatkan penghargaan tidak berhenti setelah menerima trofi.

“Saya berharap penghargaan, trofi, dan uang pembinaan ini dapat menjadi penambah semangat,” katanya.

Lebih jauh, Endah meminta para inovator terus mengembangkan karya mereka sehingga memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Jangan biarkan karya inovatif Anda berhenti pada penerimaan piala saja, melainkan terus terapkan, kembangkan, dan tingkatkan pemanfaatannya agar memberikan nilai tambah ekonomi serta kebermanfaatan nyata bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena sebagian besar karya yang tampil dalam Krenovamaskat berangkat dari persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

krenovamaskat
Sekda Gunungkidul Sri Suhartanta menyerahkan hadiah kepada pemenang Krenovamaskat Gunungkidul tahun ini. (KH)

Menjawab Persoalan Air dan Pertanian

Salah satu isu yang cukup kuat muncul dalam karya peserta adalah persoalan air dan pertanian. Hal ini tidak terlepas dari karakter wilayah Gunungkidul yang menghadapi tantangan ketersediaan air, terutama pada musim kemarau.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Inovasi Irigasi Kabut Cerdas Sistem Pemanen Air Hujan dari Kelompok Tani Rukun Santoso, Temon, Giripurwo, Purwosari.

Sistem tersebut memanfaatkan air hujan yang ditampung pada musim penghujan. Sensor Internet of Things (IoT) kemudian memantau kelembapan tanah secara real time. Ketika kelembapan turun di bawah batas tertentu, sistem secara otomatis mengaktifkan penyemprotan kabut melalui micro-sprinkler. Berdasarkan narasi inovasi peserta, teknologi tersebut dapat menghemat penggunaan air hingga 50 persen.

Ada pula Smart Green Irrigation System karya siswa SMKN 1 Ponjong yang masuk kategori sains dan teknologi. Karya tersebut menjadi salah satu inovasi pelajar yang mengangkat teknologi pertanian hemat air.

Sementara dari kategori pelajar SMP, Lathifa Nanda Setya dan teman-temannya dari SMP Negeri 1 Rongkop mengangkat penelitian berjudul Mendulang Rupiah dari Lahan Berkapur: Studi Potensi Ekonomi Cabai Jawa di Perbukitan Kosong Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Rongkop.

Gagasan tersebut menunjukkan bagaimana kondisi lahan yang selama ini dianggap kurang produktif dapat dilihat dari perspektif berbeda dan dikaji sebagai peluang ekonomi.

Karya inovatif lainnya juga menunjukkan upaya masyarakat memanfaatkan bahan yang ada di sekitar.

Partiyono dari Ponjong, misalnya, meraih juara pertama kategori masyarakat umum melalui Alat Pirolisis 4 Pipa dan Pemisah Grade Asap Cair Berbasis Barang Bekas. Inovasi tersebut memanfaatkan sekam padi melalui proses pirolisis untuk menghasilkan biochar dan asap cair bernilai ekonomi.

Di bidang ekonomi kreatif, pelajar SMKN 1 Wonosari mengembangkan Brownies Thiwul Crispy (Bathic). Produk tersebut mengolah ubi kayu atau gaplek menjadi produk makanan dengan variasi topping dan diarahkan untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis potensi lokal Gunungkidul.

Sementara itu, dari sektor pelayanan kesehatan, Kelas Lansia SMART dari RSUD Wonosari menjadi juara pertama kategori tenaga kesehatan dan medis. Program tersebut menggabungkan senam, pemeriksaan kesehatan, edukasi interaktif, pembinaan spiritual, dan stimulasi kognitif bagi lansia.

Bupati Endah menilai keberlanjutan inovasi membutuhkan dukungan pemerintah daerah. Karena itu, kepala OPD dan jajaran pemerintah kewilayahan diminta tidak membiarkan karya inovatif berhenti setelah kompetisi selesai.

“Kepada seluruh Kepala OPD dan Panewu, mari kita terus mendampingi, memfasilitasi, dan memadukan karya-karya inovatif ini ke dalam program pembangunan daerah secara berkelanjutan,” kata Endah.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelajar, akademisi, tenaga kesehatan, ASN, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi di Gunungkidul.

“Melalui ajang ini, kita menyaksikan lahirnya ide-ide segar dan karya kreatif dari berbagai lini, mulai dari inovasi tata kelola pemerintahan oleh ASN, gagasan layanan kesehatan oleh tenaga medis, kreasi masyarakat umum, hingga penelitian ilmiah dari para guru dan pelajar,” ujarnya.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait