Sisa Api di Gatak: Perjuangan ES Melawan Trauma dan Luka yang Tak Kasat Mata

Suasana depan rumah ES saat warga, pihak kalurahan hingga KUA berkunjung memberikan dukungan. (KH)

TANJUNGSARI, (KH),— Di sebuah rumah sederhana di Dusun Gatak II, Kalurahan Ngestirejo, suasana kesedihan begitu terasa. Di dalam kamar, ES (28) terbaring lemah. Tubuhnya, yang dahulu bertenaga sebagai ibu rumah tangga, kini ringkih, menyimpan jejak tragedi memilukan yang terjadi hampir setahun lalu.

Mei 2025 adalah titik balik kehidupan ES. Sebuah ledakan saptic tank dipicu api kompor saat ia sedang merebus air di dapur meluluhlantakkan segalanya. Api tidak hanya menyambar tubuhnya, tetapi juga anak keduanya yang baru berusia enam tahun. Sebuah takdir pahit harus diterimanya: sang buah hati mengembuskan napas terakhir beberapa hari setelah kejadian. ES selamat, namun dengan luka bakar parah di sekujur tubuh.

Bacaan Lainnya

Hingga kini, ES masih harus menjalani rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito. Luka fisiknya belum sepenuhnya pulih, namun luka psikis yang ditinggalkan kejadian itu ternyata jauh lebih dalam dan menyakitkan. Keputusasaan sempat menyelimutinya hingga ia melakukan tindakan nekat.

Beberapa hari lalu, di tengah rasa sakit yang tak tertahankan, ES mencoba mengakhiri hidupnya. Ia berusaha merobek luka bekas operasi di lehernya dan menarik selang medis yang terhubung ke tubuhnya. Beruntung, aksi nekat itu berhasil digagalkan oleh keluarga yang setia menemaninya.

Sarmini, ibu kandung ES, menceritakan detik-detik mencekam itu dengan suara bergetar. Baginya, melihat sang anak menderita adalah siksaan tersendiri.

“Saya tidak menyangka dia senekat itu. Waktu itu saya sedang di dapur, tiba-tiba mendengar suara gaduh dari kamar. Saat saya masuk, ES sudah mencoba… ya Tuhan,” ujar Sarmini, matanya berkaca-kaca.

Sarmini menceritakan bahwa ES kini tak mampu berbicara. Ia menjadi pendiam lantaran konsekuensi tindakan medis yang diambil. Komunikasinya sangat terbatas. “Dia lebih sering menggunakan isyarat. Kalau mau memanggil atau minta tolong, dia mengetuk-ngetuk papan di dekatnya. Tapi dia masih bisa mendengar, kalau kita ajak bicara dia mengangguk atau menggeleng,” tambahnya.

Kondisi psikis ES memang sudah menjadi perhatian sejak awal. Sarmini mengungkapkan bahwa selama dirawat di RSUP Dr. Sardjito, ES pernah mendapatkan obat-obatan psikiatri. Bahkan, tak lama setelah pulang dari perawatan pertama, Elfy pernah mencoba gantung diri, namun beruntung bisa digagalkan. Saat itu dia dirawat di kediaman neneknya. Kini setelah kondisi fisik kian melemah ia berbaring di kamar di rumahnya.

Dukungan Suami yang Tak Pernah Putus

Di sisi lain, Sukiran, suami ES, terlihat tegar menghadapi ujian hidup ini. Pria yang bekerja sebagai buruh harian jasa fotografi di destinasi wisata pantai terus memberikan dukungan penuh bagi kesembuhan sang istri.

“Saya tahu ini sangat berat buat ES. Dia tidak hanya harus menahan sakit fisik, tapi juga rasa kehilangan anak yang sangat dicintai. Saya hanya bisa berdoa dan terus mendampinginya, semoga dia bisa melewati masa-masa sulit ini,” kata Sukiran dengan nada suara yang tenang namun penuh kesedihan.

Sukiran juga menyadari bahwa kondisi ekonomi mereka yang pas-pasan menjadi kendala dalam pengobatan ES. “Kadang-kadang kalau ada kebutuhan mendesak untuk pengobatan ES, ya kesulitan,” keluhnya.

Kisah pilu Elfy ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ. Ada informasi sekunder yang menyebutkan bahwa ia pernah menjadi korban kekerasan seksual oleh ayah kandungnya saat masih remaja. Trauma masa lalu yang kelam ini, ditambah dengan tragedi ledakan kompor gas dan kehilangan anak, seolah menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh ES.

Langkah Nyata Menuju Pemulihan

Kisah ES yang menyentuh hati ini akhirnya sampai ke telinga berbagai pihak. Lembaga swadaya masyarakat Imaji bersama Carik Kelurahan Tanjungsari pun berusaha memberikan dukungan. Setelah melakukan home visit, kondisi ES dilaporkan Kepala Puskesmas Tanjungsari.

Kepala Puskesmas Tanjungsari menyambut baik laporan tersebut dan menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan penuh bagi pemulihan ES. Pihak Puskesmas berencana untuk melakukan kunjungan dan memberikan pengobatan yang diperlukan, termasuk obat-obatan psikiatri untuk memulihkan kondisi psikis ES.

Dukungan dari lingkungan sekitar juga terus mengalir bagi ES dan keluarganya. Masyarakat dan Pemerintah Kalurahan setempat memberikan dukungan moral dan materi untuk membantu meringankan beban keluarga.

Perjuangan ES untuk pulih dari trauma dan luka yang tak kasat mata masih panjang. Namun, dengan dukungan dari berbagai pihak mampu menguatkan harapan dan semangat bagi ES untuk melanjutkan hidup.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait