Rohmadi: Wirausaha Muda dari Playen Pembuat Aneka Produk Mebel Berkualitas

oleh
Aneka mebel dan kayu produksi Rohmadi dari Playen. KH/Istimewa.

PLAYEN, (KH),- Meskipun Gunungkidul dikenal sebagai gudang anak muda yang merantau ke berbagai kota-kota besar, masih ada anak-anak muda yang jeli melihat peluang dan gigih berwirausaha di desa. Salah satunya Rohmadi (30), pemuda dari Playen ini mampu mendayagunakan ketrampilannya dan potensi perkayuan yang dihasilkan dari wilayah Gunungkidul. Ia berhasil merintis usaha produksi aneka mebelair rumah tangga dan pekerjaan kayu untuk bangunan gedung.

Bertempat di rumahnya di Dusun Tompak RT 20/03 Desa Playen Kecamatan Playen, sejak tahun 2007 Rohmadi menjalankan bisnisnya. Saat ini, mampu mempekerjakan 5 personil termasuk dirinya dalam menjalankan produksi barang dan memasarkan secara langsung ke konsumen.

Menurut penuturannya, produk mebelair yang laris peminat adalah: meja kursi tamu, lemari berbagai ukuran, dan kitchen set. Sedangkan produk aneka pekerjaan konstruksi kayu untuk bangunan gedung yang paling laris pemesan adalah: kusen pintu dan jendela berikut daun pintu dan jendelanya.

“Selain memasarkan secara door to door, saat ini kami memasarkan secara online lewat OLX dan facebook. Tidak kami duga, hasilnya ternyata luar biasa. Ada banyak pembeli yang justru dari luar wilayah Gunungkidul. Pembeli kami justru mayoritas dari Jogja Kota, Bantul, Kulonprogo, Sleman, dan Magelang,” ujar Rohmadi.

Untuk pembeli dari wilayah Gunungkidul, Rohmadi mengungkapkan memang masih belum begitu banyak. Produknya yang terjual ke konsumen di wilayah Gunungkidul terjual karena promosi door to door yang dilakukan bersama mitranya dan jaringan pertemanan yang dimilikinya. Ia juga mengungkapkan, sebagai produsen mebel memang belum memiliki outlet atau toko yang strategis di pusat kota, sehingga upaya yang dilakukannya adalah memasok produk ke beberapa toko mebel yang lebih dahulu eksis dan menguasai pasar mebel Gunungkidul sejak dahulu.

Rohmadi (inzet) dan produksi mebel dan ukiran daun pintu wayang sebelum finishing. KH/istimewa.

“Untuk produk pesanan, kami menyediakan berbagai desain pilihan. Pembeli juga dapat membawa desain sendiri, kami tinggal mengerjakan sesuai desain yang dibawa. Untuk bahan, kami menyediakan bahan kayu jati kelas I, kelas II, atau kelas III. Selain itu kami juga menyediakan bahan kayu akasia. Semua tergantung pembeli mau memilih desain dan bahan yang mana. Untuk harga, kami berani bersaing, namun tentu saja juga mempertimbangkan kerumitan pengerjaan dan kualitas bahan kayunya,” ungkap Rohmadi.

Di rumah tinggalnya yang sekaligus sebagai workshop dan tempat display produk, Rohmadi juga menyediakan produk jadi aneka mebel baik yang sudah finishing maupun yang belum difinishing. Produk jadi tersebut telah ia bikin terlebih dahulu sesuai dengan desain dan model yang menurutnya sedang laris di pasaran. Dengan demikian, pembeli yang tertarik dengan produk jadi tersebut dapat membeli langsung atau membeli tanpa finishing apabila ingin dilakukan finishing sendiri.

“Untuk produk jadi yang sudah finishing atau tinggal finishing tersebut, kami juga menyediakan berbagai model dengan bahan dari kayu akasia. Meskipun produk jadi ini berbahan kayu akasia, kami tetap menjamin kualitas pengerjaannya. Harga produk jadi yang kami sediakan juga berani bersaing dengan produk dari produsen lainnya,” ujar Rohmadi.

Pertimbangan mengapa produk jadi yang dijual berbahan kayu akasia, menurut Rohmadi adalah untuk mengejar harga agar mampu bersaing. Pertimbangan lainnya adalah berdasarkan pengalamannya selama ini, bahwa pembeli produk dengan bahan kayu jati biasanya lebih menyukai pesan terlebih dahulu. “Pemesan dengan bahan kayu jati umumnya tidak buru-buru untuk dipakai,” tukasnya.

Untuk harga, aneka mebel produk Rohmadi ini memiliki harga yang kompetitif. Untuk produk meja kursi tamu yang paling laris kisarannya Rp 2 juta per set. Produk lemari kisarannya Rp 1,5 juta pe unit, sedangkan pengerjaan kitchen set kisarannya Rp 500 ribu per meter panjang. Semua produk tersebut berbahan kayu akasia. Untuk produk berbahan kayu jati harganya lebih di atas harga bahan akasia, dan bergantung pilihan mutu kayu jatinya.

Untuk produk kusen pintu-jendela dan daun pintu jendela, Rohmadi mengaku pemesannya lebih dominan dari wilayah Jabodetabek. “Pertama kami mendapatkan konsumen pemakai langsung dari Jakarta. Itu hasil pemasaran secara online. Setelah itu, ternyata berlanjut ke pemesan lainnya berdasarkan saran dari pemesan pertama. Manfaat penjualan secara online luar biasa hebat. Dari situ pula kami belajar untuk menjaga kepercayaan konsumen dengan cara menjaga kualitas produk dan ketepatan waktu pengantaran,” tegas Rohmadi.

Untuk meluaskan pemasaran secara langsung di wilayah Gunungkidul, Rohmadi juga rajin mengikuti event-event pameran. Ia aktif mengikuti pameran UMKM saat HUT Kabupaten Gunungkidul atau kesempatan-kesempatan lainnya.

Untuk pengerjaan pesanan kusen pintu/jendela dan daun pintu/jendela, Rohmadi juga telah menetapkan harga pengerjaan dan disesuaikan pula dengan harga bahannya. Pemesan bisa memilih bahan mulai dari kayu akasia, jati kelas III, jati kelas II, ataupun jati kelas I.

Untuk menjaga kepuasan pembeli, Rohmadi selalu terbuka apabila ada pelanggan yang komplain. “Misalnya pembeli masih komplain terhadap finishing barang yang sudah dikirim, kami tetap bersedia menangani sampai pelanggan puas atau benar-benar menerima produk,” ungkapnya.

Suka duka menjalani usaha mebel dan perkayuan juga sudah dirasakan Rohmadi. “Pernah saat kami membeli bahan kayu dari suplier, jumlah barang yang kami terima kurang dari jumlah yang tertera di nota. Itulah salah satu kejadian yang pernah kami alami,” ungkap Rohmadi. Menurutnya, hal seperti ini tidak mengendorkan semangatnya berusaha, tetapi menjadikannya lebih teliti lagi saat bertransaksi.

Sebelum menekuni usaha bidang perkayuan, pria lulusan SMKN 2 Wonosari ini sempat menggeluti pekerjaan bidang instalasi listrik. Hal ini sesuai dengan jurusan yang diambilnya saat sekolah tersebut. Sewaktu mengerjakan instalasi listrik untuk rumah, ia justru banyak mendapat pesanan untuk menyediakan kusen dan daun pintu jendela, kitchen set, dan melengkapi mebel. Hal ini dilihatnya sebagai peluang bisnis, bahwa justru ada banyak orderan yang bisa dikerjakan melalui pekerjaan perkayuan.

Rohmadi kemudian banting stir menggeluti dunia perkayuan. Untuk memperdalam pengetahuan dan ketrampilan, ia kemudian merantau ke Jepara. Di Jepara ia bekerja pada sebuah pabrik mebel selama kurang lebih 5 tahun, sejak 2002 sampai 2007. Selama merantau memperdalam perkayuan di Jepara, Rohmadi bertemu dengan sesama pekerja yang gigih belajar. Teman yang bernama Eko Susanto (27) saat ini menjadi adik ipar sekaligus mitra kerja Rohmadi menjalankan bisnis mebel dan konstruksi kayu di Playen ini.

Terkait bahan baku produksi mebel dan konstruksi kayu, Rohmadi mengaku bahwa saat ini dirinya tidak mengalami kesulitan. Selain mendapatkan bahan pasokan dari para pedagang kayu di wilayah Gunungkidul, Rohmadi terkadang juga melakukan pembelian langsung kepada masyarakat yang menjual kayu hasil kebunnya.

Usaha produksi mebel dan perkayuan yang dijalankan Rohmadi benar-benar dijalankan dari skala kecil. Sepulang dari merantau mendalami perkayuan di Jepara, ia memulai usaha dari kecil. Pertama, dengan berusaha jual-beli kayu, ia nyambi membuatkan mebel orang yang sudah dikenal dan pesan kepadanya. Hasil produk Rohmadi dan kualitas produknya menjadi dikenal dari mulut ke mulut sehingga pesanan terus bertambah.

Rohmadi ingat betul, untuk permodalan usaha pada tahap awal sempat meminjam ke BRI sebesar Rp 2 juta. Pinjaman itu dikembalikan dengan mengangsur selama 1 tahun. Pesanan mebel terus berkembang, hal ini membuat dirinya dipercaya untuk kembali meminjam. Pinjaman yang diberikan meningkat dari Rp 5 juta sampai terakhir diberi kepercayaan pinjaman Rp 100 juta.

“Alkhamdulillah saat ini kami sudah tidak pinjam lagi ke Bank. Kami juga telah memiliki peralatan lengkap dan sediaan bahan baku yang cukup untuk memutar usaha,” ungkap Rohmadi. Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa pemberian warisan rumah dan pekarangan yang kini menjadi tempat tinggal dan tempat usahanya itu merupakan modal utama sekaligus restu dari orang tuanya yang menyemangati agar bisa mandiri berwirausaha.

Pada saat sedang mengalami kelesuan karena menghadapi masalah, Rohmadi selalu mengingat bahwa usaha yang dijalankan ini benar-benar berawal dari nol. Dia selalu memegang semboyan “tanpa tetesing kringet, ora bakal nemahi ayem tentrem”. Tanpa bekerja keras, seseorang tidak bakal mencapai kebahagiaan. (Tugi).

***

Pembaca yang berminat produk ini dapat mengubungi: Rohmadi, Dusun Tumpak Desa Playen Kecamatan Playen Gunungkidul. Telp 081226932006 atau 087838280892.

Komentar

Komentar