Warga Protes Alat Berat yang Akan Melintasi Jalan Kampung Pada Pembangunan Ruang Bersalin RSUD Wonosari

oleh -
Rsud wonosari
Rapat persiapan pembangunan ruang bersalin RSUD Wonosari. (Sumber: Istimewa)

WONOSARI, (KH),– Rencana pembangunan gedung ruang bersalin RSUD Wonosari menuai protes dari warga sekitar. Pasalnya alat berat untuk mensuplai material untuk pembangunan gedung, melewati jalan kampung. Warga khawatir jika nanti jalan kampung di wilayah mereka rusak.

Penyampaian keberatan ini disampaikam oleh perwakilan warga Padukuhan Jeruksari, Kalurahan Wonosari, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, saat menghadiri rapat persiapan kontrak pelaksanaan pembangunan di ruang Yudhistira, Rabu (14/07/2021).

Yatno, salah satu perwakilan warga Jeruksari menyampaikan, bahwa mereka mengkhawatirkan alat berat yang akan digunakan oleh rekanan/pemborong pembangunan yang direncanakan akan melalui jalan kampung di wilayah mereka.

“Jalan kampung kami itu cuma sempit, ketebalan aspal juga cuma sekitar 3 cm, kami khawatir akan mengalami kerusakan jika dilewati alat berat,” terang Yatno, Rabu (15/7/2021).

“Sementara, dulu, pengaspalan jalan kampung ini murni swadaya masyarakat,” imbuh Yatno lagi.

Yatno melanjutkan, selain kekhawatiran akan rusaknya jalan, warga Jeruksari juga menyampaikan aspirasi tentang keluhan resah dan khawatirnya warga karena ambulance pembawa jenazah Covid19 sering melintas di jalan kampung mereka.

“Banyak warga yang resah dan ketakutan, karena semakin seringnya ambulance pembawa jenazah Covid19 melintas di jalan kampung, kami minta agar pihak RSUD membuat jalur khusus yang nantinya dilewati ambulance,” lanjut Yatno.

Dalam kesempatan yang sama, Tumija, Lurah Wonosari, menyampaikan bahwa memang selama ini pihak RSUD kurang berkomunikasi dengan warga setempat.

“Kami berharap, masalah ini segera diselesaikan dengan solusi terbaik, agar permasalahan ini tidak semakin melebar,” kata Tumija.

Tumija menyatakan bahwa keberadaan RSUD sangat vital untuk pelayanan kesehatan masyarakat luas, tapi kepentingan warga di sekitar RSUD juga harus dipertimbangkan.

“Terutama soal ambulance pembawa jenazah, terus terang warga kami memang ketakutan, apalagi saat Pandemi seperti ini, harapan kami RSUD akan membuat jalur khusus yang tidak melewati tengah perkampungan,” lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Wonosari, dr Heru Sulistyowati menyatakan akan berembug menanggapi beberapa poin keluhan yang disampaikan oleh warga sekitar RSUD.

“Kami akui bahwa mungkin memang saat ini terjadi miskomunikasi dengan tokoh warga seperti Dukuh. Untuk poin-poin keluhan yang disampaikan, akan kami tindak lanjuti,” ujarnya.

“Soal Ambulance jenazah nanti kita lewatkan lewat depan, jadi tidak lagi melalui jalan kampung,” kata dr Heru lagi.

Dr. Heru melanjutkan, untuk persoalan keberatan warga tentang jalan perkampungan yang dilalui alat berat, pihaknya masih akan menjalin komunikasi intens dengan warga sekitar.

“Kami tidak mungkin melakukan penundaan pembangunan ruang bersalin, lantaran waktu kontrak pengerjaan maksimal hingga tanggal 14 Desember 2021,” ungkapnya.

dr Heru juga menyebut, bahwa rencana pembangunan gedung atau ruang bersalin di RSUD, saat ini memang menjadi kebutuhan yang mendesak.

“RSUD Wonosari, adalah rumah sakit rujukan, sementara ruang bersalin yang kita punyai sangat kecil, itupun bangunan lawas, pembangunan ini tidak mungkin akan ditunda atau distop,” lanjutnya.

Menurut dr Heru, pembangunan ruang bersalin ini akan memakan anggaran sebanyak Rp9 miliar dengan sumber Dana Alokasi Khusus (DAK). Bangunan tersebut nanti akan berwujud bangunan dua lantai.

“Nanti kita akan komunikasikan lebih intens dengan warga, sehingga tercapai kesepakatan dan solusi, pembangunan gedung ini kita dikejar waktu, batas akhir sampai Desember 2021,” pungkasnya. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar