Warga Giripanggung Menebus Air Hingga Rp 200 ribu

oleh -
Bantuan air dalam rangka hari Bhayangkari dan HUT Polwan. Foto : KH/Dwianjani.
iklan dispar
Bantuan air dalam rangka hari Bhayangkari dan HUT Polwan. Foto : KH/Dwianjani.
Bantuan air dalam rangka hari Bhayangkari dan HUT Polwan. Foto : KH/Dwianjani.

TEPUS,(KH) — Sejumlah desa di wilayah Kabupaten Gunungkidul sudah mulai merasakan krisis air bersih, menyusul musim kemarau panjang. Kekeringan tersebut terjadi di wilayah pegunungan yang dekat dengan area pesisir, seperti Padukuhan Palgading, Desa Giripanggung, Tepus.

Kesulitan untuk mendapatkan air ini lantaran sebagian mata air di wilayah pegunungan debitnya sudah sangat berkurang. Akibatnya, warga harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli air pertangki yang harganya mencapai Rp 160 ribu. Harga air pertangki tersebut bisa melonjak, bila jarak tempuh yang dilalui mobil lebih jauh dan terjal, seperti di Padukuhan Gunung Butak, Desa Giripanggung di mana harga air pertanki bisa mencapai Rp 200 ribu. Rata-rata warga bisa menggunakan air tangki selama 1 bulan, apabila dalam satu keluarga hanya ada empat orang yang menggunakan air.

“Kalau saya, cuma bisa untuk sebulan. Ada tetangga saya yang tidak sampai 1 minggu, karena jumlah anggota keluarganya 6 orang,” ucap Sunyati (40) salah satu warga yang ikut mengantri air, saat droping bantuan 63 tangki air dari Persatuan Bhayangkari dan Polwan Polda DIY, Rabu (19/08/2015).

Dalam acara yang digelar untuk memperingati hari ulang tahun Bhayangkari dan HUT Polisi Wanita (Polwan) tersebut, warga mengaku sangat terbantu. Mereka mengaku, kekeringan sudah terjadi sekitar 5 bulan lalu. Warga lainnya; Jayanto, menjelaskan, sebetulnya sumber air yang biasanya ia gunakan untuk mengambil air berjarak sekitar 1 km dari tempat tinggalnya. Namun, kini sudah kering atau keruh. “Tapi sudah tidak bisa diambil mbak, keruh,” imbuhnya.(Maria Dwianjani/Tty)

Komentar

Komentar