Warga Getas Gruduk Balai Desa, Perang Mulut Warnai Mediasi

oleh -
Adu mulut. Foto : KH/Dwianjani
iklan dispar
Adu mulut. Foto : KH/Dwianjani
Adu mulut. Foto : KH/Dwianjani

WONOSARI, (KH) — Puluhan warga Getas, Kecamatan Playen, hari ini mendatangi Balai Desa setempat guna meminta kejelaskan gugurnya dua balon kades yang dianggap tanpa alasan yang jelas. Dua balon kades tersebut, Eka Wahyu Nugraha dan Murdiono.  Dalam kesempatan mediasi dengan Muspika dan panitia pilkades setempat, kedua balon yang dinyatakan gugur tersebut, turut membawa Dadang Iskandar sebagai juru bicara.

Eka Wahyu Nugraha meminta klarifikasi, mengapa dirinya dinyatakan tidak lolos dalam seleksi beberapa saat lalu. Padahal, berkas-berkas yang ia serahkan, oleh panitia sudah dinyatakan lengkap. Ia baru mengetahui, bahwa surat keterangan pernah bekerja yang dimilikinya, dijadikan alasan pengguguran dirinya, saat pengumuman balon yang lolos. Hampir sama dengan Eka Wahyu, Murdiono mengalami hal yang sama, di mana ia tidak pernah mendapatkan konfirmasi dari panitia, bahwa legalisir ijasahnya bermasalah

“Panitia sendiri yang sudah menyatakan, bahwa berkas-berkas tersebut lengkap. Sekarang, kok, alasanya kurang lengkap lah, apa lah,” ucap Murdiono.

Camat Playen, Suyatno yang menjadi mediator, mencoba menjelaskan, bahwa apa yang panitia kerjakan atau lakukan memiliki dasar kuat, yakni perbub yang berlaku. Dalam menggugurkan salah satu balon kades, menurut Suyatno, panitia sudah melakukan kerjanya dengan adil. Balon yang dianggap gugur, adalah balon yang tidak melengkapi berkas.

“Saya rasa panitia sudah melakukan kerjanya dengan berlandaskan aturan yang berlaku. Ketika saya konfirmasi, ternyata memang persyaratan belum lengkap,” ucapnya.

Mendengar penjelasan dari Camat Playen, dengan nada tinggi Dadang Iskandar menyalahkan pihak panitia yang dianggap arogan dan mematikan hak memilih dan dipilih dua balon tersebut. Menurut Dadang, sudah menjadi kewajiban panitia pemilukades untuk mengkonfirmasi kekurangan syarat yang diajukan oleh balon.

“Kalau kurang legalisir, ya, tanyakan ke Disdikpora tentang kebenaranyya, atau suruh balon ini melengkapi. Komunikasikan dong, bukan main digugurkan saja. Ini namanya arogan,” tandas Dadang.

Suasana panas terus terjadi saat Dadang semakin mengeluarkan kata-kata bernada tinggi dan terkesan bahwa kesalahan terdapat pada sistem kerja panitia penyelenggara pemilukades. Ia juga menganggap, bahwa Camat tidak cermat melakukan pemantauan terhadap petugas pemilukades. Hingga berita ini diturunkan, rencananya Jumat mendatang akan kembali dilakukan mediasi.

Usai mediasi, Camat Playen enggan ditemui wartawan dan memilih untuk langsung pergi. (Maria Dwianjani)

Komentar

Komentar