Usaha Kerajinan Batu Paras Kesulitan Tenaga Kerja

oleh -
kerajinan batu
Kristian, pemilik usaha kerajinan batu paras di Semanu. (KH/ Kandar)

SEMANU, (KH),– Kendala sebuah usaha bukan melulu soal modal dan pasar. Kendala yang tidak begitu umum dialami pengrajin batu paras. Usaha skala industri rumahan di wilayah Semanu, Gunungkidul disebut rata-rata justru mengalami kendala tenaga kerja.

“Pandemi tidak berpengaruh terhadap permintaan. Bahkan sedikit ada peningkatan,” kata Kristian, salah satu pemilik kerajinan batu paras saat ditemui belum lama ini di tempat produksi di Padukuhan Gunungsari, Kalurahan Ngeposari.

Namun demikian, untuk memenuhi permintaan dengan segera, ia mengalami kesulitan. Sebab, produksi terkendala karena minimnya tenaga kerja.

“Kerja di kerajinan batu membutuhkan tenaga fisik yang ekstra. Ini tergolong pekerjaan berat,” sambung lelaki yang akrab dipanggil Eka ini beberapa waktu lalu.

Dahulu pasca mendirikan usaha dengan nama ‘Eka Paras’, pria kelahiran Bali ini punya 15 tenaga kerja. Saat ini tinggal 4 tenaga kerja saja yang bertahan. Berdasar pengamatannya, saat ini semakin sedikit masyarakat yang berminat bekerja di kerajinan batu.

Selain karena alasan tergolong pekerjaan berat. Eka menduga masyarakat saat ini menikmati mudahnya dapat uang tanpa bekerja.

“Maksudnya ya Bansos, saat ini kan banyak masyarakat yang memperoleh. Jangan-jangan menikmati situasi itu, tak bekerja namun tetap memperoleh bantuan,” kelakar Eka menjelaskan dugaannya.

Tidak mudahnya mendapat tenaga kerja juga berkaitan dengan minimnya tenaga kerja dengan keahlian khusus saat mengerjakan kerajinan batu paras. Sebab tidak semua pekerja  mampu atau memiliki kompetensi mengukir batu.

Disinggung soal upah, ia memang mengaku tak dengan mudah menaikkannya. Dirinya membutuhkan banyak pertimbangan saat hendak menaikkan upah.

“Sementara saat ini bahan baku harganya naik, namun harga jual tidak lantas bisa dinaikkan. Makanya upah tenaga harus menyesuaikan,” ujar dia.

Ditanya soal pasar, Eka mengaku banyak mengirim ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Untuk pasar lokal serapannya dinilai lebih sedikit.

“Lebih sering kirim ke Bali. Awal saya rintis 2010 saya pasarkan ke Bali secara door to door,” lanjut dia.

Dari kegigihannya mendatangi calon pembeli satu-satu, kini ia memiliki jumlah pelanggan yang lumayan. Meski tawaran pasar lebih terbuka melalui online, ia enggan melakukannya.

Adapun untuk setiap bulan, Eka mengirim satu truk khusus ke Provinsi Bali. Permintaan tersebut merupakan pesanan dari pelanggan lama.

Harga kerajinan cukup bervariasi. Mulai dari Rp 10 ribu satu pieces. Harganya mencapai 400 ribu untuk relief atau hiasan ukiran dinding. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar