Upah Padat Karya Antarkan Ayam Goreng Pak Parman

oleh -
Foto: kandar
kadhung tresno
Foto: kandar
Pengusaha ayam goreng Parman, Sumiyati  Foto: kandar

PLAYEN, (KH) — Ayam Goreng Pak Parman merupakan salah satu pilihan kuliner yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Gunungkidul. Nama yang kini dikenal luas itu, menyimpan cerita gigihnya perjuangan sang pemilik, Parman dan Sumiyati dalam membangun usahanya.

Berawal dari keluarnya pasangan suami istri itu dari tempat kerjanya di salah satu rumah makan di Yogyakarta pada awal Tahun 1990. Keduannya mulai berwirausaha. Mereka membuka usaha jualan bakmi rebus untuk menopang kebutuhan keluarga.

Mereka memutuskan keluar dari tempatnya bekerja lantaran harus mengurus orang tua yang sudah renta, di Padukuhan Dengok IV, Dengok, Playen, Gunungkidul. Pilihan yang sulit waktu, antara bekerja dengan kewajiban merawat orang tua. Parman bekerja serabutan sebelum akhirnya membuka usaha di sebelah timur Pasar Playen.

“Waktu itu bapak ikut padat karya. Upahnya dibelikan ayam kampung dan mie. Jual bakmi rebus dengan angkringan adalah usaha yang pertama, sebelum akhirnya konsentrasi jualan ayam goreng,” ungkap Sumiyati, saat ditemui di Kios Jl Wonosari-Yogya Km 3,5 Siyono.

Soal resep bakmi rebus, mereka tak tahu sebelumnya. Pengalaman bekerja di rumah makan menjadi senjata utamanya untuk mencoba berbagai bahan bumbu, agar menghasilkan rasa bakmi yang nikmat. Buka pukul 17.00 WIB hingga tengah malam menjadi rutinitas. Tidak laku selama semalam, pembeli nakal tidak mau bayar, serta banyak peristiwa lainnya yang menguji jiwa usahannya, terus dihadapi.

“Terus saja dijalankan. Tidak ada niat untuk berhenti atau tutup. Malah tahun 2003 kita tambah jualan ayam goreng. Setelah keberhasilan yang kami raih seperti sekarang, ternyata semua itu cobaan dan godaan saja,” ucap Parman melengkapi cerita, Kamis, (22/1/2015).

Tahun 2007 keduannya memutuskan untuk konsentrasi jualan ayam goreng, dengan alasan, jika bakmi rebus, mulai dari racikan bumbu dan memasaknya harus mereka tangani sendiri. Jika ayam goreng, mereka hanya mengatur komposisi bumbunya saja. Untuk urusan memasak, bisa dilakukan karyawannya.

Kini, Ia memiliki 3 outlet dengan daya tampung puluhan pembeli. 2 di Gunungkidul dan 1 di Yogyakarta. 1 outlet yang lain sudah Sumiyati berikan untuk dikelola adik kandungnya. Rasa senasib dalam keluarga begitu kuat, perasaan yang sama, bahwa berasal dari keluarga tidak mampu, membuatnya untuk memberdayakan saudaranya dengan memberi salah satu outlet cabang usahannya.

Ibu dua anak ini awalnya tak mengira, jika usahanya akan berhasil seperti sekarang. Ia menambahkan, di Tahun mendatang masih ada rencana pembukaan cabang baru dengan kapasitas pengunjung yang lebih besar lagi.

Setelah melewati perjuangan berat, beberapa kemudahan Ia temukan saat ini. Ada hal penting yang diingat betul olehnya, ketika merintis wirausaha. jika ingin berwirausaha, modal kemauan adalah yang utama. Modal uang banyak tak serta merta menjamin usaha akan berhasil. Doa orang tua dan kerabat Ia yakini menjadi bagian keberhasilannya. Ia ingat, ketika harus merelakan pekerjaannya dan lebih memilih merawat orang tuanya. (Kandar/Tty)

Komentar

Komentar