Tukang Becak Kuliahkan 2 Anaknya di UIN Sunan Kalijaga

oleh -
iklan dispar
WONOSARI, Kabarhandayani,– Pengajian rutin Minggu keempat di PP Al Hikmah, khusus untuk umum dan wali santri berlangsung menarik. Dalam acara tersebut yang memberikan pengajian bukan ustadz terkenal, tetapi tukang becak bernama Agus (48, foto duduk berbaju putih) warga Plemantung Sidomulyo Bambanglipuro Bantul, dan Wagiyo (duduk berbaju batik), seorang Bong Supit dan pengusaha sablon, warga Jl Paris Km 13 Bakulan Wetan Bantul.
Agus didepan ratusan santri dan orang tua santri mengungkapkan pengalamannya sebagai tukang becak. Setiap hari mangkal di Danunegaran dengan becak sewaan. Kendati hasilnya juga pas-pasan, Agus tidak lupa menunaikan ibadah shalat. Dengan rajin menunaikan ibadah, ternyata Tuhan tidak tidur. Rejekinya terus meningkat, dan memberanikan  diri menikah dengan gadis pujaannya Sujiyem. Hasil perkawinannya membuahkan 7 anak, 2 anaknya sudah kuliah di UIN Sunan Kalijaga, masing-masing Umi Kultum dan Abdullah Sujadi, sedangkan anak ketiga dan keempat sekolah di SMP kelas III dan I, dan yang 3 masih sekolah di SD kelas V,III dan I.
Sebagai tukang becak, Agus tetap rajin mengumpulkan infak untuk pembangunan masjid di desanya. Ia tidak kenal lelah untuk mencari dana, dan ternyata masjid di desanya berhasil dibangun dengan dana gotong royong. Setiap bertindak Agus tak lupa menyebut nama Allah, dan juga rajin mengisi kegiatan di masjid.
Harun Al Rosyid dalam tanggapan sangat terkesan. Meski Agus hanya berprofesi sebagai tukang becak bisa menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Anak-anaknya pun semua sekolah dan rajin mengaji.
Penceramah kedua adalah Wagiyo. Ia lahir di Watubelah desa Kemadang Tanjungsari. Saat ini ia menetap di Yogya mencari nafkah. Wagiyo pada awalnya (1994) bekerja di Foto-Copy. Hanya kurang satu bulan kemudian ketemu Ustadz Harun Al Rosyid tahun 1995-1996 dan tahun 1997 menikah dengan gadis Bantul, dan dikaruniai 3 anak, anak yang kedua meninggal, sehingga tinggal 2 anak sekolah di SMK dan SDM kelas 4.
Wagiyo kemudian menekuni profesi tukang sunat, belajar dari saudaranya yang menjadi Mantri Kesehatan. Praktek pertama yang dilakukan Wagiyo adalah menyunat anak kakak perempuannya. Praktek pertama tersebut berjalan lancar dan sukses. Sampai saat ini Wagiyo berprofesi sebagai Bong Supit. Selain itu, ia juga membuka usaha jasa sablon.
Dalam penuturannya, pengalaman hidup Wagiyo dimulai dari Masjid Danunegaran. Ia rajin mengaji dan mengajak teman-temannya rajin di masjid. Sampai sekarang selalu mengutamakan shalat lima waktu, ternyata dapat hidupnya enak. ”Saya sanggup memberi kursus bagaimana caranya sunatan, saya juga siap sunatan masal gratis.” kata Wagiyo.
Assek II Tomy Harahap SH mewakili Bupati Hj Badingah SSos dalam sambutannya menyatakan menyambut baik atas terselenggaranya pengajian umum di PP Al Hikmah, sebagai usaha syiar agama Islam, pembinaan iman dan taqwa, serta mempererat jalinan silaturahmi. (Berita dan foto kiriman: Sarwo, Ed: Jjw)

Komentar

Komentar