Buka Warung Bebek Kang Surbeh, Berawal dari Kerja Serabutan

oleh -
iklan dispar

PLAYEN, kabarhandayani,– Era tahun 90-an, untuk mendapatkan pekerjaan termasuk sulit. Demikian juga Suryanto, meski sudah malang melintang di kota Wonosari, ia belum juga mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.
Lima tahun berkutat usaha di kota gaplek ini, Suryanto belum juga mendapatkan pekerjaan tetap. Sementara usianya sudah berkepala dua (27 tahun) waktu itu. Karena itu, pekerjaan serabutan apapun dilakukannya. Kadang ikut jadi tukang batu, tukang kayu, dan mencoba blantikan di pasar hewan.
Ternyata ada sinar terang tiap pasaran Wage dan Kliwon bagi Suryanto. Ia selalu mendapatkan uang dari hasil blantikan (menjualkan ternak). Hasilnya yang ia peroleh itu kemudian ditabung. Dalam satu tahun terkumpul Rp 600.000,- Suryanto kemudian memberanikan diri untuk jualan ayam goreng kremes, lele goreng kremes. Ia keluar dari rumahnya jam 16.00, dan berdagang sampai malam di emper toko Jalan Sumarwi Wonosari.
Ketekunan Suryanto berbuah manis. Usahanya bisa jalan terus. Dagangan disiapkan dari rumahnya di Dusun Pandansari Wonosari sejak pagi hari. Tepat jam 16.00 WIB, dengan gerobag dorong, dagangan dibawa ke Jl Sumarwi. ”Dulu harganya baru Rp 1.500,- untuk sekali makan nasi/ayam goreng dan minum teh, juga termasuk pecel lele harganya sama.” Kata Suryanto.
Karena baru Suryanto sendirian yang berjualan ayam goreng dan pecel lele di Kota Wonosari, dagangannya laris manis. Tidak sampai jam 21.00 WIB dagangan sudah habis. Ia kemudian membuka lokasi baru di trotoar Alun-alun Wonosari. Kegigihan dan susah payah melakoni usaha di 2 tempat, ia tebus dengan hasil yang juga lumayan. Akhirnya ia bisa beli mobil untuk menopang usahanya, kemudian menikah dan punya anak. “Cukup dua anak sesuai dengan program pemerintah,” ujar Suryanto.
Selain berjualan ayam goreng dan pecel lele, ia menambah dagangan bebek goreng kremes. Itu ia lakukan untuk memenuhi permintaan pelanggan warungnya. Untuk itu setiap hari ia mendatangkan bebek dari Godean Sleman, termasuk lele juga dari Godean. Sementara untuk ayam kampung dibeli dari pedagang di
Wonosari.
Untuk saat ini, harga satu porsi untuk ayam goreng Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu (tergantung besar kecilnya ayam). Harga tersebut sudah termasuk teh ginastel, bisa teh panas atau es teh. Untuk harga bebek goreng  sama dengan harga ayam goreng dan Pecel Lele. Untuk menarik pembeli, Suryanto memberikan layanan apa yang diminta, sambal trasi, sambal bawang oke, dan sambal trasipun dilayani. Yang penting tidak membuat pembeli kecewa.
Mulai 17 Agustus 2014 yang lalu, Suryanto membuka cabang baru di Playen, dengan papan nama Bebek Goreng Kang Surbeh. Nama tersebut diambil dari ucapan anaknya, yang merasa kecewa permintaannya tidak dipenuhi oleh ayahnya. Ucapan yang muncul ”Surbeh” dan ditambah Kang, menjadi Kang Surbeh. Buka tepat pada tanggal 17 Agustus 2014. Pada saat peresmian, Suryanto memberikan layanan gratis kepada warga RT 01/02 Dusun Playen I, sekitar 60- 70 orang yang kebetulan mengadakan malam Tirakatan HUT Kemerdekaan RI ke 69.
Usaha Suryanto ini ternyata juga dapat mengurangi pengangguran. Tiga warung makan yang ia kelola mampu mempekerjakan 14 orang. Di antara pekerjanya ada yang sudah berkeluarga. “Lebaran bulan lalu cukup ramai, dua warung dalam sehari menghabiskan 500 ekor ayam, 300 ekor bebek dan 75 kg lele. Sekarang sudah normal sehari untuk 3 warungnya menghabiskan 100 ekor ayam, 50 ekor bebek dan 30 kg Lele,” ujar Suryanto. Saat ini warung Bebek Kang Surbeh juga melayani pesanan untuk acara rapat, wisata dan untuk berbagai keperliuan resepsi. (Berita dan foto kiriman: Sarwo. Ed: Jjw).

Komentar

Komentar