Tebing Pantai Ngungap Yang Dilukis Tahun 1856 Oleh Franz W Junghuhn Tak Berubah

oleh -
Perbedaan foto bentang alam Pantai Ngungap 2020 dengan Lukisan F W Junghuhn. (KH)
iklan dispar

RONGKOP, (KH),– Gunungsewu pada masa lampau pernah dikunjungi Franz Wilhelm Junghuhn, seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman lalu kemudian Belanda.

Penjelajahannya ke Gunungsewu merupakan bagian misinya melakukan observasi terhadap Pulau Jawa. Saat berada di Gunungsewu dirinya menyempatkan menembus bukit-bukit hingga singgah di pesisir selatan. Tepatnya berada di Pantai Ngongap/Ngungap. Kawasan pantai berupa tebing tinggi yang saat ini masuk di wilayah Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul.

Bukti otentik kedatangan Franz Wilhelm Junghuhn di Pantai Ngungap itu dapat diketahui dari dokumentasi karya lukisannya berjudul “Sudkuste Ostwarts von Rongkop”. Sebagaimana diketahui, dahulu wilayah ini masuk ke dalam wilayah Rongkop.

Junghuhn mengabadikan pemandangan Pantai Ngongap satu setengah abad yang lalu. Saat ini, bentang alam fitur bentuk karang di lukisan masih dapat dikenali dengan mudah. Sebab beberapa diantaranya tak banyak berubah.

KH menyempatkan menengok lokasi Pantai Ngungap beberapa waktu lalu. Mencoba mencari titik untuk memperoleh sudut pandang yang sama dengan lukisan Junghuhn.

Bentuk deretan tebing pantai kondisinya masih sama persis dengan keadaan 150-an tahun lalu. Tebing karang diantaranya dengan tepian sudut lancip dilengkapi hamparan lapang berumput di belakangnya juga tak berubah.

Di titik lain, tebing menjorok ke laut semakin meninggi dengan tepi ditumbuhi semak juga masih ada. Di belakang tebing yang meninggi itu, bukit-bukit dipenuhi rerimbunan pohon nampak hijau dari kejauhan. Sekali lagi persis dengan lukisan Jughuhn.

Dihubungi melalui seluler, Lurah Pucung, Estu Dwiyono menyebutkan, pantai Ngungap saat ini belum difungsikan sebagai destinasi kunjungan wisata. Diakui, keberadaannya kalah tenar dengan pantai lain di Gunungkidul.

Apabila berkunjung, tidak jauh sebelum sampai di bibir pantai terdapat pendapa yang saat ini kondisinya rusak cukup serius. menurut Estu pendapa tersebut sebelumnya digunakan sebagai tempat menggelar ritual dan doa sebelum panen sarang burung walet (Aerodramus maximus).

Dahulu setiap periode waktu tertentu usaha panen walet yang dikelola pemerintah daerah masih sering dilakukan. “Selepas tahun 97/98 sudah semakin jarang dilakukan. Setelahnya sempat dilanjutkan orang-orang yang sempat ikut mengelola,” terang dia, Selasa (6/10/2020).

Menurut dia, pihak desa belum lama ini melakukan koordinasi dengan pemkab terkait pemanfaatan pantai. Sebab dahulu memang tidak diperkenankan untuk kunjungan wisatawan karena digunakan untuk kegiatan usaha walet.

“Kami koordinasi dengan Setda, jika memungkinkan dan diperbolehkan ada wacana untuk wisata,” kata dia.

Selama ini, di kawasan Pantai Ngungap lebih banyak dimanfaatkan nelayan lokal untuk mencari lobster. (Kandar)

Komentar

Komentar