Tanaman ini Dianggap Liar, Tetapi Bernilai Jual

oleh -
iklan dispar
WONOSARI, kabarhandayani.– Warga masyarakat Gunungkidul terutama warga yang tinggal di wilayah pedesaan biasanya memiliki tanah yang cukup luas termasuk area rumah dan pekarangan. Banyak pekarangan yang hanya menjadi tanah tidak produktif sehingga minim akan unsur hara dan berstruktur tandus.

Pasalnya, mereka hanya menanami lahan pekarangan dengan tanaman pohon berakar tunggang seperti jati, mahoni dan sebagainya. Dengan alasan tersebut, Suharyanti, warga Padukuhan Tegalrejo, Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul memanfaatkan lahan pekarangannya yang kosong dengan menanam garut.
Suharyanti yang merupakan ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Trubus menjelaskan, upaya pemanfaatan lahan kosong tersebut sudah dimulai sejak 3 tahun yang lalu. Ia membudidayakan tanaman garut yang termasuk dalam umbi-umbian ini di atas lahan seluas 250 meter persegi di sela-sela tanaman jati dan mahoni.
Suharyanti menuturkan, ia memilih tanaman garut untuk dibudidayakan karena selama ini garut hanya menjadi tanaman liar dan kurang dimanfaatkan. Selain itu, keberadaan tanaman garut yang mulai langka juga menjadi pendorong Suharyanti untuk membudidayakannya.
Suharyanti menjelaskan, dalam satu kali tanam, tanaman garut dapat dipanen lebih dari satu kali dalam periode 3 tahun sekali. Pemanenan garut pun harus memperhatikan musim, kualitasnya akan baik ketika dipanen di saat musim kemarau.
Dalam musim panen kali ini, ia memperoleh sekitar 1 kwintal dan dijual dengan harga Rp 2.500,00 per kilo. “Garut dianggap sebagai tanaman yang kurang berarti dan hanya menjadi tanaman liar padahal sebenarnya memiliki nilai jual, dapat diolah menjadi emping garut. Garut bisa dipanen 1 tahun sekali, waktu pemanenan yang baik di musim kemarau agar kualitas umbinya bagus dan tidak ganyong atau keras,” jelasnya.
Menurut Suharyanti, banyak warga Padukuhan Tegalrejo yang mengikuti jejaknya untuk memanfaatkan lahan kosong di pekarangannya guna budidaya garut. “Kontur tanah disini memang tandus, mungkin jika diolah dengan baik dan dipupuk saya kira akan dapat dipanen 2 kali setahun,” pungkasnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar