Tak Pernah Pergi Dan Menerima Tamu, Tapi Lebih Dulu Terdeteksi Kena COVID-19

oleh -
ilustrasi. (istimewa/radar kudus)
iklan dispar

WONOSARI, (KH),— Enam Warga di Kapanewon Karangmojo saat ini dirawat karena terkena COVID-19. 5 diantaranya merupakan satu keluarga. Kasus yang dialami satu keluarga ini diketahui diawali dari positifnya salah satu anggota keluarga berjenis kelamin perempuan berusia 61 tahun pada Minggu, 5 Juli 2020 lalu.

Empat anggota keluarga yang lain baru diketahui atau dinyatakan positif COVID-19 pada Jum’at, (10/7/2020) lalu. 6 hari berikutnya setelah kasus pertama. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty mengaku kasus yang dialami satu keluarga ini berbeda dengan kasus lain. Sebab, orang pertama kali yang diketahui terkena COVID-19 tak pernah bepergian atau menerima tamu orang asing.

“Kasus pertama dialami orang yang masuk kategori umur lansia. Tidak kemana-mana dan juga tidak menerima tamu,” terang Dewi, Minggu, (12/7/2020).

Pihaknya mengaku kesulitan dalam minya melakukan tracing. Utamanya dalam menentukan dugaan siapa yang menularkan ke siapa. Namun setelah dilakukan penelusuran mendalam, dirinya memiliki dua asumsi.

“Anggota keluarga yang menularkan memiliki gejala belakangan daripada yang tertular. Sehingga anggota keluarga yang tidak kemana-mana diperiksa atau dites swab lebih dulu,” kata dia menyampaikan dugaan pertama.

Dengan kata lain, anggota keluarga yang menularkan sebelumnya berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG).

Kemungkinan ke dua, imbuh Dewi, hasil dari swab anggota keluarga selain kasus pertama, keluar belakangan.

Pihaknya menduga kasus yang menimpa keluarga tersebut mulanya diawali dari aktivitas salah satu anggota keluarga yang rentan kontak dengan orang luar. Virus COVID-19 dibawa oleh anggota keluarga yang sebelumnya memiliki riwayat berpergian.

Dugaan Dewi diperkuat dengan keterangan Jaga Baya Kalurahan Bejiharjo, Ariyanto. Sebelum hasil swab 4 anggota keluarga keluar dengan hasil positif, kepala keluarga di keluarga itu memiliki riwayat perjalanan dari Surabaya. Sebab, yang bersangkutan berprofesi sebagai sopir.

“Kami berkoordinasi dengan relawan desa dan padukuhan memberikan bantuan logistik dan keperluan lain keluarga itu pasca terkena COVD-19. Koordinasi juga kami jalin dengan puskesmas,” terang Ariyanto menyampaikan penanganan tanggap darurat COVID-19 di wilayahnya.

Komentar

Komentar