Siaga Gempa dan Tsunami di Gunungkidul

oleh -
iklan golkar Gunungkidul
WONOSARI,(KH)–Dalam rangka kedaruratan bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mengadakan pelatihan gladi ruang terkait dengan gempa bumi berpotensi tsunami. Salah satu kegiatan yang dilakukan di dalam ruangan Sewokoprojo tersebut adalah bagaimana cara memberitakan (komunikasi) bila mana terjadi gempa bumi mulai dari BMKG pusat hingga pemberitahuan kepada masyarakat umum.

Pelatihan yang diadakan pada hari ini, Kamis (13/11/2014), ditujukan kepada semua anggota agar lebih memahami bagaimana struktur berkomunikasi yang benar jika terjadi bencana. “Sering kali alat komunikasi seperti handphone dan yang lainnya mengalami gangguan jika terjadi bencana. Seperti yang terjadi pada gempa pada tahun 2006 silam dimana alat komunikasi sempat mengalami gangguan, maka dari itu anggota perlu mengerti alat komunikasi apa saja yang bisa digunakan jika ada gangguan jaringan komunikasi,” kata Budiharjo Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul.

Adapun alat yang digunakan sebagai latihan komunikasi berupa beberapa tali berwarna yang setiap warnanya mewakili satu per satu alat komunikasi. Dengan poros BMKG yang memberikan informasi para anggota baik dari BPBD, aparat keamanan sampai pada tim SAR untuk menghubungkan benang-benang tersebut dengan benar. Selain adanya pelatihan, pada kegiatan ini juga diadakan diskusi kelompok yang membahas dan mempraktekkan perannya masing-masing dari pengendali sampai pada pelaku.

Latihan dalam ruang dengan menggunakan skenario yang sengaja dirancang agar mirip dengan situasi sebenarnya itu diharapkan menghasilkan masukan dan rekomendasi bagi anggota mengenai prosedur yang paling sesuai diambil dalam situasi bencana berskala besar. “Peserta akan berdiskusi dipandu fasilitator dengan tujuan utama merespons skenario kejadian bencana yang disusun sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu alat deteksi tsunami juga sudah terpasang di beberapa pantai di Gunungkidul antara lain, pantai Ngrenehan, Sundak, Drini, dan pantai Siung berupa sirine. “Alat-alat tersebut memang sudah terpasang namun ada sebagian yang belum berfungsi maksimal dan perlu diperbaiki,” imbuhnya.

Sesuai dengan instruksi pusat,masyarakat di sepanjang pesisir pantai juga sudah diberikan arahan dan pelatihan jika terjadi bencana. “Kami juga telah bekerjasama dengan masyarakat baik nelayan, pedagang dan wisatawan, untuk gladi tsunami, juga untuk melatih keterampilan petugas aparatur dan relawan untuk mempraktekkan komunikasi, dan cara evakuasi yang benar,” jelas Budi.

Untuk penyampaian informasi bila terjadi gempa disertai tsunami, BMKG Daerah memberikan informasi kepada BPBD Kabupaten dan akan ditindak-lanjuti oleh anggota dengan komunikasi seperti pada pelatihan hari ini, kemudian tim SAR akan melakukan monitoring jika terjadi gempa yang berpotensi tsunami. “Proses terjadinya tsunami sendiri setelah adanya gempa hanya dalam waktu 20 menit maka dari itu tindakan cepat dan profesional perlu diterapkan,”pungkasnya.(Atmaja/Bara)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar