Setelah Lulus SMA/SMK Terus Mau Apa dan Kemana?

oleh -
iklan dispar

Penulis: J Yanuwidiasta

KABARHANDAYANI.– Dalam beberapa hari ini, percakapan heboh di media online, media cetak dan bahkan media sosial adalah tentang aksi corat-coret pilok baju seragam SMA/SMK ataupun aksi pawai sepeda motor yang berpotensi tidak tertib. Sampai-sampai ada Dinas Pendidikan di sebuah kabupaten yang bekerjasama dengan Kepolisian menggelar lomba pawai sepeda motor dengan tema Lomba Tertib Berlalu Lintas. Menurut informasi yang diperoleh, ini adalah upaya dalam mengantisipasi pawai liar atau kebut-kebutan yang mungkin akan dilakukan para siswa SMA/SMK yang baru saja merayakan kelulusannya.

Ya, agak nyleneh memang langkah ini. Sepintas lalu memang terlihat mewadahi atau mengakomodasi gejolak anak muda yang ingin mengekspresikan aksinya lewat pawai motor dengan baju penuh corat-coretan pilok. Mungkin pula sebagai peredam aksi pemotor dengan gas motornya dibleyer-bleyer berjalan zig-zag naik motornya.

Ibarat pedang bermata dua, “Lomba Tiblantas” ini sejatinya juga menjadi sinyal “ketidakberdayaan” kita. Kalau boleh jujur adalah juga salah satu bentuk “kegagalan” kita dalam mendidik anak-anak. Mengapa kita? Ya, karena bagaimanapun anak-anak berproses belajar dalam kehidupan, tidak semata belajar kepada para guru di satuan pendidikan formal mereka. Tetapi bagaimanapun ia belajar kepada sesiapapun yang ia jumpai dalam kehidupan.

Aksi kebut-kebutan di jalan ataupun corat-coretan baju sesungguhnya adalah potret diri kita semua. Karena sejatinya secara naluriah mereka belajar kepada siapa saja, juga apa saja yang dijumpai dalam kehidupan. Aksi atau perilaku anak-anak tersebut sesungguhnya menggugah pertanyaan mendalam di hati kita semua. Sudahkan kita berlaku benar dan pantas menjadi teladan bagi anak-anak, entah apapun peranan kita. Entah kita sebagai orang tua apapun kedudukan dan pekerjaan kita. Kita sebagai guru di sekolah. Kita sebagai tokoh masyarakat atau rohaniwan. Kita sebagai pejabat di birokrasi. Kita sebagai pejabat di lembaga penegak hukum. Kita sebagai legislator, juga kita sebagai aktivis atau politikus partai.

Ketika kita sekadar dalam posisi menyalahkan tingkah laku anak-anak kita yang kebut-kebutan atau pilok-pilokan itu, sesungguhnya di situlah kita semua juga menunjukkan aksi memperolok diri kita. Ini sekaligus bukti bahwa kita gemar aksi mempersalahkan anak-anak, daripada memperbaiki diri menjadi lebih berkualitas dalam kehidupan. Di sisi lain, “aksi” berupa capaian nilai akademik yang membanggakan dari anak-anak kita di masing-masing sekolah terkadang luput dari amatan dan perbincangan, seolah-olah raib ditutup gemuruhnya perbincangan aksi jalanan itu.

Setelah Lulus Mau Langsung Bekerja?

Permasalahan dan pertanyaan mendasar di hati sanubari terdalam anak-anak kita yang baru lulus SMA/SMK sejatinya adalah, “Setelah saya lulus terus mau apa?” Ini sesungguhnya menjadi permasalahan yang tidak kalah serius dibandingkan aksi corat-coret dan kebut-kebutan itu.

Sesungguhnya generasi masyarakat Gunungkidul terdahulu telah menorehkan sejarah kebaikan dan kebajikan yang tetap relevan bagi kehidupan modernitas masa kini. Meskipun dahulu pendidikan formal belum meluas seperti saat ini, dan kesempatan bersekolah masih dinikmati kalangan terbatas, masyarakat Gunungkidul mampu belajar dari alam raya dan memutuskan harus apa. Buktinya, kegiatan pertanian para lelulur di tanah kering bebatuan ini telah mampu menghidupi anak-cucu, dan melahirkan kita sebagai generasi yang hidup di masa kini. Sebuah etos kerja keras dan kesetiaan yang diwariskan bagi generasi masa kini.

Generasi muda yang saat ini tetap tinggal di Gunungkidul dan berupaya berusaha dengan berbagai kreativitasnya di bidang pertanian, peternakan, perdagangan, pariwisata (yang lagi booming), dan ekonomi kreatif lainnya pada dasarnya juga mewarisi semangat kerja keras bagi kemaslahatan diri dan masyarakat sekitarnya. Ini tentu juga dapat menjadi pilihan bagaimana dan harus apa selepas selesai SMA/SMK, ataupun bekerja sembari melanjutkan pendidikan di tanah leluhur tercinta.

Para perantau asal Gunungkidul di kawasan perkotaan di Indonesia juga dapat menjadi lesson learned bagaimana semangat dan kerja keras itu mampu menjadikan kehidupan menjadi lebih berkualitas, meskipun bekal pendidikan formal awalnya adalah secukupnya. Adalah sudah jamak berangkat ke Jakarta berbekal ijasah sekolah seadanya. Naik bus dan kereta kelas ekonomi adalah lagu wajibnya. Dalam perjuangan di rumah petak atau kontrakan sempit perjuangan dilanjutkan untuk menjadi manusia yang berkualitas. Ada banyak cerita dari kaum perantau asal Gunungkidul yang mampu berkiprah di bidang pekerjaannya. Sudah terbukti ada ribuan perantau yang sembari bekerja kemudian mampu meneruskan ke jenjang pendidikan lanjut karena kebutuhan akan bidang pekerjaan atau karya yang dilakukannya.

Mau Lanjut Sekolah di Jenjang Pendidikan Tinggi?

Bagi para lulusan SMA/SMK yang mau melanjutkan sekolah di jenjang pendidikan tinggi, tentunya perlu menakar dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ada banyak pilihan jenis pendidikan tinggi dan vak/jurusan yang bisa diambil, yang tentunya perlu diklopkan dengan minat, bakat dan passion yang ada dalam diri kita.

Diluar itu, hal yang perlu senantiasa dipertimbangkan dalam jenjang pendidikan tinggi adalah aspek pembiayaan yang tidak sedikit. Itu tentunya memacu agar bersungguh-sungguh dalam menjalani proses menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Ada banyak kisah dari para orang tua, bagaimana mereka kerja keras membanting tulang di lading, di pasar demi membiayai anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah atau bahasa kerennya kuliah.

Sungguh para orang tua sebenarnya menyokong penuh dengan berbagai upaya, misalnya: adol sapi, adol wedhus, adol kayu jati, adol kayu mahoni, adol kacang-dele, adol puli-tempe, dan lain sebagainya. Tentunya itu menjadi penyemangat dan pengingat agar senantiasa sungguh-sungguh dalam menjalani pendidikan dan nantinya menjadi insan yang sembada, berbakti bagi kemaslahatan bersama sesuai bidang profesinya.

Bagi para lulusan SMA/SMK yang ingin melanjutkan studi di jenjang pendidikan tinggi, mulai saat ini sebaiknya mengenal jenis dan jenjang pendidikan tinggi yang akan ditempuhnya. Ada baiknya menimang-nimang mana yang cocok bagi dirinya. Ada baiknya memahami berbagai istilah dan apa sebetulnya perbedaan universitas, institut, akademi, politeknik, dan sekolah tinggi. Semua itu adalah bentuk-bentuk dari perguruan tinggi. Lantas, apakah perbedaan masing-masing? Berikut ini penjelasan singkatnya:

  • Universitas
    Adalah suatu institusi pendidikan tinggi dan penelitian, yang memberikan gelar akademik dalam berbagai bidang. Sebuah universitas menyediakan pendidikan sarjana dan pascasarjana. Kata universitas berasal dari bahasa Latin universitas magistrorum et scholarium, yang berarti “komunitas guru dan akademisi”. Universitas terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.
  • Institut
    Adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi (profesi kejuruan) dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Institut memberikan pendidikan dan pengajaran tinggi serta melakukan penelitian dalam beberapa cabang ilmu pengetahuan sejenis.
  • Sekolah Tinggi
    Adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Sekolah tinggi menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakanpendidikan profesi. Sekolah Tinggi memberikan pendidikan dan pengajaran tinggi serta melakukan penelitian dalam satu cabang ilmu pengetahuan.
  • Akademi
    Akademi adalah suatu institusi pendidikan tinggi, penelitian, atau keanggotaan kehormatan. Nama ini berasal dari Sekolah Filsafat Plato yang didirikan pada sekitar tahun 385 SM di Akademia, sebuah tempat yang diyakini suci di Athena, tempat dewi kebijaksanaan dan kemampuan, di sebelah utara Athena, Yunani. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan,teknologi, dan/atau seni tertentu. Akademi memberikan pendidikan dan pengajaran tinggi yang ditujukan kepada keahlian khusus.
  • Politeknik
    Politeknik menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. Dalam kedudukannya sebagai perguruan tinggi, politeknik merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan pofesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan kesejahteraan umat manusia serta memperkaya kebudayaan nasional. Politeknik merupakan pendidikan profesional yang diarahkan pada kesiapan penerapan keahlian tertentu. Untuk mencapai maksud tersebut, politeknik memberikan pengalaman belajar dan latihan yang memadai untuk membentuk kemampuan profesional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan tinggi atau pendidikan khusus kedinasan dari berbagai institusi pemerintahan/negara juga dapat menjadi pilihan bagi para lulusan SMA/SMK. Ada berbagai institusi kedinasan yang bahkan nantinya menjalankan program penempatan kerja/pofesi setelah tamat pendidikan, seperti: Sekolah Tinggi Akuntasi Negara, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan, Sekolah Tinggi Transportasi Darat, Sekolah Tinggi Sandi Negara, Sekolah Tinggi Statistik, Akademi Militer, Akademi Kepolisian, Akademi Meteorologi dan Geofisika, dan lain-lainnya.

Setelah lulus mau apa dan kemana? Pilihan sepenuhnya ada di tangan adik-adik para lulusan SMA/SMK. Satu hal penting yang boleh kita catat, barangkali adalah pidato salah satu founding fathers negara kita, Dr. Mohammad Hatta saat berpidato di hadapan para lulusan Universitas Indonesia pada tahun 1957. “Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia-manusia yang berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja. Pangkal segala pendidikan karakter adalah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Pendidikan ilmiah dapat melaksanakan pembentukan karakter itu, karena –seperti yang saya katakan tadi- ilmu ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.”

Selamat berprestasi membangun negeri!

 

*) Penulis Jaka Yanuwidiasta, warga perantau asal Gunungkidul tinggal di area Jabodetabek. Artikel ini merupakan opini pribadi penulis.

Komentar

Komentar