SDM dan infrastruktur Penunjang Menjadi Permasalahan Utama Pengelolaan Pariwisata Geopark

oleh -
Pelakasaan Urun Rembug Gotong Royong Geopark Gunung Sewu di Pendopo Embung Nglanggeran. KH
iklan dispar
Pelakasaan Urun Rembug Gotong Royong Geopark Gunung Sewu di Pendopo Embung Nglanggeran. KH
Pelakasaan Urun Rembug Gotong Royong Geopark Gunung Sewu di Pendopo Embung Nglanggeran. KH

PATUK, (KH)— Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nglanggeran bersama Sustainable Tourism Organzation for Rigorous Management (STORM) menginisiasi kegiatan Urun Rembug Gotong Royong Geopark Gunung Sewu di Pendopo Embung Nglanggeran, Gunung Kidul pada Senin, (23/5/2016).

Hadir pada kesempatan ini, perwakilan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, akademisi dan pokdarwis dari 6 geosite. Disampaikan Sugeng Handoko, moderator acara, acara ini merupakan kegiatan perdana setelah penetapan Unesco.

“Gotong royong geopark bisa dijadikan sebagai model pembangunan dan pengembangan dalam dunia kepariwisataan terutama bagi beberapa lokasi geopark yang ada di Indonesia,” ungkap Sugeng.

Untuk diketahui, Geopark Gunung Sewu adalah salah satu geopark di Indonesia yang secara resmi masuk jaringan geopark internasional UNESCO pada September 2015. Geopark Gunung Sewu terdiri dari 3 geo area yaitu Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan.

Harapan dari gotong royong geopark, ujar dia, pengembangannya dapat menggerakan semua elemen dengan tujuan keseimbangan antara alam, budaya dan keuntungan ekonomi.

Untuk itu, Potensi Gunung Sewu, harus bisa dipahami secara komprehensif oleh semua pemangku kepentingan, bahwa kawasan tersebut akan memberikan banyak manfaat untuk masyarakat sekitar.

“Utamanya adalah terjaganya alam dan budaya baik untuk hari ini maupun untuk masa-masa yang akan datang atau yang disebut dengan keberlanjutan pembangunan kawasan. Pertemuan ini merupakan langkah awal atau stimulan untuk dibawa ke Wonogiri dan Pacitan,” papar dia.

Acara yang digelar mendapat dukungan sekaligus dihadiri General Manager (GM) Geopark Gunung Sewu Gunungkidul, Budi Martono, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunung Kidul, Pokdarwis Mriwis Putih, Pokdarwis SBM, Pokdarwis Wira Wisata, Pokdarwis Dewa Bejo, Pokdarwis Tunas Wisata, dan Pokdarwis Desa Wisata Bleberan.

Didalam pelaksanaan, peserta juga mendengar pandangan dari masing-masing geosite, Pemkab Gunung Kidul, Disbudpar Gunung Kidul, Bappeda Gunung Kidul, Disperindagkop Gunung Kidul, Dinas Pendidikan Gunung Kidul, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Geopark Gunung Sewu, pihak travel agent (swasta), akademisi dari UPN “Veteran” Yogyakarta dan PUSPAR UGM, serta GM Geopark Gunung Sewu.

Garis besar dari berbagai pemaparan, dalam pengembangan terdapat permasalahan utama yang dihadapi geosite dalam mengelola pariwisata, yaitu kapasitas SDM dan infrastruktur untuk menunjang keberlanjutan yang mengacu pada tiga pilar geopark yakni pelestarian, pendidikan dan perekonomian.

“Hati-hati dalam mengelola alam, karena alam bisa marah, dengan bahasanya sendiri,” Pesan Budi Martono selaku GM Geopark Gunung Sewu. (Kandar)

Komentar

Komentar