Satlat Dewantara UST Demo Tarung Derajat di SMP N 2 Karangmojo

oleh -
iklan dispar

KARANGMOJO, Kabarhandayani – Tarung derajat Satuan Latihan (Satlat) Dewantara Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menampilkan demonstrasi bela diri di SMPN 2 Karangmojo pada Jumat (9/5/2014).

Wahyu Sipikukuh selaku pelatih tarung derajat Satlat Dewantara UST menjelaskan, demonstrasi ini merupakan bentuk sosialisasi pengenalan bela diri asli Indonesia (dari Bandung). Demo ini juga dalam rangka pencarian bibit unggul tarung derajat Gunungkidul untuk dipersiapkan menjadi atlet tarung derajat dalam Pekan Olahraga Daerah (PORDA) sekitar 2-3 tahun lagi.

Wahyu memaparkan bela diri dengan motto “Aku Ramah Bukan Berarti Takut, Aku Tunduk Bukan Berarti Takluk” ini merupakan ilmu, tindakan moral dan sikap hidup yang memanfaatkan kemampuan daya gerak otot, otak, dan nurani secara realistis dan rasional.

“Ada 5 penguasaan dan penerapan daya gerak moral, yaitu: kekuatan, kecepatan, ketepatan, keberanian, dan keuletan pada gerakan pukulan, tendangan, tangkisan, bantingan, kuncian, hindaran dan gerakan anggota tubuh penting lainnya yang terpola pada teknik, taktik, dan strategi bertahan menyerang yang praktis dan efektif,” paparnya.

Wahyu memaparkan, bela diri ini sudah dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak tahun 1998, dan menjadi bela diri wajib POLRI yang diresmikan pada Januari 2013.

Dalam demonstrasi ini sejumlah 18 petarung menampilkan kolosal, jurus wajib kurata 1 yakni gerak langkah dasar, derajat 2 yakni jurus wajib kurata 4 serta bela diri praktis.

Ahmad Sabani selaku Wakil Kepala Sekolah dan Urusan Kesiswaan SMP N 2 Karangmojo menyambut baik kegiatan ini dan berharap ke depan tarung derajat dapat menjadi salah satu kegiatan ekstrakulikuler.

“Semoga akan ada tindak lanjut dari pelatih, karena setelah melihat display tadi anak-anak nampak antusias untuk belajar bela diri ini. Terlihat sudah ada beberapa siswa yang menghubungi saya untuk ikut latihan yang rencananya akan diadakan setiap hari Senin sore,” ungkapnya.

Penulis: Mutiya, Editor: Hery

Komentar

Komentar