Satgas Covid Kalurahan dan Faskes di Gunungkidul Masih Terkendala Pasokan Oksigen

oleh -
Oksigen
Depot pengisian oksigen kehanisan stok. (Sumber: istimewa)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Kesulitan yang harus dihadapi Satgas Covid tingkat kalurahan serta fasilitas medis saat ini mengenai kelangkaan oksigen.

Oksigen menjadi barang yang sangat penting dalam hal pertolongan pasien Covid19 yang mengalami gejala klinis sesak nafas. Satgas Covid19 tingkat Kalurahan, rata-rata mereka mengeluhkan kesulitan memenuhi kebutuhan oksigen bagi masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah.

Kasus kematian pasien Isolasi Mandiri (Isoman), kebanyakan karena mereka tidak segera mendapat pertolongan oksigen. Sementara Satgas Kalurahan yang notabene bertugas menangani pasien Isoman, kesulitan untuk mencari Oksigen.

Terkadang mereka bisa segera mendapatkan tabung oksigen. Tapi, ketika hendak isi ulang, depo isi ulang kehabisan stok. Bersamaan, permintaan Oksigen pasien Isoman setiap hari semakin bertambah.
Persoalan menjadi labih pelik, bagi para anggota Satgas Kalurahan, walau sifatnya hanya tenaga relawan, mereka harus stand by 24 jam jika sewaktu-waktu ada panggilan dari pasien Isoman.

Hal itu diungkapkan oleh Arif Sunandar (34), anggota Satgas Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul. Arif yang menjabat sebagai Carik Kalurahan Ngawu ini, menceritakan bagaimana dia dan teman-temannya yang tergabung dalam Satgas Kalurahan kesulitan saat harus berburu Oksigen guna pertolongan pasien Isoman yang segera membutuhkannya.

“Sering kami keliling tidak hanya di wilayah Gunungkidul, tapi sampai ke Yogya, dan pulang dengan hasil nihil, rata-rata Oksigen kosong,” terang Arif, Jumat (16/7/2021).

Menghadapi kenyataan bahwa Oksigen sangat dibutuhkan untuk pertolongan pasien Isoman, sementara mereka tidak berhasil mendapatkannya, membuat para relawan ini sering terperangkap dalam dilema dan serba salah.

“Kadang ada tabungnya, tapi Oksigennya habis, dan saat akan isi ulang atau menukar tabung dengan yang isi, deponya kehabisan stok. Pagar ditutup dengan diberi tulisan Oksigen Habis, padahal kita sudah jauh-jauh mendatanginya,” lanjut Arif dengan nada gusar.

Arif melanjutkan, kebutuhan ketersediaan oksigen ini menjadi sangat penting dalam menghadapi keadaan seperti sekarang ini. Ketika rumah sakit penuh, pasien terpaksa Isolasi mandiri di rumah. Maka Satgas Kalurahan yang akan dituju oleh pasien Isoman saat pertolongan.

“Kami mengandalkan Puskesmas untuk mendapatkan Oksigen, tapi stok tabung Puskesmas juga sangat terbatas, dan sering sedang dipakai pasien lain,” lanjutnya.

Arif dan teman-teman Satgas yang lain berharap, selain bantuan Sembako, pemerintah bisa memberikan solusi untuk akses dan ketersediaan Oksigen. Karena, Oksigen menjadi aspek yang lebih urgent dibutuhkan guna pertolongan Pasien Isoman.

“Beberapa waktu lalu, warga kami ada yang meninggal saat menjalani Isoman karena mengalami sesak nafas, dan tidak bisa mendapat pertolongan Oksigen,” pungkas Arif.

Hal senadaa diungkapkan oleh Heni Rahayu, salah satu pengurus Satgas penanganan Covid-19 yang juga anggota Badan Musyawarah Kelurahan (Bamuskal), Kalurahan Salam Kapanewon Patuk Gunungkidul. Dengan alasan kemanusiaan, ia bersama anggota Bamuskal lainnya terjun langsung membantu menangani pasien Covid19 yang menjalani isolasi mandiri.

“Hingga hari Jumat (16/7/2021) ini, tercatat ada 20 warga Kalurahan Salam yang menjalani isolasi mandiri di rumah mereka masing-masing. Letak rumah merekapun jauh-jauh dengan kontur jalan yang tentu tidak mudah ditempuh,” terang Heni.

Heni menyebut, kendala utama dalam menangani pasien Isoman adalah ketersediaan Oksigen bagi mereka yang mendesak membutuhkan.

“Untuk sembako atau yang lain, sebisa mungkin bisa kami penuhi, tapi untuk Oksigen, terus terang kami sangat kesulitan. Kami harus pontang panting mencari, bahkan bisa sampai ke luar daerah dan tak jarang pulang dengan tangan hampa,” ujar Heni.

Heni menyebut, Satgas Kalurahan Salam, saat ini hanya memunyai satu tabung Oksigen, itupun hanya pinjaman dari Puskesmas Patuk.

“Menjadi masalah saat tabung tengah dipakai pasien. Ada permintaan tabung lagi dari warga, terpaksa kami keliling mencari pinjaman tabung gas yang bisa digunakan. Sering tengah malam kami mendatangi bengkel las, untuk meminjam sementara tabung Oksigen, tukang las kan kalau ngelas itu perlu oksigen,” imbuhnya lagi.

Persoalan lain muncul ketika mereka harus melakukan isi ulang tabung oksigen tersebut. Beberapa hari lalu, Heni mengaku masih bisa melakukan isi ulang di Perempatan Sampaan jalan Wonosari yang berjarak 8 kilometer dari Kalurahan Salam.

“Kemarin, kami sudah tidak bisa melakukan isi ulang lagi karena stok habis. Tadi pagi, salah satu anggota Sat Gas Kalurahan Salam yang mencari Oksigen ke Apotek K24 di Gondomanan Kota Yogyakarta namun ternyata juga kosong,” lanjutnya.

Kerja para relawan Satgas ini memang tidak mudah, namun demi tanggung jawab tetap harus mereka lakukan. Karena para pasien Isoman sudah menjadi tanggung jawab mereka.

“Untuk ketersediaan Sembako, Kalurahan sudah menyediakan secara berkala dan untuk pantauan kesehatan dilakukan oleh petugas Puskesmas secara daring. Jika pasien Isoman membutuhkan maka Dukuh setempat akan mengambilkannya ke Puskesmas dan mengantar ke kediaman para pasien isoman, terus terang kendala kami pada ketersediaan dan akses Oksigen,” pungkas Heni.

Pada sisi lain, saat ini Pemerintah memang mengakui koondisi ketersediaan oksigen di DIY memang sangat minim. Hal ini disebabkan tingginya permintaan, yang tidak sebanding dengan pasokan yang ada.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengakui kondisi oksigen medis di wilayah mereka memang tengah kritis. Pasokan oksigen dari agen ataupun produsen tidak mencukupi kebutuhan rumah sakit ataupun masyarakat pada umumnya.

Melansir dari keterangan Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastuti, kepadap media Kamis (15/7/201) kemarin, saat ini kebutuhan oksigen di DIY memang naik dengan drastis, sementara pasokan belum mencukupi.

“Permintaan Oksigen tidak hanya untuk rumah sakit, tapi juga banyak masyarakat yang menjalankan Isoman ataupun masyarakat yang selama ini membutuhkan oksigen juga perlu pasokan, belum yang untuk keperluan industri,” terang Pembajun, Kamis (15/7/2021).

Pembajun melanjutkan, kondisi di DIY saat ini memang tidak memiliki refilling berkapasitas besar. Ditambah, DIY tidak memiliki pabrik Oksigen sendiri.

“Refilling ada di Maguwoharjo, tapi masih tergolong kecil. Untuk pabrik Oksigen yang terdekat ada di Kendal Jawa Tengah. Itupun bukan produksi tetapi mengelola liquid oksigen dari Jakarta ataupun Bontang,” lanjut Pembajun.

Pembajun mengakui, kelangkaan oksigen ini memang sulit diatasi karena pemerintah pusat sendiri sudah menyatakan jika suplai gas di Pulau Jawa sudah tidak mencukupi lagi.

“Yang masih tersedia banyak sebenarnya ada di pulau Sumatera, hanya saja memang harus berebut dengan oksigen untuk industri, selama ini produsen oksigen memang lebih banyak memasok kebutuhan industri yaitu sekitar 75% sementara untuk medis hanya 25%. Kalaupun probabilitas tersebut akan di balik dimana 75% untuk memenuhi kebutuhan medis, itu tidak semudah yang dibayangkan,” kata Pembajun panjang lebar.

Rencananya Pemerintah akan segera melakukan impor Oksigen, terutama untuk kebutuhan medis, sementara untuk pengadaan generator untuk produksi Oksigen Liquid memang belum dilaksanakan. Karena, hal itu bukan ranah atau wewenang Dinas Kesehatan.

“Pasokan Oksigen untuk DIY saat ini sudah 5 kali lebih banyak dari biasanya, tetapi karena permintaannya 6 kali lebih banyak tentu tidak mencukupi,” tukas Pembajun. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar