Regenerasi Dalang Gunungkidul Tak Perlu Dikhawatirkan

oleh -
(ilustrasi) Festival dalang cilik di Gunungkidul. Foto: Wibowo
kadhung tresno
Festival dalang cilik di Gunungkidul. Foto: Juju
Festival dalang cilik di Gunungkidul. Foto: Juju

WONOSARI, (KH) – Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Gunungkidul, Heri Nugroho mengatakan, regenerasi pedalangan di Bumi Handayani ini cukup baik. Sebab, saat ini tercatat ada sekitar  100 dalang muda di Gunungkidul.

“Yang sepuh belum purna, anak-anak yang memiliki bakat dalang kini berusia 17-20 tahun sudah siap meneruskan mereka. Jadi regenerasi dalang di Gunungkidul tidak perlu dikhawatirkan,” katanya, Selasa (13/1/2015).

Dikatakan, pembinaan kepada dalang muda terus dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya sarasehan dalang yang dilakukan 2 kali dalam setahun. Dalam sarasehan tersebut juga dihadiri praktisi, akademisi, dan dinas terkait.

Heri mengungkapkan, pementasan atau lomba dalang yang digelar setiap tahun juga dimaksudkan sebagai pembinaan dalang. Sehingga regenerasi pedalangan di Gunungkidul tidak terputus.

“Untuk tahun 2015 ini, kita akan menggelar 25 paket kegiatan pementasan. Jumlah ini lebih sedikit jika kita bandingkan dengan tahun 2014 sebanyak 36 paket,” katanya.

Heri mengatakan, pada tahun 2015 pementasan dalang akan dibiayai dengan menggunakan dana keistimewaan sebesar kurang lebih Rp 500 juta. “Ini tidak hanya dalang, tetapi kelengkapan seperti sound, tenda akan menggunakan anggran dari danais,” ungkapnya.

Diakui Heri, Dana Keistimewaan yang dialokasikan ke pedalangan,  tidak digunakan untuk membeli alat seperti wayang, gamelan tetapi fokus untuk pembinaan melalui pementasan.

Menurutnya, bantuan seperti gamelan dan wayang akan diberikan melalui anggaran khusus yang pengajuannya melalui sanggar atau desa. Selanjutnya pengajuannya dilakukan di Dinas Kebudayaan DIY.

“Alat memang masih menjadi kendala bagi para dalang, sebab tidak semua dalang memiliki gamelan dan wayang,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Heri juga mengaku, setiap kecamatan di Gunungkidul belum semunya memiliki sanggar pedalangan. Dia menjelaskan, sangar pedalangan baru ada di Ledoksari , Jeruksari, Wiladeg, Semanu, Ngeposari, dan Ngawen.

“Sanggar yang sudah mengajukan, ada yang sudah mendapat wayang satu kotak. Bagi yang sepuh, banyak yang belum memiki alat, karena memang menjadi dalang bukan kursus, melainkan hanya otodidak,” terangnya.

Sementara Kepala Bidang Kebudayaan, Disbudpar Gunungkidul Ristu Raharjo mengatakan, pihaknya bertekad terus mencari dalang muda sehingga Gunungkidul bisa menjadi gudang dalang DIY.

“Berdatangkan data sementara, jumlah dalang di Gunungkidul mencapai 150 orang. Dari jumlah ini, 50 orang sudah sering menerima job.” ulasnya. (Juju)

Komentar

Komentar