Pugeran Rasulan, Dana Penyelenggaraannya Capai Rp100 Juta

oleh -5089 Dilihat
oleh
Rasulan
Penyerahan tokoh wayang kepada dalang sebagai tanda dimulainya pentas wayang kulit di Lapangan Pugeran dalam rangka Rasulan atau bersih dusun. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Rasulan merupakan salah satu adat tradisi yang dilestarikan masyarakat Gunungkidul. Secara singkat upacara tradisional ini dapat dimaknai sebagai ungkapan syukur atas anugerah, seperti hasil panen dan segenap kebaikan lain yang diperoleh masyarakat. Bersamaan diikuti pula permohonan kepada Tuhan agar diwaktu mendatang dikaruniai keselamatan dan keberkahan hidup.

Warga Padukuhan Pugeran, Kalurahan Karangsari, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul selalu antusias menyambut datangnya momentum rasulan. Tahun ini rasulan digelar secara akbar. Lebih-lebih upacara yang akrab disebut sebagai merti dusun atau bersih desa ini beberapa tahun sebelumnya digelar secara sederhana. Sebab, situasi tidak memungkinkan.

Segenap rangkaian penyemarak dilaksaakan terpusat di lapangan bola di padukuhan setempat. Mewarnai atau disela-sela upacara-upacara sakral yang menjadi inti rasulan, yakni kerja bakti lingkungan, kenduri doa, kirab gunungan dan pembersihan sumber air.

Puncak dari rangkaian penyemarak rasulan dipentaskan kesenian wayang kulit dengan dalang Ki Yusuf Anshor. Dalang pertunjukan wayang kulit asal Nglipar yang belakangan namanya kian kesohor.

Tasiyo, tetua dusun yang menjadi penanggungjawab tradisi rasulan Pugeran tahun ini mengatakan, rasulan terlaksana berkat dukungan dana dari warga lokal Pugeran dan warga perantauan.

Sebagaimana terlaksana sebelumnya, antar warga perantau asal Pugeran yang tinggal di berbagai kota dan propinsi bersama warga lokal selalu gotong-royong mendukung agenda rutin rasulan.

“Dalam tempo waktu 1,5 bulan dana rasulan yang terkumpul jumlahnya fantastis, mencapai Rp100 juta,” kata Tasiyo melaporkan jelang wayang kulit dipentaskan, Minggu (3/9/2023) malam.

Dia menyebut, perantau asal Pugeran yang tinggal di Jakarta, Surabaya dan Kalimantan serta kota lain cukup banyak membantu terselenggaranya tradisi rasulan. Dia berharap kekompakan senantiasa terjalin pada pelaksanaan tradisi yang sama pada tahun mendatang.

Tak hanya memberikan dukungan dana, sebagian perantau menyempatkan pulang ke kampung halaman mengikuti prosesi rasulan secara langsung, diantaranya membentuk barisan pada pelaksanaan kirab budaya.

Ikatan perantau asal Pugeran cukup kuat. Sentimen berasal dari kampung halaman yang sama menjadi spirit mereka. Para perantau pun telah lama membentuk paguyban yang dinamai Sedulur Puger Sari (SPS).

“SPS punya slogan, lestari budayaku, maju dusunku, syukur pada tuhan,” ungkap Tasiyo.

Warga peratau yang tak bisa menengok kampung halaman saat rasulan tetap bias menyaksikan serangkaian agenda yang digelar. Para peratau dapat menyaksikan, utamanya jalannya pementasan wayang kulit dengan lakon Wahyu Topeng Waja secara live di youtube.

Adapun di Kawasan lapangan, meski malam dingin menusuk tulang, warga hadir tumpah ruah  menyaksikan pementasan wayang kulit. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar