Potensi Sumber Air Bribin Mampu Selesaikan Permasalahan Air Wilayah Selatan

oleh -
ilustrasi. ket foto: Petugas PDAM sumber Bribin 1 sedang melakukan perbaikan di Pump Booster di dekat Goa Bribin.
kadhung tresno
Petugas PDAM sumber Bribin 1 sedang melakukan perbaikan di Pump Booster di dekat Goa Bribin.
Petugas PDAM sumber Bribin 1 sedang melakukan perbaikan di Pump Booster di dekat Goa Bribin.

SEMANU, (KH)— Target Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani yang mengangkat sumber Air di Goa Bribin Belum Terpenuhi. Sejak diupayakan pengambilan airnya, target sasaran wilayah Terong (Tepus-Rongkop) belum sepenuhnya selesai.

Sumber Air Bribin menyimpan potensi air sungai bawah tanah yang luar biasa, hingga saat ini barulah dapat di naikkan sebanyak 60 hingga 100 liter per detik, dengan ukuran debit tersebut telah mampu mengaliri sekitar 5 kecamatan atau sebanyak 7.700 sambungan rumah. Padahal, potensi air yang tersedia ada antara 600 hingga 700 liter per detik.

“Kita terkendala di alat eksploitasi airnya, biayanya sangat mahal. Apabila maksimal tidak hanya di wilayah selatan saja, bahkan air ini cukup untuk se Gunungkidul,” kata Kasi Teknik PDAM Cabang Bribin I, Sukabdi, beberapa waktu lalu.

Dikatakan, potensi air sebesar itu baru mampu diambil sekitar 15 persennya saja. Namun demikian jaringan berupa sambungan rumah telah menyasar di lima kecamatan wilayah timur-selatan Gunungkidul. lima kecamatan yang sebagian besar atau sebagian kecil telah teraliri diantaranya; Semanu, Girisubo, Tanjungsari, Tepus, dan Rongkop.

Disebutkan, selain menyuplai pemenuhan air wilayah sekitar, yakni Semanu dan kecamatan terdekat, sasaran utama PDAM sumber air Bribin ini memiliki sasaran utama wilayah Tepus-Rongkop. Hingga saat ini target capaian di dua wilayah tersebut belum selesai, untuk Tepus terhitung telah mencapai 50 persen dari keseluruhan warga.

“Sedangkan di wilayah Rongkop sedikit lebih tinggi, yaitu 60 persen masyarakat telah teraliri air dari Bribin. Untuk wilayah pinggir ini secara keseluruhan tidak berupa saluran rumah pribadi, tetapi saluran di bak-bak penampungan,” jelas dia.

Diuraikan, karena jarak yang cukup jauh, bahkan mencapai 20 hingga 25 kilometer pada jaringan terluar maka saluran berupa bak-bak penampungan lebih dipilih daripada sambungan rumah pribadi, karena pertimbangannya apabila terlalu banyak saluran atau instalasi akan menghambat kelancaran aliran air.

“Wilayah pinggir kita pilih dengan pembuatan jaringan yang menuju bak-bak penampungan umum warga, kalau terlalu banyak sambungan rumah malah tersendat,” ungkap Sukabdi.

Sebab, lanjut dia, hal tersebut mengingat jaringan pipa yang menuju wilayah terjauh dari sumber air melalui wilayah perbukitan dan gunug-gunung karst. Sehingga upaya distribusi air yang mengandalkan gaya gravitasi ini cukup terpengaruh. (Kandar)

Komentar

Komentar