Pertemuan Petani Sorgum Playen Diwarnai Kata Pamitan Bupati Hj Badingah

oleh -
Bupati berpamitan akhiri jabatan pada saat sarasehan petani sorgum di Playen. KH/Sarwo.
iklan dispar
Bupati berpamitan akhiri jabatan pada saat sarasehan petani sorgum di Playen. KH/Sarwo.
Bupati berpamitan akan mengakhiri jabatan pada saat sarasehan petani sorgum di Playen. KH/Sarwo.

PLAYEN,(KH)— Bupati Gunungkidul Hj Badingah SSos dalam acara Sarasehan Mitra Komersial Produk BATAN Bidang Pangan (Sorgum) di halaman Rumah Kades Playen, Rabu (29/04) menyampaikan banyak terima kasih atas kepedulian BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), yang mengembangkan sorgun di Desa Playen. Ia berharap, semoga kegiatan kerjasama BATAN dapat membawa kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhir sambutannya Bupati Gunungkidul Hj Badingah SSos, mohon maaf apabila dalam memimpin Gunungkidul, banyak kesalahan dan kekurangannya. Sebab masa jabatan yang diemban akan berakhir pada 27 Juli 2015.

Den Baguse Ngarsa yang menjadi MC dalam acara Sarasehan, berpasangan dengan Dita Margia (Ita) berseloroh, “Apabila Hj Badingah maju lagi dalam Pilkada, saya siap jadi Wakil Bupatinya.” Peserta serentak tertawa.

Sarasehan yang dimoderatori Den Baguse Ngarso dan Ita sangat menarik peserta sarasehan. Satu per satu permasalahan sorgum bisa diatasi. Petani Sorgum Kasman ketika dimintai keterangan Den Baguse Ngarso menjawab, tanaman sorgum cukup baik hasilnya, kendalanya bulir-bulir Sorgum diserang burung. Hal tersebut terjadi karena di lahan pertanian hanya ada tanaman sorgum, sementara tanaman lain sudah dipanen.

Dari Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul diwakili Subranta STP, Kasi Tanaman Pangan menyayangkan, kehadiran BATAN di Playen, tidak lewat Dinas Pertanian Gunungkidul, sehingga Dinas tidak tahu kalau ada uji coba sorgum. Diakui oleh Subranta memang pernah ada PT yang mencoba menanam Sorgum di Gunungkidul, dengan janji-janji dari batang sampai buahnya akan dibeli, tetapi setelah panen PT tersebut tak muncul lagi. Dinas Pertanian apabila diminta membantu petani dalam proyek penanaman Sorgum, hanya bisa memfasilitasi pupuk.

Dari UNY, Prof Dr H Rusgianto Heri Santoso MPd, dalam sarasehan tersebut menyatakan pernah membantu Masyarakat Panggang dalam mengatasi kera ekor panjang. Dan sekarang dimintai bagaimana mengatasi burung (emprit). Ia menyatakan, bisa dicoba dengan ramuan tradisi desa, cari tanaman ketela racun, ambil daunnya ditumbuk dikasih air, kemudian disemprotkan di buah sorgum. Kalau burung masih menyerang, bisa menggunakan ketela racun yang ditumbuk diberi air untuk menyemprot buah sorgum.

Ada cara lain dari UGK (Universitas GunungKidul) sebagaimana diungkap Patmanjiyono. Ia punya pengalaman untuk mengusir burung dengan tembakau diredam air, kemudian dicampur brotowali dan kulit pohon mahoni, yang semuanya pait rasanya, cairan tembako, brotowali dan kulit mahoni disemprotkan di calon buah sorgum,burung tidak mau memakan karena rasanya pahit. Menurutnya, cara ini tidak mempengaruhi buah sorgum.

Sedang Harjono, petani Sorgum yang juga Dukuh Playen I mengungkapkan, ia pernah kedatangan tamu dari Kalimantan yang sanggup membeli sorgum dari Playen, untuk ditanam di tanah reklamasi tambang, tetapi sayang memang produksi belum ada. Dari Bandung ada yang mau beli batang dan daun sorgum, untuk dibawa ke Bandung.

Den Baguse Ngarso kemudian bertanya kepada 13 kades yang ada di Playen tentang kesanggupan menanam sorgum. Kades Banyusoco Sutiyono sanggup menyediakan lahan 10 hektar untuk tanaman sorgum, Kades Ngawu Wagiran sanggup 5 hektar, Kades Ngleri, Bandung, Plembutan sanggup menyediakan lahan 5- 10 hektar. (Sarwo)

Komentar

Komentar