Permintaan Tinggi, Penggoreng Datangkan Belalang Mentah Dari Luar

oleh -
Toko oleh-oleh Pak Gareng, salah satu penggoreng belalang yang mengandalkan suplai belalang dari luar Gunungkidul. KH/ Kandar.
iklan dispar
Toko oleh-oleh Pak Gareng, salah satu penggoreng belalang yang mengandalkan suplai belalang dari luar Gunungkidul. KH/ Kandar.
Toko oleh-oleh Pak Gareng, salah satu penggoreng belalang yang mengandalkan suplai belalang dari luar Gunungkidul. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH)— Belalang tak lagi dengan mudah didapat dari lokal. Hal tersebut diungkapkan oleh pembuat produk oleh-oleh belalang goreng. Menyertai pernyataannya tersebut, cerita dalam memulai menjual belalang goreng dituturkan. Awalnya memang tak disangka belalang yang sebelumnya mudah dan murah kini menjadi komoditi dengan nilai jual yang tinggi.

Salah satunya seperti yang disampaikan oleh pemilik toko oleh-oleh “Pak Gareng” ini, tak banyak yang tahu bahwa tingginya permintaan belalang goreng dari konsumen awalnya dirintis dengan berjualan secara keliling.

Diungkapkan oleh Wisnu Cahyono, rintisan usaha oleh-oleh diawali oleh kedua orang tuanya. Subagyo, Ayah Wisnu semenjak berhenti dari profesi sebagai sopir sekitar tahun 2000-an memulai kegiatan baru yakni mencari belalang. Mudah didapat, sebatas di sekitar rumah tinggalnya saja.

Belalang tersebut tidak dijual mentah, namun dalam kondisi siap makan setelah digoreng. Kemasan belalang goreng masih sangat sederhana waktu itu. Selain ayahnya, ibu Wisnu juga turut membantu dalam pemasaran, berkeliling ke pusat-pusat keramaian, seperti pasar, terminal dan lainnya.

Singkatnya, dagangan belalang goreng laris. Seiring perkembangan pariwisata mereka memilih mendirikan toko atau kios untuk berjualan secara menetap. Karena dampak wisata pula, belalang goreng menjadi kuliner yang khas dari Gunungkidul dengan nilai jual yang tinggi.

Dirinya menyebutkan, saat ini bahan baku belalang mentah dari lokal Gunungkidul tak mampu lagi mencukupi tingginya permintaan konsumen. Mau tidak mau belalang mentah didatangkan dari berbagai wilayah di luar Gunungkidul.

“Belalang kami datangkan dari Purworejo, Kebumen, dan Cilacap. Dari Gunungkidul tidak lagi mencukupi. Dalam sehari kita habiskan rata-rata 30-an kilogram belalang mentah, jika musim libur bisa mencapai 50-an kilogram,” urai Wisnu.

Dalam perjalanan mengembangkan wirausaha, upaya menambah jenis olahan dilakukan. Mereka mencoba secara otodidak memasak gathot dan bakpia. Tutur Wisnu, jenis olahan ini sebenarnya lebih dahulu dikenal sebagai masakan khas Gunungkidul.

“untuk memudahkan akses jangkauan oleh konsumen saat ini kita dirikan kios di kawasan depan terminal Wonosari di Desa Selang, Kecamatan Wonosari,” Ujar Wisnu, Rabu, (4/1/2017).

Menempati lokasi tersebut ia mengaku bahwa sebagian besar konsumennya merupakan wisatawan yang berasal dari wilayah timur, seperti dari Jawa Timur, Solo, Sragen, Ngawi, dan lainnya. Selain produk sendiri: belalang goreng, bakpia, dan gathot, berbagai jenis oleh-oleh yang lain juga disediakan. Jenis oleh-oleh tersebut datang dari UKM pemroduk baik lokal Gunungkidul maupun dari luar.

Lanjut Wisnu, penggunaan nama toko “Pak Gareng” sebagai merek pemasaran mengambil nama panggilan akrab ayahnya, “Gareng”. “Belalang yang awalnya murah dan mudah di dapat di Gunungkidul, kini sulit dan mahal,” tuturnya lagi. (Kandar).

Komentar

Komentar