Pengelolaan SPAMDes Karangrejek Jadi Rujukan Nasional

oleh -
Ton Martono menunjukkan bak reservoir dan pipa-pipa saluran ke masyarakat Karangrejek dan 3 desa disekitarnya. (KH/ Kandar)
iklan dispar
Ton Martono menunjukkan bak reservoir dan pipa-pipa saluran ke masyarakat Karangrejek dan 3 desa disekitarnya. (KH/ Kandar)
Ton Martono menunjukkan bak reservoir dan pipa-pipa saluran ke masyarakat Karangrejek dan 3 desa disekitarnya. (KH/ Kandar)

WONOSARI, (KH)— Sebuah kreativitas dari masyarakat, semangat gotong-royong tinggi kemudian diikuti manajemen yang baik menjadi kunci keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) unit usaha Saluran Air Minum Desa (SPAMDes) Desa Karangrejek.

Layak disebut luar biasa, kabupaten dengan image kering dan tandus ini menjadi rujukan nasional tentang bagaimana mengelola penyediaan air minum secara swadaya. Ton Martono, Ketua SPAMDes Desa Karangrejek mengutarakan, tahun 2008 menjadi awal berdirinya SPAMDes Desa Karangrejek.

Sumur bor yang ada milik desa awalnya hanya untuk mengairi pertanian saja, sementara itu untuk keperluan air minum warga Karangrejek juga mengalami kesulitan setiap musim kemarau. Kemudian bersama tokoh desa, para penggagas ide ini membahas bagaimana menyelesaikan masalah air tersebut.

Singakatnya, induk lembaga BUMDes dibentuk, kemudian unit usaha SPAMDes Pengelola Air Bersih (PAB) Tirta Kencana dirintis dengan mengajukan proposal ke Departemen Pekerjaan Umum (DPU) Satker Pengembangan dan Pengelolaan air minum DIY waktu itu.

Kemudian adanya persetujuan dan kerjasama pula dengan Kementerian PU dan Satker propinsi, Desa Karangrejek akan dibuatkan sumur bor. Pembangunan berada di Padukuhan Karangduwet 1 dengan alasan merupakan tempat dengan ketinggian tanah melebihi area yang lain. Bantuan berupa sumur bor beserta peralatannya sekaligus reservoir senilai hampir Rp 1 M dikucurkan.

“Kemudian setelah itu dikelola, pemipaan ke rumah tangga dilakukan secara gotong royong, instalasi jaringan air secara mandiri dibuat,” kata Ton Martono, Rabu, (14/7/2016).

Lanjut dia, pelanggan pertama ada 150 sambungan air, tahun demi tahun bertambah, pada 2010 menjadi 400 Kepala Keluarga (KK), 2011 bertambah lagi menjadi 600 KK, 2014 menjadi 989 titik, lalu hingga 2016 ini ada 1.203 sambungan rumah. Tak hanya di Karangrejek saja, sambungan air Tirta Kencana ini menyasar desa sekitarnya seperti di Siraman, Baleharjo dan Desa Duwet.

Tiap sambungan rumah pelanggan baru hanya dikenakan biaya Rp. 750 ribu, mendapat fasilitas water meter/ meteran air, pipa 2 lonjor serta pengerjaan ditangani petugas yang ada. Jumlah ini jauh lebih murah dari PDAM milik pemerintah.

“Biaya pelanggan baru di luar Karangrejek dipatok Rp. 1 juta, awalnya, kucuran debit air hanya 5 meter kubik per detik, karena pelanggan semakin banyak, maka dinaikkan menjadi 15 meter kubik per detik,” ungkap Martono.

Dari kapasitas reservoir 24.000 liter serta out put air sebanyak itu pelayanan dapat berjalan secara normal, meski sebenarnya dapat dinaikkan tetapi dengan alasan keawetan peralatan dan harga mesin yang mahal hal tersebut tidak dilakukan. Terakhir, upaya menaikkan  debit dapat diupayakan secara mandiri dengan membeli mesin senilai Rp. 65 juta.

Kewajiban pelanggan setiap meter kubik cukup murah, hanya Rp, 2.500 saja tiap meter kubik, lebih murah dibandingkan dari tarif PDAM yang mencapai Rp. 4 ribu, rincian jumlah pembayaran dibedakan menjadi beberapa kategori, untuk pemakaian antara 1-10 meter kubik tiap bulan maka kewajibannya Rp. 2500/ meter kubik, sedangkan 11-20 meter kubik hitungannya menjadi Rp. 3 ribu, sedangkan 20- 30 Rp. 3.500, serta 30 meter kubik keatas barulah diberi kewajiban membayar Rp. 4.000 per meter kubik.

“Kalau pemakaian banyak biasanya memiliki usaha yang membutuhkan ketersediaan air lebih seperti kolam ikan, laundry, pabrik tahu atau tempe, jasa cuci mobil/ motor dan lainnya. Sehingga layak dibedakan,” imbuh dia.

Ketersediaan air ini mampu mencukupi kebutuhan warga selama 24 jam, panel listrik yang ada dibuat otomatis apabila tampungan air menjelang habis dan penuh akan mati dengan sendirinya. Rata-rata penggunaan rumah tangga normal hanya 1-10 meter kubik saja.

Permasalahan air warga Karangrejek saat kemarau dapat teratasi dengan baik, sumur milik masyarakat yang keruh atau kering ketika kemarau tak menjadi masalah lagi, praktis biaya beli air tangki antara Rp. 70 hingga ratusan ribu berhenti.

Sangat baik, disampaikan lebih jauh kondisi air tanah sangat aman karena diambil dari kedalaman sumur 155 meter, berbeda dengan sumur bor yang dibuat PU untuk Pengairan yang hanya 50 meter, atau sumur milik warga yang memiliki kedalaman maksimal 15 meter.

“Kedalaman lebih dari 100 meter kandungan kapur 0 persen, rutin setiap 6 bulan sekali diperiksa kandungan bakterinya hanya ada 0,0 sekian persen saja. Dalam hal ini kita kerjasama dengan Dinas Kesehatan dan instansi terkait,” lanjut lelaki ramah ini.

Berbeda dengan PDAM, karena mereka mengambil air sungai maka diperlukan penyaringan dan  ditambahkan penggunaan kaporit, PAB Tirta Kencana tidak diperlukan reservoir pembersihan atau penyaringan.

Dari sumur lalu ke reservoir langsung ke pemukiman warga siap untuk konsumsi atau digunakan, bahkan kran sebelum masuk ke reservoir aman untuk diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Keberhasilan ini jelas menjadi solusi permasalahan klasik Gunungkidul yaitu mengenai ketersediaan air.

Bahkan, tidak tanggung-tanggung, banyak Propinsi se Indonesia datang melakukan studi banding ke Desa Karangrejek, melihat bagaimana pengelolaan BUMDes, utamanya SPAMDes dapat berhasil dan berjalan dengan baik.

“Setiap dua minggu sekali pasti ada tamu melihat langsung, tak hanya dari wilayah di pulau Jawa saja, ada dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Papua, dan masih banyak lagi,” ucap aktivis ini.

Sehingga tak heran jika setiap lomba tingkat nasional BUMDes selalu menang terus. Rahasianya urai Martono, yaitu manajemen profesional, kreativitas pengelola, SDM, lalu jangan semata-mata dinilai dari sisi bisnis saja tetapi untuk pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat. (Kandar)

Komentar

Komentar