Penambang Batu: Dilema Kebutuhan Hidup dan Konservasi Pegunungan Sewu

oleh -
kadhung tresno

KARANGMOJO, kabarhandayani.– Penambangan batu kini kian marak di Gunungkidul. Batu kapur dan batu putih menjadi salah satu kekayaan alam di Gunungkidul yang dapat menjadi ladang uang masyarakat Gunungkidul.
Begitu halnya dengan Maryono (49), warga Padukuhan 
Kentheng, Desa Wiladeg, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Ia merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada batu putih yang ada di wilayah Gunungkidul.
Maryono mengaku sudah sejak tahun 1977 mempelajari cara menambang batu yang memang sudah menjadi pekerjaan orang-orang yang lebih tua di atasnya. Semenjak lulus sekolah dasar, ia mulai menambang batu sejak dulu sebelum permintaan pasar akan batu putih belum sebanyak ini.
“Dulu itu penjualannya hanya dengan sistem barter, ditukar dengan barang, tidak diuangkan. Peminatnya juga hanya masyarakat lokal, biasanya buat lantai,” ungkapnya sembari menggergaji batu putih kemarin (2/8/2014).
Namun kini, kata Maryono, permintaan pasar untuk batu putih sangat tinggi dan peminatnya tembus hingga luar daerah seperti Bali. Wajar saja, kini kian banyak orang yang berminat untuk menjadi penambang.
Maryono memaparkan, satu buah batu putih untuk dinding rumah berharga Rp 3.000,00 dan Rp 6.000,00 untuk batu ukuran ukir. Lokasi penambangan biasanya bukan milik sendiri melainkan milik warga yang nanti mendapat 10 persen dari setiap hasil penjualan.
Lokasi penambangan Maryono ini juga bukan miliknya sendiri, tetapi ada juragan yang mengambil ketika stok batu sudah banyak. Pengambilan batu dilakukan 4 hingga 5 kali dalam satu bulan sedangkan dalam satu kali muatan truk berisi sekitar 580 biji. “Ini bukan hasil tambangan saya saja, tetapi bersama teman-teman. Ya lumayan, dari juragan ke pembeli selanjutnya pasti harganya juga lebih tinggi,” jelasnya.
Pria satu anak ini pun sempat merantau ke Jakarta setelah pulang kemudian dagang hasil bumi, namun karena tuntutan ekonomi ia akhirnya memilih menjadi penambang. Ia mengakui, pekerjaan ini memang dilematis antara kebutuhan hidup dan konservasi Pegunungan Sewu. “Kalau perijinannya saya kurang tahu, tapi emang ada wilayah-wilayah yang tidak boleh ditambang. Ikut juragan jadi taunya cuma kerja dan dapat bayaran,” pungkasnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar