Pelajaran TIK Dihapus, Agtifindo dan Kogtik Gencar Lakukan Survei

oleh -
logo Agtifindo dan Kogtik.
iklan dispar
logo Agtifindo dan Kogtik.
logo Agtifindo dan Kogtik.

WONOSARI, (KH)— Semenjak kurikulum 2013 dilaksanakan pada beberapa tahun terakhir, Teknologi Informatika dan Komputer (TIK) dan Keterampilan Komputer Pengelolaan Informasi (KKPI) terhapus dari deretan mata pelajaran yang diajarkan pada siswa. Sejak saat itu guru TIK dan KKPI dialihtugaskan untuk menjadi pembimbing dan konsultan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan komputer dan informatika bagi siswa dan guru di satuan kerjanya.

Hingga saat ini, terhapusnya kedua mata pelajaran itu masih terus menjadi bahan perdebatan. Ada yang setuju mata pelajaran tersebut dihapus, ada pula yang menganggap TIK dan KKPI masih perlu dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran. Di dalam intern para guru komputer sekalipun, perbedaan pendapat itu masih terjadi hingga kini.

Berawal dari permasalahan itu Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (Agtifindo) dan Komunitas Guru TIK dan KPPI (Kogtik) melakukan survei untuk mengetahui pendapat publik tentang perlunya pelajaran dimasukan kembali dalam daftar mata pelajaran kurikulum 2013.

Salah satu guru TIK di Gunungkidul, Hari Setiawan SKom, yang turut aktif menyebarkan link survei mengemukakan, pada dasarnya pelajaran TIK ia anggap masih dibutuhkan siswa. Menurutnya ilmu komputer tidak cukup bila hanya disampaikan melalui mata pelajaran lain saat guru memberikan pembelajaran.

“Kalau dilihat dari beban tugas, saya lebih enak kalau TIK dihapus. Tapi bagi siswa, menurut saya TIK masih dibutuhkan,” jelasnya, Jumat (12/8/2016).

Ia menambahkan pelajaran TIK bisa membuat siswa memiliki sifat produktif karena dalam pembelajaran, siswa diajarkan secara berkesinambungan tentang bagaimana cara menciptakan sebuah web, aplikasi, dan berbagai hal menyangkut perangkat komputer. Sementara bila siswa mendapatkan pelajaran komputer dari guru mata pelajaran lain, siswa cenderung konsumtif karena hanya menikmati berbagai aplikasi guru yang diterapkan guru saat mengajar.

“Jadi siswa hanya dididik menjadi konsumen dan bukan sebagai produsen. Kalau dalam kurikulum 2013 hanya siswa yang aktif saja yang selalu konsultasi tentang ilmu komputer dan komunikasi, sementara yang pasif tak pernah mereka berusaha untuk memahaminya,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Hari tetap berharap pelajaran TIK bisa dimasukkan kembali dalam pelajaran kurikulum 2013. Ia menyadari tanggung jawab yang diembannya akan lebih berat dan lebih banyak bila pelajaran TIK diajarkan pada siswa. Namun demi kepentingan siswa, ia memilih menjadi salah satu responden survei yang menyetujui TIK menjadi bagian dari kurikulum 2013.

“Survei ini untuk masyarakat umum, orang tua siswa, guru, atau pun siswa itu sendiri. Bila ada yang mau berpartisipasi silahkan buka format survei di https://goo.gl/iSm0cN. Link lain bisa juga di buka pada http://gg.gg/save4tik atau http://bit.ly/save4tik,” pungkasnya. (S. Yanto)

Komentar

Komentar