Pelajar Petir Harus Mendaki Bukit Tinggi Agar Dapat Kerjakan Tugas Sekolah Online

oleh -
salah satu pelajar di Desa Petir, Kecamatan Rongkop mengerjakan tugas sekolah secara online di puncak bukit. (istimewa)

RONGKOP, (KH),– Semenjak terjadi pandemi Coronavirus Diseae 2019 (Covid-19) siswa sekolah diharuskan belajar di rumah. Kegiatan pembelajaran online ditempuh agar penularan Covid-19 tidak semakin menjadi.

Para pelajar mengakses materi dan tugas dari guru melalui aplikasi komunikasi daring dan platform yang umum dipakai seperti Google Classroom. Sayangnya, pelajar di wilayah tertentu di Gunungkidul yang secara geografis terpencil tak dengan mudah dapat mengikuti pembelajaran online itu.

Sepertihalnya pelajar di Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Karena beberapa titik wilayah jaringan selulernya masih lemah, membuat pelajar tak dapat mengerjakan tugas dari rumah masing-masing.

“Siswa harus naik bukit yang tinggi agar memperoleh sinyal,” kata Kepala Desa Petir, Sarju, Senin, (4/5/2020).

Dirinya mengungkapkan, kondisi blank spot memang masih terjadi di beberapa titik di wilayahnya. Sehingga agar kegiatan pembelajaran secara online dapat berlangsung, naik ke gunung kapur mau tak mau harus ditempuh.

Kepala Dusun Petir B, Warsina membenarkan. Setidaknya ada sekitar 21 siswa di wilayahnya mulai dari jenjang SD hingga SMA setiap hari efektif bersama-sama mendaki bukit untuk mengakses pembelajaran.

“Naik bukit atau Gunung Temulawak cukup tinggi. Letaknya di sebelah selatan padukuhan,” kata Warsina.

Salah satu pelajar yang masih duduk di bangku SMP, Alodia Daffa Sinanta menuturkan, dirinya harus menempuh perjalanan jalan kaki sekitar 250 meter untuk sampai di kaki bukit. Ia dan teman-teman sedaerah kemudian naik ke puncak Bukit Temulawak untuk memperoleh sinyal. Terkadang, Alodia terpaksa berangkat sendiri jika pelajar lain tidak mendapat tugas dari guru.

Di atas bukit dirinya memilih tempat yang agak teduh untuk mengikuti pembelajaran atau menerima tugas. Biasanya ia mengerjakan tugas kemudian mengirimkan jawabannya kepada guru pengampu.

“Ya capek, soalnya kadang-kadang bawa buku banyak terus naik gunung. Apalagi saat puasa seperti saat ini,” keluh Alodia.

Komentar

Komentar